Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar publik bertajuk “Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat” pada Rabu (15/4) di Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Gedung Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII. Seminar ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar, profesor dari Department of Communications Media Indiana University of Pennsylvania, Amerika Serikat, sebagai pembicara utama.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian sambutan. Kepala Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., Ph.D., dalam sambutannya menyoroti kompleksitas ekosistem informasi di era digital saat ini. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa tantangan baru dalam memverifikasi kebenaran informasi.

“Di era sekarang, di tengah kita membicarakan informasi, itu akan sangat rentan dengan berbagai macam penyimpangan, sekarang melihat informasi perang saja harus mempertanyakan ini AI atau bukan,” ujarnya.

Iwan juga memperkenalkan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UII sebagai ruang akademik yang berupaya merespons dinamika komunikasi kontemporer, termasuk fenomena disinformasi dan polarisasi media.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Irawan Jati, S.IP., M.Hum., M.SS., Ph.D. Ia menyoroti bagaimana media di Amerika Serikat tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ideologis dan politik. Menurutnya, kondisi tersebut turut memperparah polarisasi di masyarakat.

“Kalau saya lihat secara sepintas misalnya, di Amerika itu kan media juga sangat partisan, bahkan sangat dipengaruhi oleh ideologi politik. Jadi ada media yang mainstream-nya itu ke demokrat, ada yang ke republik,” jelasnya.

Memasuki sesi utama, Prof. Nurhaya Muchtar memaparkan secara komprehensif sejarah dan perkembangan media di Amerika Serikat, serta kaitannya dengan fenomena polarisasi politik yang semakin tajam. Ia menjelaskan bahwa sejak awal, sistem media di Amerika didominasi oleh sektor swasta, berbeda dengan Indonesia yang memiliki media publik sebagai pelopor.

“Sejarah media Amerika itu identik dengan swasta, bukan negeri, jadi kalau misal kita ngomong ada TVRI dulu baru ada RCTI, kalau di Amerika enggak,” paparnya.

Lebih lanjut, Prof. Nurhaya menekankan bahwa perubahan lanskap media digital telah menggeser cara masyarakat mengonsumsi informasi. Jika sebelumnya media memiliki tanggung jawab untuk menyajikan dua sisi secara berimbang (cover both sides), kini beban tersebut berpindah ke audiens.

“Kalau dulu media yang memberikan cover both-side, sekarang kita yang harus nyari, masa sih begini, dicari, karena masalah echo chamber dan algoritma,” ungkapnya.

Fenomena echo chamber dan algoritma media sosial dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat polarisasi. Pengguna cenderung hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka, sehingga mempersempit ruang dialog dan memperkuat bias.

Dalam paparannya, Prof. Nurhaya juga membandingkan kondisi media pada masa pemilihan presiden Donald Trump, khususnya antara periode pertama dan kedua pencalonannya. Ia menilai terjadi pergeseran signifikan dalam pola konsumsi informasi, terutama di kalangan generasi muda.

“Saya melihat, terutama Gen Z di Amerika banyak yang nggak tahu yang mana benar yang mana enggak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran akan rendahnya literasi media di tengah arus informasi yang semakin masif dan kompleks. Generasi muda, yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru menghadapi tantangan besar dalam memilah informasi yang kredibel.

Seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta, yang terdiri dari mahasiswa dan akademisi, antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait polarisasi media, peran algoritma, hingga relevansi fenomena tersebut dengan konteks Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII berharap dapat membuka ruang diskusi kritis sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi media di era digital. Polarisasi informasi, sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat, menjadi refleksi penting bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi.

Seminar ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga momentum refleksi bagi peserta untuk memahami bahwa di tengah derasnya arus informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas demokrasi. (MFPS/AHR/RS)

 

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah nasional dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Qatar Debate Indonesian Chapter 2026. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Jumat (10/4) hingga Senin (13/4), bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5.

