Kajian tentang masa depan Islam di Indonesia saat ini sedang ramai diperbincangkan, terutama di ranah akademik. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Indonesia akan bangkit sebagai negara yang menjadi model pertemuan Islam, kemajuan ekonomi dan perkembangan demokrasi yang positif. Sejak wacana ini digelontorkan, masyarakat sipil dan pemerintahan Indonesia ini dengan memperkenalkan beberapa konsep, semisal Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan.

Namun, dalam ranah kultural, tak banyak pameran yang membahas tentang masa depan Islam di Indonesia. Sebagai upaya untuk mengisi kekosongan tersebut, Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam lndonesia (UII) mengadakan pameran bertemakan masa depan Islam di Indonesia. Pameran ini bertujuan untuk menawarkan perbincangan baru yang realistis namun optimistis tentang Islam di Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada, Hadza Min Fadhli Robby, S.IP., M.Sc. dalam pembukaan Pameran Masa Depan Islam di Indonesia, Senin (15/7) di Gedung Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Selain itu, Hadza menambahkan pula bahwa pameran ini diharapkan bisa menjadi penyegar di tengah hiruk-pikuk yang tak usai tentang pemilu dan Islam politik. “Kami lngin mengajak khalayak umum, dari anak TK sampai paruh baya, untuk berbincang mengenai kemana Indonesia dan umat Islam Indonesia akan menuju,” ungkap Hadza.

Pameran yang berlangsung dari 15 Juli hingga 15 Agustus 2019 di Auditorium Gedung Yayasan Badan Wakaf UII ini dibuka oleh Prof. Dr. Mahfud MD, S.H., S.U. Pada pidato pembukaannya, Prof. Mahfud MD mengatakan Indonesia saat ini tengah berkembang menuju negara islami. “Berbeda antara negara Islam dengan negara Islami. Islami artinya lebih menunjuk pada sifat. Karena ada negara Islam yang tidak Islami dan ada negara bukan negara Islam tetapi Islami,” ujarnya.

Prof. Mahfud MD menambahkan negara yang Islami ini bercirikan antara lain masyarakat dan pemerintahnya yang jujur, taat hukum dan sebagainya. Ajaran Islam dari zaman sebelum kemerdekaan telah didakwahkan melalui dua jalur, yakni jalur struktural dan non-struktural. Struktural disini melalui kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan pada zaman itu yakni kerajaan seperti yang dilakukan Walisongo. Sedangkan non-struktural diluar lingkup kerajaan seperti melalui budaya yang dilakukan Sunan Kalijaga.

“Kita ketahui dulu Sunan Kalijaga dakwahkan Islam melalui wayang yang lebih mudah dipahami masyarakat saat itu, sehingga perkembangannya hingga saat ini banyak ajaran-ajaran Islam yang bisa menjadi gaya hidup,” ujarnya.

Sementara itu Dr. M. Najib Azca, Ph. D., mengatakan pentingnya melihat dan mempelajari perkembangan Islam dari masa lalu dan masa kini, dalam melihat bagaimana masa depan Islam di Indonesia. Melihat perjuangan cendekiawan muslim agar dijadikan fondasi dalam melihat perkembangan Islam ke depan. Ini dikarenakan perkembangan Islam hingga saat ini tidak lepas dari perjuangan cendekiawan muslim pada masa lalu.

“Bagaimana dalam membincang masa depan ini tidak bisa lepas dari masa lampau dan masa kini. Dengan fondasi yang kuat perkembangan Islam di Indonesia akan semakin baik,” ungkapnya. (ENI/RS)