Meningkatnya fenomena marriage is scary dan pilihan hidup childfree di tengah masyarakat dinilai bukan sekadar tren generasi muda, melainkan sinyal krisis kepercayaan terhadap institusi keluarga dan sistem perlindungan negara. Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Hukum Keluarga Program Sarjana (Ahwal Syakhshiyah) Universitas Islam Indonesia (UII), Dr. Maulidia Mulyani, S.H., M.H dalam pidato ilmiah bertajuk Dinamika Kerentanan Perempuan-Anak dan Intervensi Negara dalam Keluarga yang disampaikan pada Rapat Terbuka Senat Milad ke-83 UII di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Senin (19/01).

Dr. Maulidia menjelaskan bahwa ketakutan terhadap pernikahan tidak lahir hanya dari penolakan terhadap nilai agama maupun institusi keluarga tetapi diperparah oleh stigma sosial dan kesulitan dalam menemukan pasangan yang sesuai. Menurutnya, yang ditakuti masyarakat bukanlah pernikahan itu sendiri, melainkan potensi kerentanan yang menyertainya.

“Di sisi lain, stigma posisi rentan perempuan masih selalu ada baik dalam lingkup domestik maupun publik. Yang ditakuti bukan pernikahannya, tetapi perangkap kerentanan di dalamnya—mulai dari kekerasan fisik dan psikis, ketidakadilan ekonomi, hingga lemahnya perlindungan hukum,” kata Maulidia.

Munculnya fenomena marriage is scary dan childfree sejalan dengan kaidah fikih dari konsep menolak kerusakan—da’ru al-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al-masalih, dimana seorang individu memilih untuk menghindari potensi kerugian dan ketidakadilan yang mungkin timbul dari pernikahan atau memiliki anak, terutama jika negara yang ada hari ini belum mampu memberikan perlindungan yang memadai.

“Ketakutan ini juga bisa ditafsirkan dan sejalan dengan kaidah fikih dari hadis Nabi Muhammad saw: La darar wa la dirar—tidak boleh berbuat mudarat dan tidak boleh membalas kemudaratan. Mereka menunda pernikahan bukan karena menolak sunnah, tetapi karena takut pada kemudaratan takut menjadi korban kekerasan fisik, psikis, maupun ekonomi yang belum sepenuhnya terlindungi oleh sistem hukum maupun budaya patriarki kita hari ini,” terang Maulidia

Selain itu, Maulidia menilai pilihan hidup childfree sering kali lahir dari kesadaran kritis dan rasa tanggung jawab sosial. “Keputusan untuk tidak memiliki anak bukan karena membenci anak, melainkan karena kekhawatiran melahirkan generasi yang tumbuh dalam sistem yang belum ramah anak, penuh kekerasan, dan minim perlindungan,” ungkapnya.

Dalam pidatonya, Maulidia menekankan pentingnya intervensi negara yang lebih konkret dan berkelanjutan. Negara, menurutnya, tidak cukup hanya menghadirkan regulasi, tetapi juga harus memastikan implementasi yang berpihak pada kelompok rentan. Ia mendorong penguatan kebijakan pengasuhan, penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan, serta pembangunan sistem dukungan keluarga yang adil dan setara.

Menutup pidatonya, Maulidia menegaskan bahwa masa depan keluarga dan peradaban sangat bergantung pada keberpihakan terhadap perempuan dan anak. “Harmoni dan jejak lestari hanya dapat diwujudkan jika negara hadir secara nyata sebagai pelindung kolektif—melindungi perempuan, menjamin hak anak, dan memastikan keluarga menjadi ruang tumbuh yang aman, adil, dan bermartabat,” pungkasnya. (AHR/RS)

Memasuki awal tahun 2026, Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menambah caca profesor. Kali ini, jabatan akademik tertinggi berhasil diraih oleh Dosen Program Studi Hukum Fakultas Hukum, Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si sebagai profesor dalam bidang Ilmu Hukum Hak Asasi Manusia.

