• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Esensi Puasa dan Idul Fitri
Berita Kegiatan, Pilihan

Esensi Puasa dan Idul Fitri

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud Mahmodin, S.H., S.U., M.I.P menyampaikan ceramah tentang esensi pelaksanaan puasa, Idul fitri dan Laku Sing Papat Sunan Bonang di sela shalat Isya dan Tarawih pada Senin (12/3). Kajian beliau bertepatan dengan malam kedua tarawih dan dilaksanakan di Masjid Ulil Albab Kampus Terpadu UII. Rektor, pejabat kampus, mahasiswa hingga masyarakat umum yang hadir menyimak dengan saksama.

“Berpuasa itu laallakum tattaquun, agar kalian semua itu bisa, ya jadi tujuan utama, kalau menurut perintah itu bertakwa. Kalau kita sudah bertakwa, ya meningkatkan ketakwaan itu agar benar-benar bertakwa. Takwa itu artinya sendiri sederhana, takwa artinya berhati-hati.” Tegas Prof. Mahfud setelah sebelumnya menjelaskan sebab musabab perbedaan pandangan awal Bulan Ramadan.

Prof. Mahfud menjelaskan, bahwa setiap seseorang melangkah, ia akan dihadapkan oleh dua pilihan, kearah kanan atau kiri. Ini menjadi representasi bahwa seseorang akan terus dihadapi oleh pilihan untuk berbuat baik atau buruk. Menurutnya, ketakwaan dan kehati-hatian akan selalu menuntun seseorang untuk mengerjakan perbuatan baik yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan perbuatan buruk yang diharamkan oleh-Nya.

Ujung dari ketakwaan umat muslim di Bulan Ramadan adalah perayaan Idul Fitri. “Idul Fitri itu orang kembali ke kesucian, kesuciannya itu apa? karena orang lahir pada dasarnya adalah suci bersih, seperti meja tabula rasa.” Jelas Prof. Mahfud. Ia juga mengutip hadits Nabi saw. yang mengatakan bahwa peran keluarga dan lingkungan buruklah yang mengakibatkan seseorang jauh dari kesucian itu sendiri.

“Jadi yang berhak atas Hari Raya itu, ini setelah berpuasa Syawal itu adalah mereka yang mensucikan dirinya kembali sehingga disebut mensucikan dirinya itu puasanya bener, bertaubat kepada Allah, banyak membaca Al-Qur’an, I’tikaf,” tutur Prof. Mahfud.

Selanjutnya, Prof. Mahfud membahas tentang budaya khas Indonesia untuk merayakan sebulan penuh berpuasa yaitu lebaran. Tradisi dan kata ‘Lebaran’ pertama kali diperkenalkan oleh Kyai Maqdum atau lebih dikenal dengan Sunan Bonang. Diceritakan ketika berakhirnya bulan Ramadhan, Kyai Maqdum berkata kepada para santrinya, “hai santri-santriku sekarang kita sudah berpuasa, Insyaallah dosa-dosa kita sekarang sudah lebur (Habis), hari ini puasa kita sudah lebar (selesai), pahalanya luber (penuh), wajahnya labur (cerah).”

Tanpa mendapatkan Laku Sing Papat (lebur-lebar-luber-labur) tersebut, Prof. Mahfud menganggap seseorang telah gagal menjalankan ibadah puasanya, ia juga tidak berhak untuk merayakan Idul Fitri. Untuk itu, beliau menekankan pentingnya meminta maaf di hari raya Idul Fitri agar kita tidak menjadi orang yang Muflis.

“Orang yang Muflis (bangkrut) itu adalah orang yang ketika hidup sholatnya bagus, puasanya bagus, zakatnya bagus, amalnya bagus, banyak mendirikan masjid dimana-mana tetapi ketika dia mati dia lupa untuk meminta maaf kepada saudaranya,” terang Prof. Mahfud.

Sebelum menutup ceramahnya, Prof. Mahfud mengingatkan kembali betapa pentingnya bertakwa dengan penuh di bulan suci Ramadan agar mendapat Laku Sing Papat, dan membiasakan diri untuk meminta maaf kepada sesama, tidak hanya dihari raya Idul Fitri, akan tetapi kapanpun dan kepada siapapun. (MNDH/RS)

14 Maret 2024
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2024/03/0U7A0013-scaled.jpeg 1707 2560 Humas UII https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas UII2024-03-14 10:26:492024-03-20 00:41:37Esensi Puasa dan Idul Fitri

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: FIAI UII Resmikan Galeri Falakiyah Link to: FIAI UII Resmikan Galeri Falakiyah FIAI UII Resmikan Galeri Falakiyah Link to: Pernyataan Sikap Universitas Islam Indonesia: Kematian Demokrasi di Indonesia Link to: Pernyataan Sikap Universitas Islam Indonesia: Kematian Demokrasi di Indonesia Pernyataan Sikap Universitas Islam Indonesia: Kematian Demokrasi di Indones... Scroll to top Scroll to top Scroll to top