Acara ini diselenggarakan oleh El-Markazi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UII yang berfokus pada pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang keislaman serta bahasa Arab. Penyelenggaraan ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan dari Qatar Debate kepada UII untuk menjadi tuan rumah seleksi delegasi Indonesia yang akan berlaga di ajang debat internasional di Qatar.

Ketua pelaksana kegiatan, Asiyah Azzahra, menjelaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang lomba debat biasa, melainkan bagian dari proses seleksi nasional yang prestisius. “Lomba ini diselenggarakan di bawah naungan El-Markazi atas nama Qatar Debate Indonesia Chapter, yang mana ini adalah sebuah acara yang nantinya akan mendelegasikan Indonesia di Qatar Debate di tahun ini,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa antusiasme peserta cukup tinggi. Tercatat sekitar 50 peserta dari 15 universitas di seluruh Indonesia turut ambil bagian dalam kompetisi ini. “Sekitar ada 50 peserta dari 15 universitas yang ada di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat malam dengan workshop debat yang bertujuan membekali peserta dengan pemahaman dan strategi dalam berargumentasi secara kritis dan sistematis. Kegiatan ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki kompetisi utama.

Memasuki hari kedua, acara dilanjutkan dengan opening ceremony yang berlangsung khidmat sekaligus meriah. Setelah itu, kompetisi resmi dimulai dengan babak penyisihan yang dilaksanakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Para peserta saling beradu argumen dalam bahasa Arab dengan berbagai mosi yang menuntut ketajaman berpikir, kemampuan analisis, serta keterampilan komunikasi yang baik.

Puncak acara berlangsung pada hari Senin dengan digelarnya babak semifinal dan final. Pada babak semifinal, Universitas Islam Indonesia harus berhadapan dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bertemu dengan Universitas Trunojoyo Madura. Kedua pertandingan berlangsung sengit dengan masing-masing tim menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Hasilnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berhasil melaju ke babak final setelah mengalahkan lawan-lawannya di semifinal. Sementara itu, Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Islam Indonesia harus puas bertanding untuk memperebutkan posisi ketiga dan keempat.

Pada babak final, persaingan antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berlangsung ketat. Kedua tim menampilkan performa yang solid dengan argumentasi yang kuat serta penguasaan bahasa Arab yang mumpuni. Namun, pada akhirnya UNIDA Gontor berhasil keluar sebagai juara pertama setelah unggul dalam penyampaian argumen dan strategi debat.

Dengan hasil tersebut, UNIDA Gontor menempati posisi juara pertama, disusul oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai juara kedua. Posisi ketiga diraih oleh Universitas Trunojoyo Madura, sementara tuan rumah Universitas Islam Indonesia menempati posisi keempat.

Asiyah juga menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada UII menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus tanggung jawab besar. “Jadi, UII diberikan amanah dari Qatar Debate di Qatar untuk menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Qatar Debate delegasi Indonesia untuk Qatar Debate,” jelasnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kemampuan intelektual dan komunikasi mahasiswa, khususnya dalam bidang debat berbahasa Arab. Selain itu, ajang ini juga memperkuat jaringan antar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta membuka peluang untuk tampil di tingkat internasional.

Dengan terselenggaranya Qatar Debate Indonesian Chapter 2026, diharapkan lahir delegasi-delegasi terbaik yang mampu membawa nama Indonesia di kancah global. UII melalui El-Markazi pun berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang mampu menyelenggarakan ajang nasional dengan standar internasional. (MFPS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan salah satunya lembaga tinggi negara. Kali ini UII menerima lawatan kerja sama dari Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI)  pada Selasa (14/03) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Dalam kesempatan tersebut, UII dan Setjen MPR-RI juga menyepakati kerjasama yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor UII, Fathul Wahid dan Plt Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah,S.E., M.M.

Dalam sambutannya, Plt Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah,S.E., M.M menegaskan bahwa kerja sama antara MPR RI dan Universitas Islam Indonesia (UII) merupakan langkah strategis dalam memperkuat demokrasi dan nilai-nilai kebangsaan. Siti Fauziah menyebut, kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada kajian konstitusi, tetapi juga mencakup berbagai bidang lain yang relevan.