Dengan bertambahnya satu profesor baru, hingga awal 2026 UII memiliki 48 profesor aktif yang tersebar di berbagai bidang keilmuan. Capaian tersebut mencerminkan komitmen UII dalam memperkuat pengembangan akademik, riset, dan kontribusi keilmuan bagi masyarakat.

Proses serah terima Surat Keputusan (SK) Kenaikan Jabatan Akademik Profesor secara simbolis diserahkan pada Rabu (14/1) di Gedung Prof. Dr. dr. Sardjito, M.D., M.P.H., Kampus Terpadu UII oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., kepada Rektor UII, Fathul Wahid. Selanjutnya, SK tersebut diserahkan Rektor kepada Suparman Marzuki.

Dalam sambutannya, Rektor UII Fathul Wahid menyampaikan bahwa penambahan profesor di lingkungan UII merupakan capaian penting yang harus dimaknai secara lebih mendalam. Menurutnya, universitas tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan, riset, dan inovasi yang bermanfaat, tetapi juga menjaga martabat dan ruh keilmuannya.

“Universitas tidak boleh kehilangan martabatnya. Martabat universitas terletak pada komitmen pada kebenaran, otonomi keilmuan, integritas akademik, dan pembentukan manusia beradab,” tegas Rektor.

Ia menjelaskan bahwa nilai kebermanfaatan perlu ditempatkan secara proporsional. Kebermanfaatan, lanjutnya, harus menjadi buah dari pencarian kebenaran ilmiah, bukan tujuan tunggal yang justru dapat menggerus nilai dasar universitas. “Universitas mencari kebenaran karena kebenaran itu bernilai, dan pada akhirnya kebenaran akan menghadirkan manfaat,” ujarnya.

Rektor berharap, dengan bertambahnya profesor baru, UII dapat terus memperkuat perannya sebagai institusi peradaban. “UII akan tetap relevan, bukan hanya karena berguna, tetapi karena bermakna bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Dalam wawancaranya, Suparman Marzuki mengungkapkan menjadi seorang profesor adalah puncak tanggung jawab atau noblesse oblige. Menurutnya, gelar ini bukan sekadar pengakuan atas produktivitas akademik, melainkan mandat moral untuk menjadi suara bagi mereka yang tak terdengar.

“Pencapaian ini adalah pengingat bahwa semakin tinggi kedudukan akademik seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk membela martabat manusia dan memastikan keadilan hukum dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII ini mengatakan fokus utama yang menjadi bidang keilmuan yang ditekuni adalah Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) yang ke depannya diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membangun kerangka hukum yang integrative bagi pemenuhan, penghormatan, dan perlindungan hak asasi manusia.

“Riset hukum yang saya tekuni bertujuan untuk menghadirkan keadilan yang substantif. Melalui kajian terhadap perlindungan HAM, riset saya berupaya memberikan rekomendasi kebijakan bagi penguatan regulasi yang lebih memihak kepada kelompok rentan. Memastikan bahwa instrumen hukum bukan sekadar teks yang kaku, melainkan alat untuk memanusiakan manusia,” lanjut Suparman Marzuki.

Sosok dosen yang juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Yudisial RI tahun 2013 – 2015 ini berpesan bahwa dunia akademik, terutama di bidang hukum, menuntut ketajaman akal sekaligus kepekaan nurani.

“Pesan saya, jadilah Intelektual yang berpihak, hukum tidak beroperasi di ruang hampa, ia selalu bersentuhan dengan realitas kemanusiaan, jangan hanya mengejar apa bunyi undang-undangnya, tapi tanyakan apakah ini adil,” tutur Suparman Marzuki.

Tak lupa, Suparman Marzuki juga menyampaikan pesan kepada para dosen muda dan mahasiswa agar terus bertumbuh dan berkontribusi dalam dunia akademik.

