Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) kembali berinovasi di tingkat nasional. Berlatarbelakang belum adanya penerangan di daerah pegunungan Turgo Merapi, mereka mencetuskan gagasan pembuatan alat penerangan jalan yang aplikatif. Prototype alat tersebut dipamerkan di ajang The 3rd National Electrical Summit atau NEST 2018 di Universitas Indonesia pada tanggal 9 Februari 2018. Mereka berhasil lolos hingga babak grand final dan menyisihkan 31 tim lainnya.

NEST UI 2018 merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Tahun ini NEST UI 2018 mengangkat tema “Inovasi Pembangkit Listrik untuk Daerah Tertinggal menuju Indonesia Terang Benderang”. Acara ini diselenggarakan meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang konsumsi energi dan mengajak mereka untuk mencari solusi dari permasalahan energi di Indonesia.

Mahasiswa FTI yang terdiri dari Gatot Triambodo (Teknik Elektro 2014), Mufti Sayid Muqaffi (Teknik Industri 2015) dan Adienta Mustika Ma’arij (Teknik Industri 2015) berhasil mengalahkan 31 tim lainnya dari berbagai universitas di Indonesia dan masuk ke babak grand final Lomba Karya Tulis Ilmiah.

Disampaikan Gatot Triambodo, selaku salah satu anggota tim dari FTI UII bahwa dalam ajang tersebut mereka mengusulkan sebuah gagasan berupa SLIMATOR (Street Light Magnetic Generator). Ia dan timnya mengusulkan ide lampu penerangan jalan yang memanfaatkan gaya tolak menolak magnet untuk memutar generator.

“Karena adanya kesulitan pembangunan infrastruktur di daerah Turgo, menyebabkan minimnya suplai energi listrik terutama pada penerangan jalan umum sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan dan terganggunya mobilitas penduduk pada malam hari”, terangnya.

Dijelaskan lebih lanjut tentang kelebihan-kelebihan apa saja yang dimiliki oleh alat tersebut, ia menambahkan “Slimator ini dapat menekan biaya hingga 28% jika dibandingkan dengan penerangan jalan umum dan solar cell. Selain itu juga kelebihan dari Slimator ini yaitu tidak terkendala cuaca, low maintenance, mudah diaplikasikan karena dapat diterapkan di daerah pegunungan” lanjutnya.

LKTI NEST UI 2018 ini terdiri dari dua kategori seleksi, tahap pertama seleksi abstrak dan kedua seleksi grand final. 12 Tim dengan karya terbaik yang lolos tahap pertama, berhak diundang oleh panitia untuk mempresentasikan dan memamerkan karyanya di hadapan dewan juri. Untuk dapat menunjukkan hasil karyanya, tim FTI UII ini berhasil membuat sebuah prototype dari ide mereka dalam waktu dua minggu.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan karya mereka ini masih dalam tahap pengembangan sehingga masih banyak yang harus diteliti dan dikaji ulang. Oleh sebab itu, ia dan kedua temannya berharap semoga produk ini bisa terealisasi dengan cepat. (NIQ/ESP)