“Kerja sama ini tidak hanya pada kajian konstitusi, tetapi juga mencakup program magang mahasiswa, penguatan kehumasan, serta sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa menjadi penting sebagai upaya menanamkan pemahaman kebangsaan sejak dini, mengingat generasi muda memiliki peran strategis dalam keberlanjutan bangsa.

Sementara itu, Rektor UII, Fathul Wahid, menyampaikan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi UII dalam mencetak pemimpin masa depan bangsa. Menurutnya, UII memiliki kesiapan untuk berkontribusi melalui berbagai disiplin ilmu yang dimiliki.

“UII siap berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung program-program kebangsaan,” ungkapnya.

Ia juga berharap kolaborasi ini dapat membuka ruang sinergi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan lembaga negara dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Kegiatan ini juga diakhiri dengan sesi diskusi dan penandatanganan nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kerja sama ke depan. Melalui kolaborasi ini, kedua belah pihak berharap dapat menghadirkan berbagai program yang berdampak, khususnya dalam penguatan wawasan kebangsaan, peningkatan kapasitas generasi muda, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (AHR/RS)

Upaya penguatan layanan kebahasaan terus dilakukan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan melalui kunjungan studi banding Unit Pengembangan Bahasa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Aceh ke CILACS UII Yogyakarta pada Senin (13/4).

Kunjungan yang berlangsung di kantor CILACS UII, Unit Demangan, Yogyakarta ini bertujuan untuk menggali praktik terbaik dalam pengelolaan pusat bahasa, khususnya dalam pengembangan program pelatihan serta penyelenggaraan tes TOEFL ITP resmi yang kredibel dan terstandar untuk kebutuhan kelulusan maupun beasiswa mahasiswa.

Rombongan Unit Pengembangan Bahasa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dipimpin oleh Rizka Rivensky selaku Ketua, didampingi Elfiadi dari Fakultas Tarbiyah. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Kepala CILACS UII, Rr. Ratna Roostika, SE., MAC., Ph.D., yang diwakili oleh jajaran manajemen antara lain Aditya Suci (Kepala Departemen Pemasaran), Suprihatin (Kepala Departemen Akademik), serta Sudharmanto (Kepala Departemen Layanan Tes).

Dalam pertemuan tersebut, tim CILACS UII memaparkan secara komprehensif perjalanan institusi, mulai dari pengembangan program, inovasi layanan, hingga sistem pengelolaan tes bahasa yang telah terstandarisasi. Paparan ini menjadi referensi penting bagi UIN Sultanah Nahrasiyah yang saat ini tengah mengembangkan unit layanan bahasa secara lebih optimal.

Rizka Rivensky menyampaikan bahwa saat ini Unit Pengembangan Bahasa di institusinya masih menghadapi sejumlah tantangan, baik dalam hal optimalisasi layanan maupun penyediaan tes TOEFL ITP resmi. Oleh karena itu, kunjungan ini diharapkan dapat memberikan gambaran konkret serta solusi aplikatif yang dapat diadaptasi.

Diskusi berlangsung dalam suasana santai namun produktif, ditandai dengan sesi tanya jawab interaktif terkait berbagai kendala yang dihadapi serta strategi penyelesaiannya. Selain itu, kedua belah pihak juga membuka peluang kerja sama ke depan, khususnya dalam penguatan layanan tes dan pengembangan program kebahasaan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan pengalaman yang dapat mendorong peningkatan kualitas layanan bahasa di lingkungan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, sekaligus memperkuat jejaring antar lembaga pengembangan bahasa di Indonesia. (ANK/AHR/RS)

Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyah), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar Sinergi Praktisi dan Akademisi: Membedah Jalur Karier Hakim serta Metodologi Riset Hukum Berbasis Praktik pada Senin (13/04) di Gedung K.H. Wahid Hasyim FIAI UII.

