• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Solusi Mencegah Kekerasan Seksual Pada Anak
Berita Kegiatan, Pilihan

Solusi Mencegah Kekerasan Seksual Pada Anak

Angka kekerasan terhadap anak dinilai semakin mengkhawatirkan khususnya selama pandemi Covid-19. Tak jarang pelakunya adalah orang terdekat seperti keluarga dan pendidik. Dampak yang ditimbulkan oleh hal keji tersebut tak hanya masalah fisik juga psikologis yang berdampak panjang. Mirisnya, pendidikan seksual dini masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

“Anak harus diajari mengenai seksual sesuai tahapan perkembangannya,” jelas dr. Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp.A (K) dalam acara seminar mengenai kekerasan terhadap anak di Gedung Kuliah Umum Prof. dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII belum lama ini.

Menurutnya, anak harus memiliki keterbukaan kepada orang tua dan pendidik mengenai keingintahuannya. Anak yang tidak memiliki rasa terbuka, akan lebih nyaman untuk mencari informasi di internet yang jauh lebih berisiko. Informasi di internet kurang bisa disaring dan dipertanggungjawabkan. Sehingga dibutuhkan pendampingan khususnya oleh orang tua saat anak sedang berselancar di internet.

Dia menerangkan kekerasan seksual pada anak akan menimbulkan kerugian fisik seperti infeksi menular seksual, gangguan menstruasi, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Sedangkan dampak pada masalah mental jauh lebih kompleks lagi seperti depresi, kecemasan, kecenderungan bunuh diri, penyalahgunaan obat-obatan, perilaku seks yang menyimpang, hingga krisis identitas gender.

“Tak jarang pelaku kekerasan pada anak adalah dulunya seorang korban,” tambahnya.

Membahas dampak kekerasan seksual anak (KSA) lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa data statistika menunjukan 95% tenaga prostitusi, 59% wanita di penjara, 60% ibu remaja adalah korban KSA. Untuk itu dibutuhkan pencegahan terjadinya KSA dengan mengenali faktor risiko baik dari anak, orang tua, maupun lingkungan.

Lanjutnya, anak dengan usia muda, berjenis kelamin perempuan, dan berstatus anak tiri lebih berisiko untuk menjadi korban KSA. Melihat aspek orang tua tunggal, menderita gangguan mental, miskin, dan ketergantungan obat-obatan terlarang berisiko tinggi menjadi pelaku KSA. Termasuk apabila korban dan pelaku tinggal di lingkungan yang rentan konflik dan kekerasan.

Untuk mencegah KSA, ia menyarankan untuk mengenalkan anggota tubuh sedari dini pada anak. Anak diberi penjelasan mengenai perbedaan alat kelamin perempuan dan laki-laki. Diberi penjelasan mengenai sentuhan baik dan buruk. Sentuhan baik/boleh adalah sentuhan yang tidak menyakiti dan membuat nyaman. 

Bagian yang boleh disentuh adalah dari bahu ke atas dan dari lutut ke bawah, contohnya bersalaman dan mengusap kepala. Berbeda dengan sentuhan yang buruk/tidak boleh adalah sentuhan yang membuat anak sakit, takut, dan marah. Bagian yang tidak boleh disentuh adalah area yang tertutup oleh baju renang mulai dari paha, dada, bagian dekat kemaluan, dan mulut. 

Terdapat satu jenis sentuhan yakni sentuhan membingungkan, tidak menyakiti tapi membuat risih/jijik. Biasanya muncul di area antara bahu dan lutut. Terutama jika sentuhan ini menunjukkan kasih sayang dan nafsu. Bermula dari mengelus kepala, memeluk-meluk, kemudian meraba bagian tubuh dari bawah bahu sampai atas lutut. (UAH/ESP)

31 Agustus 2022
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/kesetaraan-gender-uii.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2022-08-31 09:40:012022-09-06 09:44:31Solusi Mencegah Kekerasan Seksual Pada Anak

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Memaknai Muharram Dengan Muhasabah Link to: Memaknai Muharram Dengan Muhasabah Memaknai Muharram Dengan Muhasabah Link to: SDM Yang Berdaya, Kunci Pengembangan Website Universitas Link to: SDM Yang Berdaya, Kunci Pengembangan Website Universitas SDM Yang Berdaya, Kunci Pengembangan Website Universitas Scroll to top Scroll to top Scroll to top