• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Muslim Perlu Merekonstruksi Sejarah Lampau
Berita Kegiatan

Muslim Perlu Merekonstruksi Sejarah Lampau

Direktorat Layanan Akademik Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Studium Generale secara daring mengangkat tema “Perkembangan Peradaban Islam”. Studium generale yang dihelat pada Sabtu (26/6) ini diperuntukkan bagi mahasiswa Program Doktor, Magister, dan Profesi di lingkungan UII dengan menghadirkan pembicara Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.

Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan Islam pernah mengalami Zaman Keemasan antara 850 M dan 1250 M. Kejayaannya mengalahkan bangsa Eropa yang kala itu berada pada Zaman Kegelapan. Ada beberapa faktor yang membawa kejayaan Islam dahulu, diantaranya adalah kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Namun saat ini menurut Fathul Wahid, muslim cenderung tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sejarah tidak berulang dengan sendirinya, perulangan sejarah membutuhkan aktor yang mendorongnya. Karenanya ia mengajak para intelektual muda mahasiswa UII untuk melakukan refleksi atas sejarah peradaban Islam di masa lalu.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah melakukan rekontruksi sejarah lampau. Rekonstruksi adalah proses intelektual, ada elemen lama di sana, tetapi dilengkapi dengan eleman kontekstual sesuai kebutuhan masanya,” jelas Fathul Wahid.

“Ini berbeda dengan proses repoduksi yang bersifat mekanistik dan menyalin masa lalu apa adanya. Ini juga akan menjadikan muslim tidak beranjak dari tempatnya karena hidup di bawah bayang-bayang masa lalu,” imbuh Fathul Wahid.

Sementara Komaruddin Hidayat yang mrupakan Rektor Universitas Islam Internasional Jakarta mengemukakan Arab dulu sebelum adanya Islam termasuk negara yang terbelakang. Hingga lahirnya agama Islam dengan diturunkan Nabi Muhammad menjadikannya negara yang masyhur melalui peradaban muslim.

Ia menjelaskan, peradaban tersebut tidak lepas dari sifat umat Islam yang inkusif, percaya diri, apresiatif terhadap agama lain. Artinya peradaban yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad merupakan yang paling tinggi.

“Pertama kali Islam mengajarkan mengenai tauhid yang saat itu dianggap sebagai ide subversif, sehingga ditentang dengan begitu keras. Lalu yang kedua adalah mengangkat kemanusiaan universal yang dahulu dibawah kekuasaan kabilah,” terang Komaruddin Hidayat.

Ide yang sangat revolusioner yang dibawa oleh Islam adalah sifat rahmatan lil ‘alamin. “Civic values yang dibawa oleh sejarah Islam dengan munculnya istilah muhajirin dan anshar mirip dengan Indonesia yang bukan nation based of ethnicity, sebab Indonesia bukan tentang suku Jawa saja,” katanya.

Artinya keberagaman itu diikat dengan nilai kesopanan berupa Pancasila jika di Indonesia, sedangkan Al Quran untuk kaum muslim. “Meski dahulu Alquran belum berbentuk mushaf seperti sekarang, tetapi Alquran menyatu langsung dengan jiwa umat Islam,” jelasnya.

Ajaran Alquran bersifat inklusif yang mengenalkan hubungan ajaran para nabi sebelumnya,” Hal tersebut memecahkan jiwa pride suku Arab yang sangat bersifat kesukuan,“ imbuh Komaruddin.

Sikap keterbukaan Islam pasca nabi mulai membawa peradaban baru, seperti administrasi, militer, dan filsafat. Namun, di saat yang sama muncul kembali ideologi kabilahisme seperti Bani Umayyah,” Pemikiran ilmu Islam dahulu sangat dipengaruhi oleh Yunani. Sampai ada yang bilang jika tidak ada filsafat Islam, adanya filsafat Yunani,” paparnya.

Perpecahan politik dunia Islam membuat melemahnya etos filsafat keilmuan,” Saat ini keilmuan yang bertahan adalah ilmu fiqih dan tasawuf.” jelasnya.

Majunya peradaban muslim sangat erat hubungannya dengan pengaruh politik,” Seharusnya agama menjaga jarak dengan politik. Seperti Protestan yang maju karena jaraknya dengan politik,“ tandas Komaruddin.

Macam-macam ilmu yang berkembang seperti ilmu alam, ilmu sosial, dan teologi sebetulnya membahas mengenai ayat-ayat Tuhan tetapi dengan metode yang berbeda, “Namun cabang ilmu selain teologi dan fiqih dianggap sebagai ilmu sekuler,” jelasnya.

Untuk menulis kembali sejarah kejayaan Islam, muslim haruslah menghargai kemanusiaan universal. Tapi, faktanya dalam Islam justru senang sekali mengkafirkan, menyempitkan keberagaman dalam kehidupan beragama. Selain itu juga harus apresiasi terhadap kebenaran dalam banyak hal karena muslim merupakan umat yang paling beruntung dengan adanya ajaran Nabi Muhammad. Jangan memisah antara ilmu agama dan ilmu umum menjadi ilmu Islam dan non-Islam. (UAH/RS)

29 Juni 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/06/Rektor-UII-Prof-Fathul-Wahid-S.T.-M.Sc_.-P.hD_..jpg 450 802 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-06-29 09:42:162021-06-29 09:42:16Muslim Perlu Merekonstruksi Sejarah Lampau

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Perangi Narkotika, Lindungi Anak Bangsa Link to: Perangi Narkotika, Lindungi Anak Bangsa Perangi Narkotika, Lindungi Anak Bangsa Link to: UII dan Mahkamah Agung Jalin Kerjasama Link to: UII dan Mahkamah Agung Jalin Kerjasama Pernyataan Sikap UIIUII dan Mahkamah Agung Jalin Kerjasama Scroll to top Scroll to top Scroll to top