Seminar ini diisi langsung oleh dua hakim lulusan program studi Ahwal Syakhsiyah yang memiliki pengalaman luas di dunia peradilan yaitu Dr. M. Khusnul Khuluq S.Sy., S.H., M.H selaku Hakim Yustisial Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung RI dan Samsul Zakaria, S.Sy., M.H selaku Hakim Pratama Madya PA Soreang Kelas 1B. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa program studi Hukum Keluarga dari jenjang sarjana hingga doktoral.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.A yang mengatakan bahwa  karier seorang hakim di bidang peradilan Islam memiliki kekayaan dan kompleksitas tersendiri. Posisi hakim bukan hanya sekadar jabatan, tetapi merupakan amanah besar yang membutuhkan kompetensi, integritas, serta kapasitas keilmuan yang terus ditingkatkan.

“Saat ini, pengembangan karier hakim tidak bisa dilepaskan dari jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan sarjana hingga doktoral, semua memiliki peran penting dalam membentuk kualitas seorang hakim. Oleh karena itu, peningkatan kualifikasi akademik menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung profesionalitas di bidang peradilan,” ungkap Asmuni.

Lebih lanjut, seorang hakim memiliki tanggung jawab besar dalam memutus perkara secara adil dan bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara kemampuan praktis dan kedalaman akademik. “Di sinilah pentingnya sinergi antara dunia akademik dan praktik hukum agar dapat saling menguatkan,” harapnya.

Salah satu bahasan utama dalam seminar ini adalah upaya meluruskan persepsi publik mengenai statistik perceraian yang sering kali dianggap sebagai krisis sosial. Sebagai praktisi, Samsul Zakaria menjelaskan bahwa angka 8.400 perkara di PA Soreang tidak bisa ditelan mentah-mentah sebagai angka perceraian semata, karena mencakup berbagai jenis perkara hukum keluarga lainnya sesuai amanat undang-undang.

Penting bagi masyarakat dan akademisi untuk melihat korelasi antara padatnya populasi dengan jumlah perkara yang masuk. Melalui paparan “Beyond Divorce Statistics”, ditekankan perlunya sikap bijak dalam menafsirkan data pengadilan, yakni dengan strategi “Membaca data Pengadilan Agama dengan akal sehat dan empati,” tegasnya

Diskusi kemudian berkembang pada dekonstruksi konsep nafkah dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dinilai perlu kontekstualisasi agar lebih adil bagi perempuan di era modern. Dr. Khusnul Khuluq memaparkan bahwa teks hukum yang menempatkan suami sebagai pencari nafkah tunggal sering kali berbenturan dengan realitas kolaborasi ekonomi keluarga saat ini. Hakim didorong untuk melakukan ijtihad sosiologis guna memastikan keadilan bagi istri yang juga berperan aktif di ruang publik agar tidak memikul beban ganda.

Peninjauan ulang ini krusial karena sifat hukum yang dinamis, sebagaimana ditegaskan dalam materi tersebut bahwa “KHI adalah ‘hukum Islam khas Indonesia’. Sebagai produk konsensus dan politik masa lalu, ia terbuka untuk terus dikritisi dan dikontekstualisasikan ulang,” ungkapnya.

Seminar ini tidak hanya menumbuhkan semangat mahasiswa untuk meniti karier sebagai hakim di masa depan, tetapi juga memperluas wawasan mereka dalam memahami dinamika penyelesaian persoalan keluarga di ranah peradilan. Melalui pemaparan langsung dari para praktisi, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan, tanggung jawab, serta kompleksitas perkara yang dihadapi dalam praktik peradilan agama.

