Bambooland Latih Masyarakat Berdayakan Hutan Bambu Secara Berkelanjutan

Sorot mata antusias nampak di wajah masyarakat Dukuh Ngepring, Purwobinangun, Pakem manakala melihat hutan bambu di sekeliling desanya berubah menjadi kawasan ekowisata yang tertata rapi. Dalam satu bulan terakhir, segenap warga di pedukuhan tersebut bahu membahu menata kawasan hutan bambu dengan membangun sarana pendukung, seperti saung, gazebo, dan aula terbuka berbahan utama material bambu. Tidak hanya itu mereka juga belajar bagaimana mengolah tanaman bambu menjadi produk yang bernilai jual tinggi, contohnya furniture dan hasil kerajinan untuk diekspor.

Upaya ini merupakan bagian dari program Bambooland yang diinisiasi oleh Universitas Islam Indonesia (UII) bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel  Surabaya (UINSA). Puncak dari program ini adalah penandatanganan piagam Bambooland oleh Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, M.Si bersama dengan Rektor UII, Rektor UINSA, dan perwakilan dari Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia di Dukuh Ngepring, Kamis (9/8).

Faruq Haqi, M.RgnlUrbPlan selaku Team Leader Bambooland mengungkapkan program tersebut bertujuan mengajak masyarakat untuk mengolah tanaman bambu secara berkelanjutan sehingga dapat mengangkat perekonomian dan kehidupan sosial warga. Sleman sendiri memiliki 11 jenis spesies bambu yang memiliki berbagai macam penggunaan.

Pihaknya juga menjalin kerjasama dengan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia selama menjalankan program. Melihat dampak positif program, pemerintah Australia bersedia mengucurkan bantuan guna melihat kesuksesan program bagi masyarakat.

“Selama ini warga hanya menjual bambu secara mentah ke pemasok. Bambooland memberi keterampilan bagaimana mengolah bambu dan meremajakan hutan bambu yang telah gundul”, kata pengajar UINSA yang juga alumni Arsitektur UII itu. Dosen UII, Yulianto Purwono Prihatmaji, Ph.D menjadi mitra baginya yang juga banyak memberi ide program Bambooland.

Hasil akhir dari program ini adalah Dukuh Ngepring dapat menjadi sentra pengolahan, pelestarian, dan ekowisata bambu di wilayah Sleman. Hal ini diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke desa dan menggerakkan ekonomi warga.

Sementara itu, Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, M.Si mengapresiasi inisiatif yang ditempuh Bambooland. Pemerintah Daerah Sleman juga berupaya mengangkat potensi bambu di beberapa kawasan, di antaranya melalui promosi dan pameran. “Bambu memiliki fungsi ekologis yang besar sebagai penyimpan air dan mencegah banjir. Semakin banyak bambu maka akan semakin baik bagi kelestarian lingkungan”, ujarnya.

Rektor UII, Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum.,Ph.D mengatakan kawasan hutan bambu semakin terancam oleh pembangunan dan eksploitasi secara berlebihan. Tanpa upaya pelestarian nyata dikhawatirkan tidak tersisa lagi kawasan hutan bambu yang masih asri dalam beberapa dekade ke depan.

“Model kerjasama antara universitas, masyarakat, dan pemerintah sangat tepat dalam upaya melestarikan hutan bambu. Keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama sangatlah penting. Oleh karenanya hutan bambu harus dapat memberi insentif sosial dan ekonomi tanpa harus dieksploitasi berlebihan”, katanya.

Selama pelaksanaan even, Bupati Sleman juga melantik pengurus satgas bambu di Dukuh Ngepring. Satgas berperan menjamin program ini dapat tetap berjalan secara berkelanjutan ke depannya.