• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Universitas, Sang Penyintas
Pojok Rektor

Universitas, Sang Penyintas

Masa depan berawal dari imajinasi. Kegagalan dalam berimajinasi merupakan awal yang problematik dalam mendesain masa depan. Imajinasi kolektif menjadi lebih berbobot karena memberikan arah jalan bersama yang harus ditempuh.

Demikian juga universitas. Beragam imajinasi dimunculkan dan ditawarkan. Revolusi industri 4,0, misalnya, sering dianggap titik tolak perubahan universitas. Banyak yang mengamini. Beragam konseptualisasi ditawarkan. Praktik salin tempel konsep dari konteks asing pun tidak jarang mengisi meja diskusi.

Adakah yang salah? Mungkin ya, barangkali tidak. Tergantung kepada nilai pijakan dalam memandang peran universitas. Setiap ide yang muncul harus dilihat dengan kacamata nilai pijakan. Praktik terbaik yang terbukti sukses di sebuah konteks, tidak menjamin memunculkan cerita serupa di konteks lain. Kemampuan mengkontekstualisasi ide sangat penting.

Kekuatan ide penyintas

Idelah yang ditranslasikan ke sebuah konteks. Karenanya, praktik terbaik bukan diadopsi, tetapi diadaptasi. Ide yang dikandung praktik yang dimaknai. Praktik hasil kontekstualisasi seharusnya bersifat tulen karena menjadi kongruen dengan nilai pijakan.

Nilai pijakan bisa beragam: kapitalisme, humanisme, keserakahan, kelestarian, atau lainnya. Setiap ide dapat dilacak nilai pijakannya. Ide dengan nilai pijakan kapitalisme, sangat mungkin tidak bisa berdampingan dalam harmoni dengan ide yang muncul dari tradisi humanisme. Ide yang muncul karena keserakahan, sulit berjalan seiring dengan ide yang mengedepankan kelestarian.

Nilai pijakan mungkin berubah sejalan dengan waktu, meski tidak mudah. Studi yang dilakukan oleh Collins dan Porras (2004) yang terekam dalam buku “Built to Last”, menemukan bahwa institusi penyintas yang berusia panjang dan hebat adalah yang setia mengawal nilai pijakan. Mereka menyebutnya ideologi inti yang disandingkan dengan tujuan inti.

Tapi nilai pijakan saja tidak cukup menjadi bekal universitas menjadi penyintas, yang sanggup beradaptasi dengan perubahan. Diperlukan imajinasi berani dan tulen yang berangkat dari pemahaman yang baik atas konteks. Konteks di sini bisa mewujud dalam dimensi ruang dan waktu yang unik. Lokasi geografis, preferensi warga universitas, kebutuhan lingkungan, kematangan infrastruktur merupakan contoh keunikan konteks.

Universitas terimajinasi

Beragam imajinasi universitas dapat didaftar di sini, seperti universitas kelas dunia, universitas riset, dan universitas entrepreneurial. Tidak jarang, imajinasi ini diucapkan dan ditulis sambil lalu, sonder konseptualisasi. Beberapa pertanyaan dapat diajukan. Apakah imajinasi tersebut berangkat dari pemahaman yang baik atas konteks? Apakah imajinasi tersebut telah dikonseptualisasi dengan memadai? Tanpa jawaban yang tegas atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, imajinasi universitas masa depan menjadi kabur.

Bingkai yang ditawarkan oleh Barnett (2018) dalam bukunya “The Ecological University” menarik untuk didiskusikan. Universitas berhubungan dengan beragam ekosistem: ekologi pengetahuan, institusi sosial, subjektivitas manusia, ekonomi, pembelajaran, budaya, dan lingkungan alam. Meski penuh tantangan, optimisme dalam melihat peran universitas harus terus dipupuk. Karenanya, universitas harus sensitif terhadap ekosistem yang melingkupinya. Kehadiran universitas tidak semata karena alasan instrumental, terutama ekonomi yang cenderung kapitalistik.

Perspektif ini berbeda dengan prediksi Christensen dan Eyring (2011), penulis buku “The Innovative University” yang menyatakan bahwa separoh universitas swasta nirlaba di Amerika Serikat akan bangkrut dalam 10-15 tahun ke depan, karena penyebaran pembelajaran daring. Beragam respons muncul atas prediksi ini. Bahkan rektor dari sebuah universitas di Amerika Serikat menawarkan taruhan senilai satu juta dolar Amerika untuk prediksi Christensen ini. Konteks dalam buku tersebut, tentu tidak bisa disalin mentah-mentah ke Indonesia.