Selain itu, kegiatan ini turut mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam merespons berbagai persoalan hukum keluarga yang berkembang di masyarakat. Dengan mengintegrasikan perspektif akademik dan pengalaman praktis, seminar ini diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan pemahaman yang komprehensif serta kesiapan dalam menghadapi dunia profesional di bidang hukum keluarga. (AHR/RS)

Pemerintah Kota Yogyakarta melanjutkan program pembangunan rumah layak huni berbasis komunitas ke tahap kedua dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Universitas Islam Indonesia (UII). Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (09/04) di Kampung Lampion, Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyampaikan apresiasi atas kontribusi UII dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan program tersebut. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UII, Pak Rektor, Pak Dekan, dan seluruh sivitas akademika yang telah membantu dengan luar biasa,” ujar dr. Hasto

Program ini tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menata lingkungan bantaran sungai agar lebih bersih dan sehat. Masyarakat pun diimbau untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah ke sungai.

Lebih lanjut, Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D menegaskan komitmen kampus dalam mendukung penataan pemukiman kumuh di Kota Yogyakarta

Dalam hal ini kami (UII-red) bekerjasama dengan NGO dalam payung Pengabdian dan Kolaborasi International untuk mencari Hibah dan Support Pendanaan terkait program permukiman Kumuh di DIY. Salah satunya melalui program Roof Over Our Head dengan SPARC India yang sudah dilaksanakan program nya dalam wujud Penataan Permukiman Kumuh di Kampung Lampion Yogyakarta pada 2025,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah menargetkan pembangunan infrastruktur pendukung seperti akses jalan di sepanjang sungai yang pada tahun ini difokuskan di beberapa titik, sebagai bagian dari upaya menghubungkan kawasan bantaran sungai dari hulu hingga hilir dalam empat tahun ke depan.

Tahap pertama telah menghasilkan 38 unit rumah. Dengan dimulainya tahap kedua, diharapkan pembangunan dapat berjalan lebih cepat dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka kita mulai tahap dua,” pungkas dr. Hasto Wardoyo. (AHR/RS)

Halalbihalal dan pelepasan jamaah calon haji 1447 H yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Ikatan Keluarga Ibu-Ibu (IKI) Universitas Islam Indonesia (UII) berlangsung pada Rabu (08/04) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus IKI UII, keluarga besar UII, serta para calon jamaah haji, dengan rangkaian acara dari registrasi, penampilan hadroh, sambutan, hingga tausiyah.

Momentum ini menjadi ruang silaturahmi pasca-Ramadan sekaligus penguatan spiritual bagi calon jamaah haji. Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan refleksi bersama mengenai keberlanjutan nilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua IKI UII, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D. , mengajak peserta untuk menjaga kesinambungan nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, tidak berhenti pada momentum semata.

“Momen berkumpulnya kita hari ini tidak hanya untuk saling lepas rindu saja, namun juga merawat jejak jejak kebaikan yang telah kita buat selama bulan ramadhan, agar tetap hidup dan berlanjut dalam keseharian kita.”

Perwakilan jamaah calon haji, Dr. Noor Fitri, menekankan bahwa ibadah haji adalah perjalanan yang menuntut kesiapan lahir dan batin, sehingga membutuhkan dukungan doa dari lingkungan sekitar.

“Kami memohon doa dari bapak ibu sekalian, karena kami tahu haji bukan hanya perjalanan fisik saja, tetapi juga proses pembelajaran dan evaluasi diri yang menuntut pengetahuan, kesabaran, serta ketawakkalan kepada Allah SWT dalam setiap tahapnya.”

Kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang dibawakan oleh Ustadz Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. tentang kemuliaan peran istri dalam rumah tangga sebagai bentuk ketaatan. “Menjadi istri itu adalah bentuk ketaatan yang mulia; ketika ia mampu menenangkan, meneduhkan, dan menghadirkan kesejukan dalam rumah tangga, di situlah ia meneladani kemuliaan Khadijah binti Khuwailid sebagai penopang bagi suaminya.”

Prof. Agung kemudian mengaitkan peran tersebut dengan praktik keseharian, khususnya selama Ramadan yang sarat dengan pengorbanan.“Apalagi di bulan Ramadan, setiap lelah bangun sahur, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga mengorbankan waktu dan tenaga, semua itu bernilai ibadah dan menjadi bukti nyata ketaatan seorang istri di hadapan Allah.”