“Teruslah membaca dan mendengar, jangan pernah merasa sudah sampai di ujung ilmu. Teruslah belajar dari buku, namun jangan lupa untuk mendengar keresahan masyarakat, karena dari sanalah inspirasi riset yang paling bermakna berasal,” tutupnya. (AHR/RS)

Selamat atas jabatan guru besar untuk Prof Suparman Marzuki. Beliau adalah profesor ke-56 yang lahir dari rahim Universitas Islam Indonesia (UII) dan satu dari 48 profesor aktif di UII. Saat ini, alhamdulillah, saat ini proporsi dosen yang menjadi profesor adalah 6,2% (48 dari 779 dosen).

Persentase ini, meskipun belum sangat tinggi dibandingkan di kalangan PTN yang sekitar 9,6% (7.740 dri 80.843), tetapi proporsi dosen yang sudah menduduki jabatan profesor di PTN dan PTS di akhir 2024 (Setjen Kemdiktisaintek, 2024) baru mencapai 3,8% (11.506 dari 303.67), dan di khusus untuk PTS bahkan jauh lebih rendah, yaitu 1,4% (2.347 dari 168.832).

Ini adalah SK profesor pertama yang diterima UII di 2026. Selama 2025, UII mendapatkan 7 SK profesor.

Saat ini, UII memiliki 779 dosen, dengan 253 di antaranya bergelar doktor (S3). Dari jumlah tersebut, 115 dosen telah menduduki jabatan akademik Lektor Kepala, dan 79 dosen di antaranya telah memenuhi persyaratan formal untuk memperoleh jabatan akademik tertinggi, yakni profesor.

 

Manfaat dengan martabat

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak untuk melakukan refleksi singkat tentang tema yang sangat penting bagi perguruan tinggi hari ini, yaitu kompatibilitas nilai utilitas dengan karakteristik dasar universitas. Atau, jika kita sederhanakan: bagaimana universitas tetap bermanfaat, tanpa kehilangan martabat akademik dan ruh keilmuannya.

Sambutan ini diinspirasi oleh artikel Cekić (2018) berjudul “Utilitarianism and The Idea of University: A Short Ethical Analysis” yang terbit di jurnal Philosophy and Society.

Mengapa nilai utilitas terasa semakin dominan? Kita menyadari bahwa dunia hari ini berubah sangat cepat. Universitas dihadapkan pada tuntutan yang terus meningkat: lulusan harus cepat terserap, riset harus berdampak, layanan harus efisien, kerja sama harus produktif, dan semua itu harus bisa diukur.

Semangat semacam ini dekat dengan yang dalam etika dikenal sebagai utilitarianisme, pandangan bahwa sesuatu dianggap baik jika memberi manfaat yang besar.

Bagi UII, kebermanfaatan bukanlah sesuatu yang asing. Kita hidup dalam tradisi Islam yang sejak awal menempatkan maslahah sebagai orientasi: menghadirkan kebaikan, mencegah kerusakan, dan membawa rahmat bagi semesta.

Namun di sinilah kita perlu berhati-hati: nilai utilitas yang tidak dibimbing nilai dasar universitas dapat mengubah kampus menjadi sekadar mesin produksi. Pola pikir neoliberalisme yang menghadirkan pendekatan korporatisasi pendidikan tinggi cenderung ke arah ini.

 

Institusi peradaban

Universitas memang menghasilkan lulusan, inovasi, dan pengetahuan. Tetapi universitas yang sejati bukan pabrik. Ia adalah institusi peradaban.

Dalam kajian filsafat pendidikan tinggi, universitas dipahami bukan sekadar tempat melatih profesi, tetapi tempat membentuk manusia; manusia yang berilmu, beradab, dan mampu berpikir jernih.

Karena itu, karakter dasar universitas harus terus dijaga. Di sana adalah pencarian kebenaran ilmiah, kebebasan akademik dan otonomi, integritas ilmiah dan moral, pengembangan daya kritis, dan ruang pertukaran gagasan yang dewasa dan bermartabat.

Inilah DNA universitas. Jika hilang, maka universitas tinggal nama.

Apakah universitas dan utilitas bertentangan? Tidak selalu. Tetapi utilitas harus ditempatkan sebagai buah, bukan sebagai akar.

