• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menjadi Seorang Diplomat
Berita Kegiatan

Menjadi Seorang Diplomat

Jiwa mukmin - UII - berita kontrol kehamilan

Diplomat dituntut untuk bisa menjadi whole package. Menjadi negosiator, ekonom, budayawan, politikus, namun tetap dengan tampilan yang elegan. Hal ini dikemukakan Azis Nurwahyudi, S.IP., M.M., M.A. dalam Career Seminar: Set your career for your bright future yang diadakan oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FPSB UII) pada Senin, (24/8) secara daring.

Tugas diplomat sendiri umumnya terbagi menjadi empat, yakni representing, promoting, protecting, dan reporting. Diplomat muda mewakili berbagai urusan dan pertemuan diplomatik. “Seorang diplomat tidak mewakili pribadi, namun mewakili negara,” tuturnya. Artinya seluruh gerak-gerik dan tampilan seorang diplomat haruslah pantas di mata dunia. Lebih lanjut, seorang diplomat, kata Azis, dapat mengadakan kegiatan yang mempromosikan kebudayaan, ekonomi, ataupun pendidikan Indonesia.

“Tugas seorang diplomat yang lain adalah melindungi warga negara Indonesia di negara setempat, melalui pendampingan secara hukum serta melaporkan kondisi terkini ekonomi, atau sosial-politik negara setempat kepada negara pusat,” sebutnya.

Lantas bagaimana bila justru diplomatlah yang terjerat hukum? Merespon ini, Azis menjawab bahwa seorang diplomat memiliki hak imunitas dimana ia tidak akan diadili dengan hukum setempat, namun akan dipulangkan ke negara asal.

Menjadi seorang diplomat merupakan mimpi yang didambakan sebagian orang. Azis, lalu, membongkar apa yang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang diplomat selain lulus ujian masuk PNS, dan memiliki nilai TOEFL atau IELTS yang mumpuni. “Minimal lulusan sarjana,” ungkapnya singkat. Walaupun beberapa jurusan seperti Hubungan Internasional (HI), komunikasi, sastra, manajemen, dan politik diprioritaskan, lantas bukan berarti jurusan lain tidak memiliki kesempatan untuk tergabung menjadi diplomat. Justru, kata Azis, diplomat pada prosesnya akan belajar banyak hal yang bahkan berbeda sama sekali dari jurusan yang telah ditempuh selama sarjana. Lebih lanjut, Azis menjelaskan prestasi menunjang juga akan membantu pendaftar seperti pengalaman berorganisasi. “Pengalaman ini tidak dapat diperoleh dalam satu malam” tuturnya. Sehingga terlihat mana pribadi yang terbiasa bekerja dala sistem dan mana yang tidak.

Terdapat delapan gelar diplomatik yang dapat dijadikan jenjang karir seorang diplomat. Yakni, Atase, Sekretaris Ketiga, Sekretaris kedua, Sekretaris Pertama, Counsellor, Minister Counsellor, Minister, dan Duta Besar

“Mulai dari Atase hingga Sekretaris Pertama, proses kenaikannya dinilai melaui ujian,” jelasnya. Sedangkan mulai dari counsellor hingga duta besar penilaiannya tidak lagi melalui ujian, namun melalui kinerjanya, yang tiap posisinya dapat berdurasi rata-rata empat tahun sekali untuk naik jabatan. “Jika diakumulasikan mungkin membutuhkan sekitar tiga puluh tahun bagi seorang diplomat muda menjadi duta besar,” tutur Azis.

Dengan bekerja atau ditempatkan di lokasi yang minim anggota, diplomat muda dituntut bisa menjadi whole package. Artinya dapat merangkap menjadi apa saja. Azis mengaku sempat menjadi model dalam membantu mempromosikan kegiatan kebudayaan, dan di waktu yang berbeda menjadi seksi bersih-bersih paska acara.

Kendati diplomat siap ditempatkan dimana pun, Azis justru melihat banyak diplomat muda yang beradrenalin tinggi untuk ditempatkan di wilayah rawan konflik. Salah satunya adalah rekan Azis yang sempat bertugas mengendarai bis untuk menyelamatkan Warga Negara Indonesia dari daerah rawan konflik. Permasalahan lainnya adalah seperti ketika ada kejadian bom bali di Indonesia yang membuat rekan diplomat harus menghadapi media luar negeri. Diplomat tentu harus mengonfirmasi isu yang beredar secara diplomatis dan jelas.
Meskipun begitu, Azis mengaku bahwa Indonesia memiliki banyak diplomat yang berprestasi di dalam Kementerian Luar Negeri. “Miliki kekhususan,” tuturnya. Yang mencirikan pribadi seorang diplomat. “Dapat berupa ahli diplomasi publik, ahli ASEAN, ahli kebudayaan, ahli isu perekonomian, dll,” tutur Azis. Nilai ini, yang menurutnya menjadi pembeda antara satu diplomat dan yang lain, strategi to stand out of the crowd. (IG/RS)

25 Agustus 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Kampus_UII-3.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-08-25 12:13:172020-08-25 12:17:12Menjadi Seorang Diplomat

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Gus Baha: Agama Islam Mudah Dipahami Link to: Gus Baha: Agama Islam Mudah Dipahami Gus Baha: Agama Islam Mudah DipahamiPernyataan Sikap UII Link to: UII Kampus Yang Menyenangkan Bagi Mahasiswa Asing Link to: UII Kampus Yang Menyenangkan Bagi Mahasiswa Asing UII Kampus Yang Menyenangkan Bagi Mahasiswa Asing Scroll to top Scroll to top Scroll to top