Sebagai penegasan, Prof. Agung menutup dengan menekankan bahwa nilai utama terletak pada niat dan keikhlasan dalam setiap peran yang dijalankan. “Maka keistimewaan seorang istri tidak hanya terletak pada perannya, tetapi pada niat dan keikhlasan yang menjadikan setiap aktivitasnya bernilai pahala di sisi-Nya.”

Kegiatan ini pun menegaskan bahwa halalbihalal tidak sekadar tradisi silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai, doa, dan kesiapan spiritual dalam menyambut ibadah haji. (IMK/AHR/RS)

Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan FTI Expo 2026 pada Rabu-Minggu (08-12/04) di Pakuwon Mall Jogja. Kegiatan ini menjadi ruang ruang kolaborasi antara dunia pendidikan, kreativitas, dan industri dalam satu rangkaian acara yang interaktif dan inspiratif.

FTI Expo 2026 dikemas dalam bentuk pameran terbuka yang menampilkan inovasi, kreativitas, serta potensi akademik mahasiswa dari delapan program studi di lingkungan FTI UII. Dengan lokasi penyelenggaraan di pusat perbelanjaan yang memiliki tingkat kunjungan yang tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu menjangkau siswa SMA/SMK, orang tua calon mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum secara lebih luas.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni FTI UII, Dr. Arif Hidayat, S.T., M.T dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini untuk membuktikan bahwa FTI tidak hanya berfokus pada bidang akademik. Tetapi, juga mampu memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa dalam mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas.

Lebih lanjut,  Arif menjelaskan FTI Expo tahun ini menampilkan pameran interaktif dari delapan program studi di lingkungan FTI UII. Setiap program studi menampilkan stan yang berisi informasi akademik, karya inovasi mahasiswa, prototype teknologi, serta demonstrasi alat dan sistem yang telah dikembangkan.

“Selain itu, akan diselenggarakan talkshow dari masing-masing program studi. Kami juga menyelenggarakan berbagai perlombaan bagi siswa SMA di wilayah DIY, seperti lomba storytelling, lomba vokal, dan lomba tari saman di hari terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa di FTI, tidak hanya aspek akademik yang dikembangkan, tetapi juga minat dan bakat mahasiswa serta pelajar.” jelas Arif.

Melalui kegiatan ini, FTI UII berupaya inovasi, kreativitas, dan potensi mahasiswa dari tujuh program studi, sekaligus membuka akses informasi dan layanan pendaftaran mahasiswa baru secara langsung di lokasi acara. Diharapkan, FTI Expo 2026 dapat menjadi wadah yang mempertemukan ide, bakat, teknologi, dan peluang masa depan dalam satu pengalaman yang edukatif sekaligus menghibur. (AHR/RS)

Dalam upaya strategis meningkatkan mutu dan jangkauan layanan kebahasaan bagi civitas akademika, Lembaga Bahasa Asing Universitas Islam Malang (LPBA UNISMA) melaksanakan kunjungan studi tiru ke Cilacs Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada Kamis (02/04). Kunjungan ini difokuskan pada penyerapan ilmu tata kelola pusat bahasa modern dan inovatif.

Delegasi LPBA UNISMA yang dipimpin langsung oleh Ketua LPBA, Ika Hidayanti, S.Pd., M.Pd., beserta staf manajemen, diterima dengan hangat oleh Kepala Cilacs UII, Rr. Ratna Roostika, SE., MAC., Ph.D., yang didampingi oleh jajarannya antara lain  Kadep Aditya Suci (kadep Pemasaran), Aisyiyah (Kadep Keuangan), Enggar Solichatun (Kadep SDM), Suprihatin (Kadep Akademik), dan Sudharmanto (Kedep Layanan Tes) di Kantor UII Unit Demangan.

Dalam sambutannya, Rr. Ratna Roostika menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan LPBA UNISMA memilih Cilacs UII sebagai rujukan belajar. Beliau memaparkan perjalanan panjang, transformasi, serta berbagai inovasi layanan yang telah dilakukan Cilacs UII hingga menjadi salah satu pusat bahasa terkemuka.

