Pertumbuhan bangunan baru yang semakin modern disinyalir dapat mengalahkan bangunan-bangunan tradisional yang menjadi ciri khas suatu daerah. Topik ini mengemuka pada penyelenggaraan Architect Talk ke-5, Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII), dengan menghadirkan Andra Matin, seorang arsitek kondang di Indonesia. Kuliah umum yang digelar pada Selasa (2/10), di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakkir UII, membahas tentang Regionalism Spirit in Global Era Blimbingsari Airport, Banyuwangi, East Java Indonesia.

Pembangunan bandara Blimbingsari di Banyuwangi menjadi topik perbincangan karena konsep pembangunan yang diterapkan modern dan tidak meninggalkan nilai lokal. Terinspirasi dari salah satu bandara di Kamboja yang dibangun modern tetapi menonjolkan nilai lokal, Andra Matin mulai mencari nilai-nilai lokal yang dapat diterapkan dalam desain bandara yang sedang digarap.

Rumah Osing khas Banyuwangi menjadi titik temu Andra Matin, dari gaya atap rumah osing dapat dimodifikasi menjadi sesuatu yang baru. Modifikasi atap rumah osing Ia lakukan dengan memotong model atap secara diagonal dan menerapkan salah satu sisinya. Penerapan gaya atap osing akan menonjolkan nilai arsitektur dan menjadi identitas Bandara Bayuwangi.

Andra Matin menuturkan, Bandara Banyuwangi merupakan bandara yang akan dibangun kecil seperti resort, sehingga penggunaan AC dapat diperkecil dan memanfaatkan sirkulasi udara yang maksimal.

Desain atap yang dikombinasikan dengan material rumput dan atap berbahan kayu ulin meningkatkan nilai arsitektur bangunan. Kombinasi ini diterapkan untuk meningkatkan ciri khas bandara yang lokasinya dekat dengan kawasan persawahan juga dapat menyejukkan ruangan. Sehingga memperkecil penggunaan AC seperti yang diharapkan sang desainer dapat tercapai.

Ia menuturkan bahwa suasana bandara tidak terkesan sibuk akan tetapi akan memberikan suasana yang rilex bagi pengunjung dengan penambahan interior taman dan kolam di dalamnya.

Kearifan lokal sangat dijunjung dalam pembangunan bandara, kebiasaan masyarakat yang menggunakan pakaian tradisional dan sederhana tetap dipertimbangkan. Dalam perencanaan ini dipersiapkan pula suatu ruangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat lokal untuk menunggu kedatangan dan mengantar tanpa harus malu dilihat pengunjung lain yang banyak menggunakan pakaian formal.

“Jadi kami mempersiapkan ruangan dimana masyarakat lokal masih dapat menggunakan sarung dan duduk bersila. Tantangannya bagaimana semuanya dapat berfungsi dengan baik tetapi nilai lokalnya tetap ada,” pungkasnya.