Nasionalisme dalam setiap diri warga negara sangat dibutuhkan untuk menjaga persatuan. Seperti yang disampaikan dalam diskusi civitas akademika sebagai salah satu rangkaian kegiatan Safir 1440 H yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII. Diskusi yang berlangsung pada Selasa (21/5) itu mengangkat tema “Menanamkan Rasa Nasionalisme di Era Globalisasi agar Tercipta Petriotisme”. Acara tersebut diisi oleh Guru Besar Hukum UII, Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, S.H. S.U.

Ia mengawali materinya dengan menjelaskan dunia tidak memiliki batasan dalam sudut komunikasi sehingga sangat mudah untuk melampaui batas-batas negara dengan kecanggihan digital. Keadaan seperti ini yang mengancam tergerusnya rasa nasionalisme jika keadilan tidak ditegakkan.

Meski dari sudut komunikasi dunia tidak memiliki batasan, namun secara fisik batasan negara tetap ada. Sedangkan Mahfud mengatakan nasionalisme bukan hanya menyangkut urusan komunikasi. “Dasar dari nasionalisme kita ada geopolitik” ungkapnya.

“Geopolitik adalah sistem dan peraturan-peraturan dengan kondisi geografis yang menyatukan orang dengan tempat untuk menghadapi geopolitik bangsa lain” tambahnya. Indonesia dengan penduduk yang tersebar di beribu pulau dengan jumlah suku bahasa dan agama merupakan kesatuan geopolitik, persatuan di atas perbedaan itulah dinamakan dengan bangsa yang dijaga dengan nasionalisme.

Keunikan Indonesia yang bersatu dengan keberagamannya didasari oleh ideologi. Ideologi saat ini semakin tidak memiliki peranan seperti dinyatakan dalam tesis Daniel Bell (1961) dengan judul The End of Ideology dan berbagai pendapat lainnya. Indonesia berdiri dengan berpegang pada ideologi yang berbeda dan sistem perekonomian sendiri. Pancasila merupakan ideologi dengan konsep pemersatu. “Saudara, kita harus bangga betapa tingginya semangat juang bangsa Indonesia ini” imbuhnya.

Di hadapan para mahasiswa yang menghadiri diskusi tersebut, Mahfud dengan lugas menceritakan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia mengatakan kemerdekaan diperoleh dengan perjuangan yang luar biasa dalam pembentukan konstitusi untuk mempersatukan perbedaan.

Mahfud juga menuturkan Indonesia dibangun dengan kekuatan sendiri. “Kita merebut kemerdekaan dan mengusir penjajah” tambahnya. Kunci dari keberhasilan merebut kemerdekaan adalah kebersatuan.

Dengan bangga ia mengucapkan hanya Indonesia yang mampu merebut kemerdekaan. “Kita mengusir penjajah dan jadilah Indonesia, maka kita harus menjaga nasionalisme” ucapnya lagi.

Perdebatan dalam penentuan konstitusi negara menjadi momentum yang bersejarah, mengingat banyaknya sudut pandang para pendiri bangsa. Jika salah satu dari perbedaan yang dimenangkan saat itu, maka tidak akan terlahir bangsa Indonesia. Pluralisme yang ada menimbulkan toleransi, maka terbentuklah kesepakatan dalam piagam Jakarta. Sehingga tidak ada kata “islam” dalam konstitusi yang menjadi dasar geopolitik Indonesia. “Kita harus membangun nasionalisme kita dengan Pancasila” ucapnya mengingatkan.

“Hiduplah bersama dalam perbedaan. Allah sengaja menciptakan kita berbeda sebagai ujian, apakah kita masih melakukan kebaikan dalam perbedaan”, pungkasnya. (NR/ESP)