Belum meratanya distribusi tenaga kesehatan di tanah air masih menjadi pekerjaan rumah bagi segenap pihak. Terlebih masih banyak kalangan masyarakat yang belum menikmati layanan kesehatan terbaik sebagaimana yang ada di kota-kota besar. Hal ini tentunya perlu direspon dengan baik oleh para dokter baru lulusan Fakultas kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII). Ke depannya para dokter ini semakin mendapat tantangan untuk memberi pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat di tengah keterbatasan fasilitas dan sarana prasarana kesehatan di berbagai pelosok tanah air.

Demikian disampaikan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya & Pengembangan Karier UII, Dr. Zaenal Arifin, M.Si saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode XLVI Fakultas Kedokteran UII, Rabu (10/7) di Gedung Auditorium Prof. Abdulkahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII.

Pada acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter kali ini, 65 orang dokter baru, yang terdiri dari 19 laki-laki dan 46 perempuan telah berhasil lulus Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Sampai saat ini, FK UII telah berhasil meluluskan 1.703 orang dokter, tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Konsep dokter bintang lima yang dicanangkan oleh WHO dan diadopsi untuk FK UII dalam mendefinisikan profil lulusan, harus betul-betul diamalkan sehingga diharapkan dapat turut mengurai persoalan kesehatan di Indonesia,” tutur Zaenal Arifin.

Ia juga menyampaikan, dokter lulusan dari UII diharapkan memiliki kompetensi keilmuan yang luas, pemahaman keislaman yang dalam serta profesionalisme yang tinggi. “Dalam mendefinisikan profesionalisme, ada tiga kemampuan penting yang perlu dimiliki oleh para dokter baru, yakni komunikasi yang baik, rasa empati, dan ketulusan yang senantiasa diasah,” imbuhnya.

dr. Linda Rosita, M.Kes., Sp.PK., selaku Dekan FK UII menyampaikan bahwa setiap tahunnya FK UII meluluskan 150-200 dokter baru. Ia berpesan mengenai pentingnya menjaga integritas dan kejujuran sebagai bagian yang diucapkan ketika sumpah dokter. Dengan menjaga kedua hal itu maka secara tidak langsung para dokter turut menjaga nama baik diri sendiri, profesi, dan juga almamater.

“Profesi dokter adalah profesi yang mulia karena sebagai dokter muslim selalu mengingat jerih payah orangtua, akhlak kepada masyarakat dan pasien, dan akhlak kepada negara. Karena nantinya kita semua akan berkiprah dan berkontribusi kepada negara,” ujar Linda Rosita.

Sedangkan Ketua Ikatan Dokter (IDI) DIY, Dr. dr. Probosuseno, Sp.PD-Kger (K) menekankan sikap-sikapyang perlu dibiasakan para dokter baru, yaitu Bermanfaat, Berubah, Baca, Beri contoh. Seorang dokter harus bermanfaat bagi orang lain yang ada disekitarnya. Tidak hanya bermanfaat, namun dokter diharapkan bisa berubah dan mengubah apabila ada kebiasaan yang tidak baik di lingkungannya.

“Jangan sampai dokter yang sering memberi petuah-petuah cara hidup sehat justru dirinya sendiri kurang menjaga kesehatan sehingga terkena berbagai penyakit, seperti darah tinggi, stroke, dan penyakit degeneratif lainnya”, pungkas dokter yang juga sering memberi ceramah itu.