Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Agama Islam Universitas Islam Indonesia (DPPAI UII) menyelenggarakan Kajian Akbar Bersama Musa sang Hafidz Cilik Indonesia yang hadir bersama ayahnya, La Ode Abu Musa. Bertempat di Masjid Ulil Albab UII (28/01) selepas sholat dhuhur, kajian akbar ini mengangkat tema “Indahnya Menjadi Keluarga Penghafal Alquran”.

Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur DPPAI UII, Dr. Aunur Rohim Faqih, S.H., M.Hum dan civitas akademika UII serta masyarakat di sekitar lingkungan kampus UII. Pada kesempatan ini, Ustadz La Ode Abu Hanafi menyampaikan kisahnya mencetak generasi penghafal Alquran. Ustadz La Ode mengatakan dalam menekuni suatu ilmu itu harus istiqomah dan sabar. Termasuk bagaimana mendalami kitab suci umat Islam yakni Alquran. “Saya mengikuti apa yang Imam Syafi’i katakan yaitu kita tidak akan mendapatkan ilmu dengan 6 perkara,” ungkapnya.

Ustadz La Ode Abu Hanafi mengatakan 6 perkara itu adalah bersemangat, cerdik, bersungguh-sungguh, mempunyai bekal, bimbingan guru, dan lamanya masa belajar. Keenam perkara ini menjadi hal yang saling terkait dalam menghafal Alquran. Sebagai orang yang lebih dewasa beliau selalu menanamkan ajaran Islam di setiap memberikan pelajaran. “Di setiap memberikan edukasi kepada anak sebaiknya selalu ajarkan nilai-nilai Islam terutama dalam Alquran dan Hadist. Ini akan memicu rasa ingin tahu anak untuk mempelajari Alquran dan Hadist,” ujarnya.

Kemudian Ustadz La Ode Abu Hanafi menekankan kepada orang tua atau orang yang lebih dewasa harus cerdik dalam memberikan bimbingan kepada anak. Seiring berkembangnya teknologi kita juga perlu menggunakannya untuk media pembelajaran. “Saya di rumah mengajarkan anak-anak saya dengan mendengar murotal. Ketika saya tinggal juga harus merekam hasil hafalan yang telah di dengar. Sehingga nanti ketika lupa dapat didengarkan kembali di manapun kapanpun,” tambahnya.

Dr. Aunur Rohim Faqih, S.H., M.Hum., di akhir acara menyampaikan ini merupakan cara dari UII untuk mengajak segenap civitas akademik lebih bersemangat dalam menghafal dan mengamalkan nilai-nilai keislaman di kehidupan sehari-hari. “Semoga lewat kajian ini dapat memicu semangat kita untuk menjadi universitas rahmatan lil alamin,” pungkasnya

Hal menarik dalam kajian ini yaitu diadakannya sesi dimana para hadirin dapat menguji hafalan dari Musa. Hadirin membaca satu ayat tertentu dan kemudian dilanjutkan oleh Musa sang hafidz cilik. Dari ke semua hadirin yang manguji, mampu dituntaskan dengan baik oleh Musa baik ayat suci Alquran maupun Hadits. (ENI/ESP)