,

Mengamati Gerhana Bulan dari Masjid Ulil Albab

Bertempat di Masjid Ulil Albab, Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII melalui Takmir Masjid Ulil Albab, bekerjasama dengan Pusat Kajian dan Bantuan Hukum Islam (PKBHI) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII menggelar kegiatan “Gerakan Shalat Gerhana” dan observasi gerhana bulan total pada Rabu (31/1) malam. Ratusan jamaah memadati Masjid Ulil Albab yang berlokasi di Kampus Terpadu UII untuk menunaikan shalat sunnah gerhana bulan sekaligus menyaksikan peristiwa yang langka tersebut.

Serangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Prof. Dr. Amir Mu‘alim M.I.S., selaku Ketua Program Studi Ahwal Syakhshiyyah. Dalam sambutannya, Ia mengingatkan terkait perintah mengenai penyelenggaraan shalat gerhana, ketika terjadi fenomena yang langka tersebut, karena hal tersebut merupakan keajaiban dan kekuasaan Allah SWT. “Kita akan sama-sama menyaksikan keajaiban Allah pada malam hari ini,” ujarnya.

Selain Prof. Dr. Amir, turut hadir sebagai narasumber, Drs. Shofwan Jannah M,Ag, selaku pakar ilmu falak UII, yang pada kegiatan tersebut berkesempatan memberi pemaparan singkat mengenai ilmu falak, serta observasi gerhana yang akan dilakukan. Ia menjelaskan pentingnya ilmu falak dalam Islam, karena bersinggungan langsung dengan praktik ibadah umat Islam.

“Ilmu falak adalah ilmu mengenai peredaran benda-benda langit yang berkaitan langsung dengan ibadah kaum muslimin,” tegasnya. Lebih lanjut Ia menambahkan bahwa ilmu falak berkontribusi dalam penentuan awal bulan, penentuan jadwal shalat, penentuan arah kiblat serta perkiraan waktu gerhana.

Dalam pemaparannya, Shofwan Jannah memproyeksikan kepada jamaah yang hadir mengenai observasi gerhana bulan total yang akan dilakukan dengan bantuan software simulasi. Terdapat info penting dan menarik yang Ia sampaikan, bahwa peredaran bulan juga bisa digunakan sebagai petunjuk untuk mengkalibrasi arah kiblat. “Pada dini hari nanti, (Kamis, 1/2) pukul 3 lewat 13, itu posisi bulan persis di arah kiblat. Maka ketika kita melihat bulan, itu adalah posisi kiblat dan itu persis ke tengah ka’bah,” ujarnya.

Setelah rangkaian materi dan persiapan pengamatan, acara dilanjutkan dengan shalat sunnah gerhana bulan secara berjamaah yang dilaksanakan selepas shalat Isya. Shalat sunnah berjamaah diimami oleh Prof. Hamidullah Marazi, salah satu dosen tamu dari Central University of Kashmir Srinagar, India, yang juga bertindak sekaligus sebagai khatib.

Dalam khutbahnya Ia menyinggung peristiwa gerhana yang terjadi pada waktu wafatnya anak dari Nabi Muhammad Saw yang bernama Ibrahim. Pada masa itu, kaum muslimin mengira bahwa gerhana bulan tersebut disebabkan oleh wafatnya Ibrahim. Akan tetapi secara tegas Nabi Muhammad SAW, membantah hal tersebut dengan mengatakan bahwa bulan dan matahari merupakan bukti ke-Esaan Allah, dan peristiwa gerhana tersebut tidak ada kaitannya dengan lahir atau matinya seseorang.

Dalam khutbahnya, Prof. Hamidullah juga menjelaskan bahwa agama Islam adalah agama rasional yang integratif. Bahkan banyak ulama Islam terdahulu yang juga sangat mahir dibidang sains. Oleh karenanya, Islam sejalan dan tidak bertentangan dengan sains. “Islam doesn’t oppose scientific facts,” tegasnya.

Sebagai rangkaian akhir dari kegiatan, digelar pengamatan gerhana bulan total yang dilakukan bersama-sama. Di sebelah Timur Masjid Ulil Albab, para jamaah yang hadir diperkenankan secara mandiri mengamati gerhana dengan teleskop pengamat yang telah disediakan Tim PKBHI Program Studi Ahwal Syakhshiyyah. (MIH/RS)