Terlepas dari itu, perubahan perspektif ini menjadi penting karena akan mempengaruhi beragam instrumen untuk menilai kinerja sebuah universitas. Pendekatan reduksionis yang hanya mengedepankan angka atau indeks bisa membimbing ke arah yang salah. Pendekatan positivistik dengan angka memang memudahkan untuk membandingkan, tetapi perlu dicatat dengan tinta tebal, hasilnya tidak akan komprehensif.

Reduksi imajinasi universitas dalam bentuk angka, tentu akan menggadaikan ideologi dan tujuan inti kehadirannya. Tujuan kehadiran universitas sangatlah mulia, tri darma, seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang. Universitas harus menjalankan tiga misi: produksi pengetahuan melalui penelitian yang berdampak, diseminasi pengetahuan lewat pengajaran dan publikasi yang berkualitas, dan aplikasi pengetahuan dalam beragam bentuk pengabdian kepada masyarakat yang tepat program dan sasaran.

Untuk membangun imajinasi kolektif, frasa operatif terpenting dalam konteks ini adalah “yang berdampak”, “yang berkualitas”, dan “yang tepat program dan sasaran”. Fakta di lapangan memberikan bukti bahwa ketiga darma tersebut dapat ditunaikan dalam ragam kualitas yang variatif, mulai dari sekedar menggugurkan kewajiban sampai dengan sepenuh hati.

Universitas masa depan

Jika pilihan sepenuh hati disepakati, maka universitas tidak boleh lagi beroperasi pada menara gading yang eksklusif. Universitas sudah tidak lagi menjadi menara yang mentransmisikan pengetahuan kepada mahasiswa, sampai mahasiswa menjadi menara pengetahuan yang siap mentransmisikan pengetahuan ketika memasuki masyarakat. Sialnya, otomasi pembelajaran berbasis mesin, masih mewarisi perspektif ini.

Universitas juga tidak boleh hanya menjadi pabrik pekerja masa depan. Indikasinya beragam, seperti banjir permintaan kebermanfaatan kompetensi, skema pemeringkatan, dan efisiensi luaran. Kinerja universitas pun tidak jarang direduksi dalam daftar periksa dan angka. Nampaknya tidak sulit mencari ilustrasi empiris di Indonesia.

Universitas masa depan harus berikhtiar bersama dengan masyarakat, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, dalam mengembangkan kemitraan yang kritikal-kreatif untuk menghadirkan manfaat, pengetahuan, dan warga masyarakat masa depan. Universitas mempunyai nilai pijakan sebagai basis moral yang kuat. Perubahan lingkungan direspons dan perkembangan teknologi diadaptasi, tetapi tanpa melupakan nilai pijakan.

Universitas yang terimaji seharusnya juga dapat hidup berdampingan dengan ekosistem yang melingkupinya, untuk mendukung dan mengembangkannya. Ekosistem dan universitas saling mempengaruhi secara resiprokal. Peran pengambil kebijakan dan regulasi yang dibuatnya juga sangat penting untuk menjaga iklim yang kondusif.

Karenanya, mata dan telinga harus terjaga untuk menjadi radar sensitif dalam menangkap sinyal perubahan. Ini merupakan ikhtiar kolektif, melibatkan sebanyak mungkin warga universitas. Tanpanya, universitas akan gagal menjadi penyintas ruang dan waktu, yang legitimasi dan relevansinya disangsikan.

Tulisan ini telah dimuat dalam rubrik Opini Harian Republika pada 4 April 2019.

4 April 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/04/sang-penyintas-.jpg 325 487 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022019-04-04 10:09:052019-06-18 09:54:47Universitas, Sang Penyintas

Berita Terakhir

  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 
  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Wisudawan, Rawat Tiga Komitmen! Link to: Wisudawan, Rawat Tiga Komitmen! Wisudawan, Rawat Tiga Komitmen! Link to: Milad ke-76, UII Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Link to: Milad ke-76, UII Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Milad ke-76, UII Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Scroll to top Scroll to top Scroll to top