Dalam nalar akademik, universitas bukan memproduksi pengetahuan hanya karena pengetahuan itu berguna, tetapi universitas mencari kebenaran karena kebenaran itu bernilai, dan pada akhirnya kebenaran akan menghadirkan manfaat.

Dalam istilah lain: universitas punya nilai intrinsik (nilai pada dirinya), sementara utilitas adalah nilai instrumental (nilai karena dampaknya).

Bagaimana dengan UII? Jika kita sepakat bahwa nilai-nilai Islam sebagai fondasi, maka kita tahu bahwa Islam mengajarkan: ilmu adalah kemuliaan, dan kemuliaan itu pada akhirnya akan menjadi maslahat bagi banyak orang.

 

Risiko utilitas

Apa risiko yang kita hadapi, jika utilitas menjadi satu-satunya kompas? Kalau utilitas menjadi tujuan tunggal, akan muncul beberapa risiko:

Pertama, universitas bisa tergoda menyingkirkan hal-hal yang tidak cepat terlihat manfaatnya: filsafat, humaniora, pemikiran kritis, perenungan etis, bahkan seni. Dalam konteks lain, di lapangan, nanfaat bahkan kadang direduksi: apakah diperhitungkan dalam akreditasi atau tidak.

Kedua, utilitas yang sempit bisa mendorong logika “yang penting angka”, seperti ranking, cacah publikasi, kuantitas hibah, kuantitas lulusan, tanpa memperhatikan kualitas karakter.

Ketiga, utilitarianisme sering dikritik karena berpotensi membenarkan tindakan yang secara moral problematik, seperti manipulasi dan pengorbanan pihak kecil demi pihak besar.

Sebagai contoh, sebuah universitas “menghalalkan” beragam cara untuk mendapatkan ranking, karena berpengaruh dengan anggaran yang akan didapat. Atau, sebuah program studi memanipulasi data untuk mendapatkan akreditasi bagus.

Praktik ini berbahaya. Universitas tidak boleh menjadi institusi yang melegitimasi manipulasi atas nama utilitas.

Dalam artikelnya, Cekić membahas “kenikmatan tingkat rendah” (“lower pleasures“), seperti hedonisme fisik; dan “kenikmatan tingkat tinggi” (“higher pleasures“), seperti aspek spiritual atau intelektual. Dalam bahasa santri, keberkahan (kebaikan yang bertambah) bisa jadi masuk sebagai “kenikmatan tingkat tinggi”. Konsep utilitarianisme klasik tidak membedakan ini.

 

Posisi UII

UII punya kekhasan: kita tidak hanya menjaga tradisi universitas modern, tetapi juga merawat ruh pendidikan Islam: ilmu yang melahirkan adab.

Karena itu, menurut keyakinan saya: UII menerima utilitas sebagai orientasi manfaat sosial, tetapi UII menolak reduksi utilitas menjadi satu-satunya ukuran kebenaran dan kualitas, dan UII menjaga karakter universitas yang otonom, berintegritas, dan kritis.

Inilah jembatan antara utilitas dan jati diri universitas: utilitas dibimbing oleh etika, manfaat dijaga agar tidak menjadi pragmatisme sempit, dan produktivitas dituntun oleh integritas.

 Saya ingin menutup dengan satu rumusan sederhana: universitas tidak boleh kehilangan martabatnya.

Martabat universitas terletak pada: komitmen pada kebenaran, otonomi keilmuan, integritas akademik, dan pembentukan manusia beradab.

Pada titik inilah, insyaallah, UII akan tetap relevan: bukan hanya relevan karena “berguna,” tetapi relevan karena “bermakna.”

Semoga Allah meridai UII dan kita semua.

 

Referensi

Cekić, N. (2018). Utilitarianism and the idea of university. Philosophy and Society, 29(1), 73-87.

Setjen Kemdiktisaintek (Sekretariat Jenderal, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) (2024). Statistik Pendidikan Tinggi 2024. Setjen Kemdiktisaintek

 

Sambutan pada serah terima Surat Keputusan Jabatan Akademik Profesor Suparman Marzuki di Universitas Islam Indonesia pada 14 Januari 2026.

