Keberadaan media sosial tidak dapat dipungkiri telah menjadi bagian dari kehidupan saat ini. Hampir setiap orang memanfaatkan gudget untuk mengikuti perkembangan informasi, semenjak terbangun dari tidur hingga menutup hari. Lekatnya media sosial dalam kehidupan membutuhkan adanya edukasi, khususnya bagi para generasi milenial untuk menghindari dampak negatif dari konten media sosial.

Bidang Humas Universitas Islam Indonesia (UII) berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UII mengadakan workshop dengan tema How to Create Impactful Media di Auditorium Prof. K.H. Abdulkahar Mudzakkir pada Kamis (28/11). Tiga narasumber dihadirkan dalam workshop yakni co-founder narasi tv Dahlia Citra dan duo budjang, Mario dan Edha yang merupakan creator narasi tv. Dahlia Citra banyak mengulas tentang creative impactful journalism. Sementara duo budjang mengupas perbedaan radio, podcast dan youtube.

Dahlia Citra mengawali materinya dengan berbagi alasan dibalik pembuatan narasi tv. Tahun 2017 menjadi awal bagi narasi tv yang merupakan buah pikiran dari Mbak Cit dan kawan-kawan yang menyadari cara masyarakat mengonsumsi media telah berubah, kini telah beralih ke dunia digital.

Dahlia Citra mengaku sangat percaya diri turut membuat narasi karena pesatnya perkembangan teknologi. Selain itu keresahannya akan konten-konten yang marak diproduksi saat ini tidak diimbangi dengan kualitas untuk mendidik. Bahkan diperparah dengan konten-konten yang tidak terkonfirmasi dengan menyebarkan berita bohong. Hal itu memberikan ruang untuk menyebaran ujaran kebencian.

“Narasi mencoba hadir sebagai media alternatif yang menawarkan konten yang memiliki konteks. Kami berfikir sudah saatnya kami berkecimpung di dunia pertelvisian membuat warna lain,” imbuhnya.

Dihadapan para audience Dahlia Citra menyampaikan bahwa narasi merumuskan tiga nilai seperti anti korupsi, toleransi dan partisipasi. Dalam penuturannya, program-program di narasi didesain agar memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik. Ia memaknai jurnalistik bukan sebagai profesi tetapi sebagai value yang harus terpenuhi. Penekanan tiga value ini ia harapkan dapat membawa perubahan dalam dunia digital di Indonesia.

“Konten yang kami buat harus memenuhi kaidah jurnalistik dan memberikan konteks. Kami berusaha melakukan komunikasi dua arah degan memberikan wadah untuk berpartisipasi dengan berbagai cara yang dikemas secara kreativ,” jelashya.
Disampaikan Dahlia Citra narasi memenuhi tiga “mantra” yaitu konten, komunikasi dan kolaborasi. Kolaborasi sangat penting untuk dilakukan agar tujuan bersama dapat semakin cepat tercapai.

Pencarian talenta muda di awal pendirian narasi mempertemukannya dengan duo budjang. Dahlia Citra bercerita saat itu sedang bulan Ramadhan dan kerap terjadi fenomena intoleransi. Melalui konten yang dibawakan oleh duo budjang, yang memiliki banyak perbedaan diantara Mario dan Edha mengatarkan narasi untuk menyampaikan value toleransi untuk dimasyarakatkan.

Creator narasi tv, Mario dan Edha memulai penjelasannya bagaimana awal mula membuat podcast. Keduanya mulai berkarya membuat podcast pada tahun 2017 yang saat itu konsumsi audio naik mencapai 50% di Amerika Serikat dan kini pendengar podcast di Indonesia mencapai 80,82 %. Disisi lain, bagi mereka kekuatan audio jauh lebih besar dibanding yang lain. Pembuatan audio jauh lebih berproduktif karena dapat diselingi dengan kegiatan yang lain.

Mario dan Edha bermimpi dengan adanya podcast dapat memberikan kesempatan bagi orang yang tidak beruntung dalam mengenyam pendidikan. Meraka dapat belajar melalui konten edukasi podcast. Dalam kesempatannya, Mario dan Edha memberikan dorongan bagi generasi muda untuk membuat podcast.

“Membuat podcast bukanlah hal yang rumit, tetapi dapat dibuat dengan mendekomentasikan kehidupan diri sendiri. Dalam berkarya dibutuhkan konsistensi,” tambah Mario.