Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan ampunan dan berkah. Semua orang berlomba-lomba mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk meraih ridho-Nya. Tetapi bagaimana jika ini merupakan Ramadan yang terakhir bagi kita?. Amalan-amalan apa saja yang patut dikejar dalam bulan Ramadan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini begitu saja. Hal inilah yang dibahas dalam kajian Spesial Senja Safari Iman Ramadhan 1440 yang dibawakan Ust. Moh. Mizan Habibi, S.Pd.I., M.Pd.I. Kajian digelar pada Sabtu (25/5) di pelataran Auditorium Abdul Kahar Muzakkir UII.

“Karena kita tidak mengetahui masa depan, maka yang bisa kita lakukan hanyalah yakin. Kita boleh meyakini tapi kita tidak mempunyai peluang untuk memastikan karena satu-satunya yang bisa memastikan hanyalah Allah.” ucap Mizan.

Mizan juga mengungkapkan bahwa berhusnudzon dengan prasangka adalah hal yang penting. Karena prasangka adalah sesuatu yang belum pasti, di mana baik prasangka baik maupun buruk sama-sama belum pasti. “Tetapi kita sering kali lebih menikmati bersuudzon ketimbang berhusnudzon. Lantas jika sama-sama belum pasti mengapa kita tidak memilih untuk berhusnudzon sembari meminta kepada Allah mudah-mudahan Dia bertindak sesuai dengan prasangka hambanya”, terangnya.

Menurutnya ada satu hal yang dapat menjawab akankah seseorang masih diberikan umur panjang yakni bahwa harus yakin kepada Allah dan terus berdoa. Sebab tujuan Allah mensyariatkan puasa adalah agar umatnya menjadi hamba yang bertakwa. “Ada beberapa indikasi orang yang bertakwa salah satunya seperti orang-orang yang percaya pada sesuatu yang ghaib.”, tambahnya.
Masa depan termasuk sesuatu yang ghaib karena masih gelap tidak terlihat maka dari itu seorang muslim harus berjuang mencari cahaya-Nya.

“Lantas bagaimana caranya? Yakni dengan mencari ilmu pengetahuan dan perbanyak dzikir agar batin kita tidak sumpek. Indikasi yang kedua adalah yakni orang-orang yang mendirikan shalat dan yang ketiga adalah orang yang menginfakkan sebagaian rizki. Orientasi ibadah yang dilakukan akan menghasilkan kesalehan individu dan sosial yang sifatnya ada yang vertikal yakni berhubungan langsung dengan Allah dan juga secara horizontal yakni hubungan sesama manusianya”, pungkasnya. (DRD/ESP)