 

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

 

Universitas Islam Indonesia (UII) peringati Milad ke-83 dengan mengangkat tema Harmoni untuk Jejak Lestari. Disampaikan Rektor UII, Fathul Wahid dalam Media Gathering UII 2026 pada Selasa (13/01), tema ini sarat dengan makna yang mendalam. Menurutnya, harmoni merupakan fondasi keberlanjutan terlebih saat ini UII tengah menjalani berbagai proses pengembangan.

“Semua keputusan yang diambil hari ini kami yakini akan menjadi investasi berharga di masa depan. Fondasi yang telah dibangun akan terus diperkuat agar UII dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Senada, Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII,  Dr. Drs. Asmuni, M.A. mengungkapkan tema milad kali ini memiliki makna yang sangat kuat terlebih untuk pengembangan keilmuan dan keislaman.

“Harmoni tersebut mencakup nilai spiritual, nilai keilmuan, dan nilai kemanusiaan. Nilai spiritual tercermin dalam konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Nilai keilmuan diwujudkan melalui komitmen kampus dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai tugas utama perguruan tinggi,” tutur Dr. Asmuni.

Lebih lanjut, dalam pengembangan studi Islam di UII diterapkan dalam kerangka epistemologi tiga pilar yaitu tradisi keilmuan Islam klasik, keterbukaan terhadap modernitas dan ilmu pengetahuan global, serta konteks keindonesiaan. Ketiga pilar tersebut menjadi dasar pengembangan keilmuan Islam yang relevan dan kontekstual.

“Nilai kemanusiaan menjadi pilar ketiga yang menegaskan komitmen UII pada moderasi, kebangsaan, dan keberpihakan pada kemaslahatan bersama. Dengan demikian, harmoni yang dibangun tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga nyata dalam praktik kehidupan,” tegasnya.

Tak lupa, Dr. Asmuni juga memberikan pesan bahwa momentum milad ini menjadi pengingat akan jati diri UII. Ketika sebuah institusi melupakan nilai-nilai dasarnya, maka ia akan kehilangan arah. Oleh karena itu, pembaruan nilai-nilai UII menjadi pusat refleksi pada usia ke-83 ini. (AHR/RS)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memandang kebaikan sebagai sesuatu yang sederhana dan sesaat. Padahal, dalam pandangan iman, satu niat dapat melahirkan satu amal, satu amal dapat memengaruhi banyak orang, dan satu kebaikan dapat menjalar jauh melampaui waktu dan pelakunya. Inilah yang bisa kita sebut sebagai reaksi berantai kebaikan.

 

Meluruskan niat

Dalam Islam, kebaikan selalu dimulai dari niat. Amal yang sama, jika dilakukan dengan niat yang berbeda, akan melahirkan energi, semangat, dan dampak yang berbeda pula.

Ada sebuah kisah sederhana tentang seorang ibu yang menasihati anaknya setelah melihat seorang pemulung. Nasihat itu bisa berbunyi dengan dua cara yang sangat berbeda. “Sekolah yang rajin, supaya tidak seperti dia.” Atau, “Sekolah yang rajin, supaya kelak kamu bisa menolong dia.”

Keduanya sama-sama mendorong anak untuk belajar, tetapi lahir dari cara pandang yang berbeda. Yang pertama lahir dari rasa takut dan jarak, yang kedua dari empati dan kepedulian. Di sinilah niat membentuk arah batin sebuah perbuatan.

Hal yang sama terjadi di dunia kampus. Seorang mahasiswa bisa datang ke kelas dengan beragam niat: sekadar mengisi waktu, takut pada dosen, menjalankan amanah orang tua, mensyukuri kesempatan berkuliah yang hanya dinikmati sebagian kecil pemuda seusianya, atau menghadiri majelis ilmu sebagai ibadah. Secara fisik, tindakannya sama: duduk di kelas. Namun secara ruhani, nilainya bisa sangat berbeda.

