Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan atau Sustainability Office Universitas Islam Indonesia (UII) Dr-ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, M.A. menjadi salah satu pembicara di acara Lokakarya UI GreenMetric Tahun 2021 yang diadakan oleh Institut Agama Islam Negeri Samarinda. Agenda yang bertemakan “Universities UI GreenMetric, and SDGs in the Time of Pandemic” ini dilaksanakan melalui Zoom Meeting pada Senin (12/4). Adapun materi yang diberikan Ilya Fadjar Maharika berjudul Tata Kelola Pendidikan dan Penelitian Pembangunan Berkelanjutan: Rahmatan lil ‘alamin.

Ilya Fadjar Maharika menyampaikan bahwa terwujudnya UII sebagai Rahmatan lil Alamin, memiliki komitmen pada kesempurnaan atau keunggulan, risalah islamiah di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat dan dakwah, dimana hal ini setingkat universitas yang berkualitas di negara-negara maju. Adapun kebijakan dalam pendidikan, penelitian, dan wawasan keberlanjutan memiliki tiga hal, yakni pertama, pengembangan standar mutu MERCY OF GOD sebagai upaya integrasi beragam standar eksternal, termasuk pemeringkatan ke dalam sistem budaya organisasi.

Kedua, pengembangan Kurikulum Ulil Albab sebagai upaya membangun ‘mazhab pendidikan berbasis konsep Rahmatan lil Alamin yang diterjemahkan pada beragam dimensi, serta terakhir adalah pengembangan kanal untuk memperkuat “outcome” seperti open repository, jurnal, kegiatan, dan sebagainya. “Sebagai insan Ulil Albab, haruslah memiliki empat kepribadian yaitu berkemimpinan profetik sebagai keterampilan umum, sikapnya harus berkepribadian islami, pengetahuannya harus integratif, dan juga memiliki keterampilan transformatif atau khusus,” sebutnya.

Ia menyebut bahwa UII telah melahirkan banyak Ulil Albab, hal ini terbukti dari banyaknya jurnal yang diterbitkan baik dalam negeri maupun luar negeri. Outcome tersebut nantinya akan dimanfaatkan oleh banyak orang. Bahkan tahun 2013 hingga nanti 2023, UII menjadi salah satu kampus lestari. Upaya dalam mewujudkannya adalah dengan memprioritaskan penanganan persoalan tata ruang menuju green campus. Perencanaan ini mengedepankan upaya pengelolaan tapak berbasis konservasi lahan dan pengendalian air permukaan, pengelolaan transportasi, kendaraan bermotor, sepeda dan pedestrian serta perparkiran yang lebih ramah lingkungan serta pengelolaan keamanan dan mitigasi kebencanaan, pengelolaan limbah dan sampah yang lestari.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan UII ini juga menampilkan foto warisan budaya yang terus dihormati dan dilindungi oleh UII, yakni Candi Kimpulan di tengah Gedung Perpustakaan. “Kami pihak UII mempertahankan kepadatan bangunan di bawah 70% dan mempertahankan rasio luas per mahasiswa 7m2. Selain itu kami mengembangkan embung sebagai bagian dari upaya konservasi air serta merekomendasikan bangunan yang inklusif dan lebih ramah lingkungan,” ujar nya.

Di akhir sesinya, Ilya Fadjar Maharika menyebut bahkan saat ini UII tengah membangun gedung baru yakni Fakultas Ilmu Agama Islam dan Fakultas Hukum. Pembangunan kedua fakultas tersebut dirancang menggunakan fitur berkelanjutan dengan BIM, kolaborasi dosen dan mahasiswa PPAr. Selain itu juga pembangunan gedung memiliki perawatan yang rendah, begitu juga dengan penggunaan energinya. Pembangunan dilakukan dengan penghawaan alami menggunakan prinsip air chimney, soft wall dan sunscreen untuk pencahayaan alami dan juga grand stairs untuk menarik pengguna tidak menggunakan elevator.

Agenda lokakarya yang diadakan IAIN Samarinda ini turut dihadiri oleh Rektor IAIN Samarinda Prof. Dr. H. Mukhamad Ilyasin, M. Pd., Ketua UI GreenMetric World University Rankings Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, M. Sc., M.M., serta Wakil Gubernur Kalimantan Timur H. Hadi Mulyadi, S.Si., M.Si. sebagai Keynote Speaker dengan mengangkat materi “Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kalimantan Timur”.

Lokakarya dilaksanakan dalam tiga sesi, dimana sesi pertama mengangkat tema UI GreenMetric dengan pembicaranya adalah Prof. Dr. Ir. Tommy Ilyas, M. Eng., selaku Staf Ahli UI GreenMetric, Universitas Indonesia. Sesi kedua mengangkat tema diskusi Pengelolaan Penata dan Infrastruktur, Energi dan Perubahan Iklim. Dan yang terakhir sesi tiga diskusi mengambil tema Pengelolaan Air, Transportasi, Pendidikan dan Penelitian. (SF/RS)