Kunjungan ini didasari komitmen LPBA UNISMA untuk mengoptimalkan layanan kebahasaan yang saat ini dirasa belum sepenuhnya maksimal. Melalui diskusi interaktif, kedua pihak membedah kendala-kendala operasional yang dihadapi lembaga bahasa, termasuk strategi pengadaan tes internasional resmi seperti TOEFL ITP, serta pengembangan program kursus, BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), dan layanan penerjemahan.

Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan (knowledge sharing), tetapi juga membuka peluang kolaborasi formal antara kedua institusi di masa depan untuk pengadaan program-program kebahasaan yang diperlukan. Acara diakhiri dengan pertukaran cendera mata dan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi. (ANK/AHR/RS)

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar prosesi Janji Dokter Muda Periode I Tahun 2026 pada Kamis (02/04). Acara yang diselenggarakan di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII diikuti oleh 172 dokter muda FK UII yang akan memasuki tahap pendidikan klinik di rumah sakit pendidikan. Hadir dalam acara tersebut jajaran pimpinan universitas dan pimpinan FK UII, Ketua Komkordik FK UII, dan perwakilan dari rumah sakit pendidikan utama dan satelit FK UII yang menyaksikan jalannya prosesi acara ini.

Dalam sambutannya, dekan FK UII, Dr.dr.Isnatin Miladiyah, M.Kes mengatakan tahapan profesi yang akan dilanjutkan adalah fase yang unik. Menurutnya, dalam fase ini ilmu bertemu empati, teori bertemu realitas, dan idealisme bertemu keterbatasan.

“Perjalanan Anda ke depan tidak selalu mudah. Akan ada jaga malam, kurang tidur, dimarahi konsulen—kadang tanpa salah yang jelas, dan mungkin juga salah menulis SOAP di awal-awal. Akan ada hari-hari ketika Anda merasa lelah. Bangun pagi, pulang malam, revisi laporan, jaga malam, lalu besoknya mulai lagi dari awal,” ungkapnya.

Tak lupa, Dr. Isnatin berpesan agar tidak takut ketika merasa belum cukup untukkarena setiap dokter hebat pernah beraada di titik yang sama. Belajar, jatuh, bangkit kembali—itulah proses menjadi profesional sejati. “Pada saat ada rasa payah, jangan menyerah karena dokter hebat lahir dari usaha yang tak kenal lelah,” pesannya.

Senada, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si menekankan bahwa pendidikan klinik merupakan fase pembelajaran yang sesungguhnya. Para mahasiswa akan menghadapi berbagai permasalahan nyata di lapangan yang mungkin belum sepenuhnya ditemui di ruang kelas. Proses ini diharapkan dapat melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya.

“Para dokter muda harus senantiasa menjadikan pasien sebagai sumber pembelajaran utama, serta menjaga etika, profesionalisme, dan integritas dalam setiap tindakan.”

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSUD Dr. Soeodno Madiun sebagai perwakilan dari rumah sakit pendidikan utama FK UII berpesan agar para dokter muda senantiasa menghormati pasien sebagai guru terbesar, menjaga integritas, dan etika, serta tidak ragu dalam mengeksplorasi ilmu dari para spesialis dan sivitas rumah sakit.

“Seraplah ilmu sebanyak-banyaknya selama masa stase Anda. Belajarlah dari semua sisi karena menjadi dokter yang baik adalah belajar seumur hidup,” jelasnya.

Acara Janji Dokter Muda ini merupakan momentum penting yang menandai awal perjalanan para dokter muda dalam menimba pengalaman dengan penuh tanggung jawab moral serta menjunjung tinggi etika kedokteran. Momentum ini diharapkan tidak hanya sebatas pengucapan ikrar janji, tetapi juga menjadi titik awal bagi dokter muda untuk terus belajar, menjaga profesionalitas, serta mengasah empati dan integritas dalam praktik kedokteran. (AHR/RS)