Dosen pun demikian. Publikasi ilmiah bisa dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif, mengejar insentif, membangun kebanggaan diri yang berlebihan, memenuhi kebutuhan akreditasi, atau sebagai ikhtiar berkontribusi pada pengembangan ilmu dan menebar keberkahan pengetahuan. Perbedaannya bukan pada artikelnya, melainkan pada niat di baliknya.

Begitu pula dengan amanah jabatan. Ada yang memaknainya sebagai jalan memperkaya diri, ada yang menjalaninya sekadar karena tak terhindarkan, dan ada pula yang meniatkannya sebagai bentuk pengabdian—melayani sesama dengan kesadaran bahwa dipilih adalah kehormatan, dan kehormatan harus dibalas dengan pelayanan terbaik. Bahkan ada yang melihat amanah itu sebagai wasilah untuk memuliakan agama Allah, dengan memastikan lembaga pendidikan Islam maju dan tidak tertinggal.

Pertanyaannya sederhana namun mendalam: dari sekian banyak pilihan niat itu, niat mana yang paling memberi energi untuk menjalani peran kita; sebagai orang tua, mahasiswa, dosen, pegawai, pemimpin, dan sebagai orang beriman?

Islam memberikan bingkai yang kaya untuk menjawabnya. Dengan ilmu yang luas dan nurani yang terjaga, kita diajak memandang kehidupan dengan kacamata kebaikan. Rasulullah saw. mengingatkan bahwa amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan (Shahih Bukhari 1). Niat bukan sekadar pembuka amal, tetapi fondasi seluruh perjalanan kebaikan.

Namun, apakah niat saja cukup?

 

Menjaga akhir

Dalam tradisi akademik, niat bisa dianalogikan seperti proposal penelitian atau daftar isi buku. Ia penting, tetapi belum cukup. Amal tidak hanya dinilai dari awalnya, tetapi juga dari akhirnya.

Kita berdoa agar setiap ikhtiar berakhir dengan husnul khatimah, karena iman manusia tidak selalu stabil. Iman bisa bertambah dan berkurang. Niat yang baik hari ini bisa melemah esok hari jika tidak dijaga.

Karena itulah, Allah memerintahkan kita untuk saling menasihati dalam kebenaran, dalam kesabaran, dan dengan kasih sayang. Nasihat bukan untuk merasa lebih suci, tetapi untuk saling menjaga agar tetap berada di rel yang benar.

Ada satu godaan besar bagi orang yang merasa niat dan amalnya sudah baik, yaitu kesombongan. Ketika kebaikan melahirkan rasa superior, dan keberhasilan berubah menjadi alat merendahkan orang lain, di situlah bahaya mengintai. Padahal, amal juga sangat ditentukan oleh bagaimana ia diakhiri (Shahih Bukhari 6607).

Rasulullah saw.  mengingatkan dengan sangat tegas bahwa seseorang bisa melakukan amal yang tampak seperti amal ahli surga, tetapi berakhir sebagai ahli neraka, dan sebaliknya (Shahih Bukhari 6607). Penilaian sejati ada pada penutup perjalanan, bukan sekadar tampilan di tengah jalan.

Pesan ini mengajarkan kehati-hatian sekaligus kerendahan hati. Kita tidak pernah tahu di titik mana ujian terberat datang. Maka, menjaga niat harus diiringi dengan menjaga istikamah, menghindari rasa paling benar, dan terus memohon pertolongan Allah agar akhir langkah kita tetap berada dalam kebaikan.

 

Kebaikan yang menjalar

Kebaikan tidak hanya berdampak pada saat ini, dan tidak berhenti pada diri pelakunya. Bahkan perbuatan yang tampak kecil dapat memicu dampak yang panjang dan luas.

