Perkembangan teknologi informasi saat ini mengalami perubahan yang kian masif. Tren digitalisasi atau yang sering disebut revolusi industri 4.0 di berbagai sektor tak terkecuali di sektor pendidikan tinggi. Terkini, kebutuhan untuk memahami solusi teknologi informasi bagi pendidikan tinggi menjadi sebuah keharusan guna meningkatkan kualitas dari perguruan tinggi itu sendiri.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., mengatakan sudah saatnya untuk mengembangkan pola berpikir dalam menyelesaikan masalah. Selama ini pola berpikir masyarakat adalah deduktif thinking dimana sudut pandang berawal dari suatu masalah. “Masalah itu terkadang tersembunyi tidak muncul dipermukaan. Sehingga ketika kita tidak menemukan masalah justru itu masalah terbesar,” kata Fathul Wahid dalam sambutannya pada forum nasional Indonesia Higher Education CIO Forum (IHE CIO Forum).

Lanjut Fathul Wahid, mengajak peserta forum untuk berpikir secara induktif. Di tengah disruptif perkembangan teknologi saat ini dapat digali potensi yang ada sehingga potensi itu dapat dikembangkan ke arah mana. “Misalnya pada akhir 90-an tidak ada orang yang berdemonstrasi meminta hadirnya layanan sms namun pada akhirnya layanan sms itu ada. Lalu kenapa? Ini dikarenakan para penyedia layanan menyadari bahwa jalur komunikasi itu masih menganggur dan terus berkembang lagi hingga munculnya internet,” lanjut Fathul Wahid.

Fathul Wahid berharap melalui forum ini peserta termasuk pembicara dapat belanja ide. Sehingga ide yang diperoleh dapat diimplementasikan dalam bentuk solusi terhadap permasalahan saat ini. “Harapannya peserta dapat belanja ide setelah itu dibawa pulang, direbus dan diimplementasikan pada berbagai permasalahan,” tambahnya.

Penyelenggaraan IHE CIO Forum 2019, di Auditorium Prof. Abdulkahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII, Rabu (17/7) ini dihadiri para Rektor dan pimpinan teknologi informasi lebih dari 70 institusi pendidikan tinggi, Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.com., Akt., C.A. serta keynote speech Mukhammad Andri Setiawan, Ph.D., selaku Kepala Badan Sistem Informasi (BSI) UII.

Dalam materinya, Andri Setiawan mengatakan pengelolaan teknologi informasi dewasa ini masih sering menjadi kendala para pimpinan di lingkungan pendidikan tinggi. Kendala tersebut terutama pada segi pengorganisasian layanan agar sejalan dengan misi dan tujuan strategis institusi pendidikan tinggi. “Seharusnya perguruan tinggi dapat memaksimalkan perkembangan teknologi untuk mencapai visi dan misinya. Sehingga perlunya implementasi yang sesuai agar visi dan misi perguruan tinggi tercapai,” ungkapnya.

Sejauh ini, hanya sebagian kecil universitas telah menjalankan praktik-praktik terbaik dalam mengelola teknologi informasi, dan menjadikannya sebagai instrumen strategis untuk bersaing dan meningkatkan kualitas. Sebagian besar yang lain masih menganggapnya sebagai instrumen pendukung operasional dengan manfaat yang marginal. Kapasitas personel teknologi informasi dan dukungan kebijakan institusi yang beragam adalah beberapa sebab yang terindentifikasi.

“Perubahan mendasar dibutuhkan untuk memberikan pelayanan teknologi informasi yang lebih baik. Pergeseran layanan teknologi informasi sebagai “sekedar” unit pelaksana teknis, atau fokus hanya pada manajemen teknologi menjadi manajemen layanan menuntut perubahan yang drastis pula,” ujarnya.

Penyelenggaraan IHE CIO Forum 2019 juga diisi paparan dari Nutanix, Ruckus, dan Lintasarta. Sementara pada sesi lightning talk diisi oleh Arif Kurniawan, S.T. dari Universitas Negeri Yogyakarta, Adi Kusuma dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Achmad Basuki dari Indonesian Research and Education Network (IdREN).