Berkunjung ke tanah suci yakni Mekkah dan Madinah, sudah menjadi impian setiap umat muslim di dunia. Setiap tahunnya ratusan ribu umat muslim dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong memenuhi baitullah di Mekkah untuk menunaikan rukun islam ke-5 yaitu ibadah haji. Sayangnya, kebanyakan di kalangan masyarakat Indonesia dalam menunaikan ibadah haji dilakukan di saat kondisi fisik yang kian rentan seiring bertambahnya usia.

Menanggapi tantangan tersebut, Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII menggelar kuliah umum dengan topik pembicaraan “Ayo Haji Muda” di Ruang Aula Utara Gedung Prof. Dr. Ace Partadiredja Fakultas Ekonomi UII, Rabu (16/10). Pada kuliah umum ini diisi oleh perwakilan Badan Pengelola Keuangan Haji Indonesia (BPKH RI) A. Iskandar Zulkarnain, Dosen Ilmu Ekonomi FE UII, Mohammad Bekti Hendri Anto dan Ustadz Erick Yusuf.

Haji yang identik dengan thawaf atau berjalan mengeliling Ka’bah diperlukan kondisi fisik yang prima bagi setiap individu yang melakukannya. Hendri Anto mengatakan ibadah haji merupakan ibadah yang meliputi aktifitas dengan intensitas yang cukup tinggi. Mulai dari berjalan konstan, berlari kecil hingga melempar jumrah. Selain itu keadaan cuaca di tanah suci memiliki cuaca yang cukup terik daripada di Indonesia. “Ketika usia yang tidak lagi muda tentu kondisi fisik juga menurun. Melihat rukun-rukun haji yang membutuhkan aktifitas fisik tinggi, maka melakukan haji di usia muda itu justru mempermudah diri kita sendiri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hendri Anto menyampaikan keuntungan melakukan ibadah haji di usia muda diantaranya termotivasi untuk sukses, ibadah terlaksana dengan optimal dan hidup islami lebih lama serta husnul khatimah. Pasalnya dalam mempersiapkan hingga pasca ibadah haji memiliki proses yang cukup panjang. “Di usia muda cenderung memiliki fisik yang prima, sehingga ibadah haji menjadi lebih nyaman dan khusyuk. Kemudian sebelum ibadah haji kita berusaha untuk mengumpulkan biaya lebih giat lagi dan setelah haji kita mampu merasakan dan mengimplementasikan di dalam kehidupan nikmatnya melakukan ibadah haji,” lanjut Hendri Anto.

Sementara itu, Iskandar Zulkarnain mengajak generasi milineal agar mulai dari sekarang untuk mempersiapkan dan merencanakan ibadah haji. Hal ini disebabkan kuota haji Indonesia lebih sedikit dengan pendaftar yang ingin melakukan ibadah haji. Lantaran kuota yang terbatas, waktu tunggu bagi jamaah Indonesia cukup lama. “Sejauh ini kuota Indonesia kurang lebih 200.000 jamaah atau sekitar 10% dari penduduk Indonesia, dan pendaftar setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Sehingga menyebabkan waktu tunggu hingga mencapai 25 tahun,” ungkapnya.

Dalam persiapan itu, diperlukan niat dan kemauan dalam mewujudkannya yang kuat. Ustadz Erick Yusuf mengatakan bahwa niat kuat juga harus diikuti dengan usaha dan doa yang kuat pula. Dimulai dengan di usia berapa sekiranya akan melakukan ibadah haji lalu dengan usaha yang seperti apa dan tawakal kepada Allah. “Niatkan dan tanamkan dalam hati keinginan untuk haji, lalu usahakan dengan sungguh dan lanjutnya serahkan pada Allah agar dimampukan untuk melakukan ibadah haji,” tuturnya. (ENI/RS)