• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Persiapan Perang Ghazwah Mut’ah
Berita Kegiatan

Persiapan Perang Ghazwah Mut’ah

Ustadz Sulaiman Rasyid, S.T. kembali dihadirkan dalam kajian rutin bersama Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) pada Kamis (13/8). Kajian yang bertemakan The Greatest War: Ghazwah Mut’ah ini dilaksanakan secara daring. Dalam kajiannya, Ustadz Sulaiman Rasyid menyampaikan peperangan yang terjadi pada bulan Jumadil ‘Ula di musim panas tahun ke-18 Hijriah di Mu’tah, yakni sebuah desa di perbatasan Syam, yang sekarang bernama Kirk. Jarak antara desa tersebut dengan Mu’tah adalah 1.100 km.

Pemicu peperangan adalah terbunuhnya Al Harits bin Umair al-Azdi, utusan Rasulullah Saw kepada Raja Bashrah, Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani untuk mengirim surat. Namun, Syurahbil menolak surat tersebut dan membunuh Harits. Padahal dalam perjanjian perang dilarang membunuh utusan, termasuk di sini adalah pengirim surat, konselar, dan sebagainya. “Jika utusan dibunuh, tandanya mengajak perang,” ucap Ustadz Sulaiman Rasyid.

Mendengar kabar tersebut, Rasulullah Saw langsung menyerukan kaum muslimin pergi ke Syam. Pasukan muslim berjumlah tiga ribu orang, tanpa Rasulullah Saw. Dengan demikian, perang ini bukan dinamakan ghazwah, melainkan sariyah. “Perang dibagi dua, Sariyah perang tanpa Rasul berjumlah kurang dari 100 pasukan dan perang Ghazwah yang berjumlah lebih dari 100 pasukan termasuk Rasul. Sebab perang ini lebih dari 100 maka dinamakan Ghazwah walaupun tanpa Rasul,” jelas Ustadz Sulaiman.

Dalam persiapan pemberangkatan, Rasulullah Saw berpesan kepada pasukan, “Yang bertindak sebagai Amir (panglima perang) adalah Zaid bin Haritsah. Jika Zaid gugur atau terluka, Ja’far bin Abu Thalib penggantinya. Bila Ja’far gugur atau terluka, Abdullah bin Rawahah penggantinya. Jika Abdullah bin Rawahah gugur atau terluka, hendaklah kaum Muslimin memilih penggantinya.”

Rasulullah Saw juga berpesan kepada pasukan agar terus meminta pertolongan Allah SWT dan selalu mengedepankan pesan damai untuk mengikuti jalan kebenaran.

Ustadz Sulaiman Rasyid menyatakan alasan Rasulullah Saw mengirim 3.000 pasukan, sebab beliau sudah merasakan bahwa perang tersebut akan menjadi perang besar. Dugaan Rasulullah Saw sangatlah tepat, sebab Heraklius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi, sedangkan Syurahbil bin Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri atas kabilah Lakham, Judzan, Qain, dan Bahra’. “Bayangkan saja, 200.000 lawan 3.000. Dari segi jumlah personil dan senjata, kekuatan musuh jauh lebih besar dari kekuatan kaum Muslimin,” sebut Ustadz Sulaiman Rasyid.

Sedangkan alasan Rasulullah Saw tidak bergabung di peperangan menurut kisahnya oleh Ustadz Sulaiman Rasyid adalah sebab Rasulullah Saw memiliki kebutuhan yang lebih penting, yakni mengurusi kebaikan umat muslim, sebab kemaslahatan untuk mengurusi kebaikan orang-orang muslim. Selain itu, para sahabat tidak ridho kalau Rasulullah berperang namun dirinya tidak. “Sahabat mencintai Rasulullah melebihi cinta kepada dirinya sendiri,” ungkap Ustadz Sulaiman Rasyid.

Adapun sahabat yang tidak turut serta dalam peperangan dalam sebutan Ustadz Sulaiman Rasyid adalah Ali ibn Abi Thalib karena diminta untuk menjaga para wanita, anak-anak, dan orang-orang Madinah yang tinggal. Terdapat pula Umar bin Khatab, abu Hurairah, dan beberapa sahabat lain yang tidak ikut berperang karena sedang menuntut ilmu, mengurusi orang tua, dan lain sebagainya. “Landasan nabi ikut dan tidak ikut adalah seling-selingan, misal Khaibar berangkat, mu’tah tidak. Selingannya bisa berangkat tidak lalu berangkat atau berangkat dua kali, lalu tidak dua kali,” jelas Ustadz Sulaiman Rasyid.

Ustadz Sulaiman Rasyid menyatakan keutamaan dalam persiapan perang Mu’tah terdiri atas keberanian Rasulullah Saw memberangkatkan pasukannya berjumlah 3.000 tanpa dirinya, menunjuk tiga panglima peperangan sekaligus padahal biasanya hanya ditunjuk satu panglima, menunjuk mantan budak Zaid bin Haritsah sebagai panglima pertama dan sepupu Rasul Ja’far bin Abu Thalib sebagai panglima kedua, penyebutan Zaid dalam Q.S Al-Ahzab ayat 37.

Ja’far merasa tidak yakin akan kekuatan Zaid sekaligus tidak terima dirinya menjadi panglima kedua, maka ia mendatangi Rasulullah. Namun, dalam kajiannya Ustadz Sulaiman Rasyid mengungkapkan bahwa alasan Rasulullah menunjuk Zaid sebagai panglima utama sebab dirinya pernah lima kali menjadi panglima syariah dalam peperangan. “Panglima syariah itu memimpin pasukan kecil, dari lima itu Zaid pernah memimpin perang menuju arah utara sedangkan Mu’tah adalah perang ke utara,” kata Ustadz Sulaiman Rasyid.

Ustadz Sulaiman Rasyid menyatakan hal ini sebagai petunjuk bahwa orang yang memimpin belum tentu lebih baik dari yang dipimpin. Keutamaan persiapan perang Mut’ah lainnya adalah ikut sertanya Khalid bin Walid yang baru masuk Islam pada tiga bulan lalu di bulan Safar tahun 8 H pasca pernah Khaibar.

Di akhir kajian, Ustadz Sulaiman Rasyid berpesan kepada jamaah kajian untuk selalu mengecek hatinya, apakah masih bersih atau sudah mulai ternoda. “Hati yang bersih akan gampang terenyuh dan tersadarkan dengan lantunan ayat Al-Qur’an. Sepatutnya ia bersyukur. Jika mendengar lantunan Al-Qur’an biasa saja, coba carilah jiwa asli kalian. Bukan hanya terenyuh waktu menonton Drakor atau mendengar musik saja,” tutup Ustadz Sulaiman Rasyid. (SF/RS)

15 Agustus 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Masjid-Ulil-Albab_UII.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-08-15 12:05:582020-08-15 12:05:58Persiapan Perang Ghazwah Mut’ah

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: UII Kembali Cetak Arsitek Muda Link to: UII Kembali Cetak Arsitek Muda UII Kembali Cetak Arsitek Muda Link to: Ramai-Ramai Mengecam Hubungan Diplomatik Israel-UEA Link to: Ramai-Ramai Mengecam Hubungan Diplomatik Israel-UEA Ramai-Ramai Mengecam Hubungan Diplomatik Israel-UEA Scroll to top Scroll to top Scroll to top