• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Indeks Berita2 / Berita Kegiatan3 / Menafsirkan Kembali Sistem Khilafah Islam
Berita Kegiatan

Menafsirkan Kembali Sistem Khilafah Islam

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII menyelenggarakan diskusi bertema “Fondasi Dan Ekspansi Imperium Ottoman” pada Kamis (13/2) di Gedung Prof. Dr. Ace Partadiredja UII. Diskusi ini menghadirkan narasumber Prof. Dudung Abdurrahman, M.Hum dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Suwarsono Muhammad, MA selaku Ketua Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia.

Disampaikan Heri Sudarsono S.E., M.Ec selaku ketua penyelenggara, diskusi ini merupakan program awal di tahun 2020 di antara program lain seperti Conference in Islamic Economic, Management and Finance yang juga menjadi program di awal tahun 2020. Menurutnya belajar sejarah sangat menarik karena di dalam jurusan ekonomi sendiri tidak dijumpai pelajaran sejarah ekonomi dan sosial Islam.

Sementara, Prof. Dudung Abdurrahman menyampaikan Dinasti Turki Usmani atau imperium ottoman berhasil membangun kesultanan terbesar dalam sejarah Islam. Wilayahnya membentang menjadi tiga garis besar yakni negara-negara Balkan seperti Yugoslavia, Albania, Yunani, Bulgaria, Serbia, dan sebagian besar Rumania; Anatolia (Turki); dan Arab yang meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina, Iraq, Kuwait, Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, dan sebagian Semenanjung Arabia.

“Mayoritas penduduknya adalah Muslim dengan kelompok minoritas terbesar adalah Kristen yang mendominasi wilayah Balkan serta warga Yahudi yang terserak di berbagai wilayah di Timur Tengah dan Afrika Utara. Terjadi juga migrasi ulama dari Mekah dan Madinah ke Istanbul”, ujarnya.

Realitas multikultural yang ada di dinasti ini didasarkan pada kultur yang cosmopolitan ditambah dengan kultur bangsa eropa. Prosa dan syair-syair banyak dikembangkan dalam berbagai bahasa termasuk dalam bahasa Persia. Maulana Jalaludin Rumi, seorang sastrawan dan sufi yang terkenal dari dinasti Ottoman banyak melahirkan puisi dan syair islami.

Sedangkan Ketua Yayasan Badan Wakaf UII, Suwarsono Muhammad menggarisbawahi sintesa antara Tesis Ghazi dan Pragmatisme. Tesis Ghazi berasal dari bahasa Turki Ottoman : غزا , ġazā , “perang suci,” atau sekadar “penyerbuan”) yang dirumuskan oleh Paul Wittek untuk menginterpretasikan sifat dari Ottoman.

“Menurut tesis Ghazi, Utsmani menyelesaikan ini dengan menarik calon untuk berperang demi mereka atas nama perang suci Islam melawan orang-orang yang tidak beriman. Pejuang seperti itu dikenal di Turki sebagai ghazi sehingga Ottoman awal disebut sebagai “Negara Ghazi,” yang didefinisikan oleh ideologi perang suci. Tesis ini mendominasi historiografi Utsmani sebelum mendapat kritik yang lebih dikenal dengan mazhab pragmatisme”, terangnya.

Selanjutnya, ia juga berpendapat bahwa saat ini lebih relevan menafsirkan kekhalifahan layaknya seperti OKI atau PBB yang saling bekerja sama satu sama lain untuk membentuk sebuah kesejahteraan dan perdamaian. Sebagaimana negara-negara di Eropa juga membangun sistem pemerintahan bersama seperti Uni Eropa. Menurutnya hal itu lebih relevan karena pemerintahan absolut seperti dinasti justru akan dilanda kemelut konflik yang brutal.

Ia pun berpesan agar umat Islam terus meningkatkan kejayaannya lewat kekayaan ilmu pengetahuan. “Kaya dan ideologis, bukan ideologis saja tapi miskin yang hanya bisa marah-marah dan tidak bertindak. Kerjasama juga penting dilakukan dengan bergantung untuk maju bukan sendiri-sendiri”, pungkasnya. (HN/ESP)

15 Februari 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/02/diskusi-ekonomi-UII-2.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/12/Logo-Web-80-1.png humas2020-02-15 15:16:432020-02-27 15:25:48Menafsirkan Kembali Sistem Khilafah Islam

Berita Terakhir

  • UII Dorong Produktivitas Publikasi Ilmiah Melalui Pelatihan Pemanfaatan Agentic AI
  • Hadirkan Teknologi LC-MS/MS Mutakhir, UII Gelar Workshop dan Resmikan Kolaborasi Industri
  • CILACS UII Jadi Rujukan UM Gresik dalam Pengembangan Tes Kompetensi Bahasa Arab
  • Seameo Biotrop Perkuat Kolaborasi Regional Untuk Mendorong Implementasi Circular Economy Melalui Pendidikan Dan Inovasi
  • UII Lantik Dekan dan Wakil Dekan Periode 2026–2030, Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Adaptasi Zaman

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Rendahkan Sayapmu Link to: Rendahkan Sayapmu Rendahkan Sayapmu Link to: Sri Hastuti Puspitasari Raih Gelar Doktor Link to: Sri Hastuti Puspitasari Raih Gelar Doktor Sri Hastuti Puspitasari Raih Gelar Doktor Scroll to top Scroll to top Scroll to top