Rasulullah saw. memberi gambaran yang sangat kuat: jika hari kiamat sudah di ambang, dan di tangan seseorang masih ada tunas tanaman, maka tanamlah (Al-Adab Al-Mufrad 27). Pesannya jelas, bahwa kebaikan tidak mengenal waktu. Tidak ada alasan untuk berhenti berbuat baik hanya karena merasa hasilnya tidak akan kita nikmati.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini sangat relevan. Jika seseorang sedang berada di akhir masa amanah, itu bukan alasan untuk bekerja seadanya atau melepaskan tanggung jawab. Justru di situlah integritas diuji. Kebaikan yang kita tanam hari ini mungkin tidak kita nikmati, tetapi akan menjadi bekal bagi generasi berikutnya.

Menanam pohon, dalam konteks kekinian, bisa bermakna lebih luas: merumuskan kebijakan yang adil, membangun institusi, memperkuat sistem layanan, atau menciptakan ekosistem yang memberi ruang bagi banyak orang untuk tumbuh. Dampaknya sering kali tidak kasat mata, karena bekerja melalui reaksi berantai.

Sebagai contoh, sebuah kebijakan sederhana yang tidak memonopoli layanan internal dapat membuka peluang bagi banyak pihak di luar institusi. Ketika kampus memilih bermitra dengan UMKM, manfaatnya tidak berhenti pada transaksi ekonomi. Ada pekerja yang mendapatkan penghasilan, ada keluarga yang tercukupi kebutuhannya, ada anak-anak yang bisa bersekolah dan memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik. Rantai kebaikan itu terus menjalar, jauh melampaui keputusan awal yang tampak sederhana.

Bagi orang beriman, reaksi berantai ini bahkan tidak berhenti pada kehidupan dunia. Setiap manfaat yang terus mengalir menjadi sedekah yang pahalanya tidak terputus, selama kebaikan itu masih hidup dan memberi manfaat.

Di situlah letak keindahan ajaran Islam: kebaikan tidak pernah sia-sia. Ia selalu menemukan jalannya untuk tumbuh, menjalar, dan kembali kepada pelakunya, di dunia maupun di akhirat (QS Ar-Rahman 60).

Tidak ada seorang muslim pun yang menanam pohon kecuali dia mendapatkan pahala sedekah dari apa yang dimakan darinya; apa yang dicuri darinya, apa yang dimakan oleh binatang buas darinya, dan apa yang dimakan oleh burung darinya adalah sedekah baginya (Shahih Muslim 1552).

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu meluruskan niat, menjaga akhir amal, dan menanam kebaikan yang dampaknya melampaui diri dan zaman. Semoga reaksi berantai kebaikan itu terus bergerak, melalui peran kecil maupun besar yang Allah titipkan kepada kita.

Elaborasi ringan dari khutbah Jumat di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia, 9 Januari 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Pusat Studi Pusat Inovasi Konstruksi Digital (PIKD) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) UII dan Institut BIM Indonesia (IBIMI) menyelenggarakan kegiatan Yudisium Microcredential Building Information Modeling (BIM) pada Senin (29/12) di Auditorium Gedung Moh. Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Kampus Terpadu UII.

Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian program Microcredential BIM yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi profesional arsitek dalam menghadapi transformasi digital industri konstruksi. Selama program berlangsung, para peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai penerapan BIM dalam praktik profesi arsitek, mencakup pengelolaan proyek, proses desain, serta kolaborasi lintas disiplin dalam lingkungan digital. Dekan FTSP UII, Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguasaan BIM merupakan kebutuhan strategis bagi arsitek masa depan. “Kolaborasi antara akademisi, profesi, dan industri menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi konstruksi digital,” ujarnya.

Ketua Program Studi PPAr UII, Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI. menegaskan bahwa program microcredential ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PPAr UII dalam memperkuat relevansi pendidikan profesi dengan kebutuhan praktik nyata. “BIM bukan lagi pilihan, melainkan kompetensi utama yang harus dimiliki arsitek profesional,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi PIKD UII, Ir. Vendie Abma, S.T., M.T., IPM, menyampaikan harapannya agar program Microcredential BIM ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi katalis inovasi. “Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dapat terus berinovasi dan menjadi garda terdepan dalam adopsi teknologi BIM di Indonesia,” ungkapnya. Ketua IBIMI, Ar. M. Kharis Alfi S., S.T., M.T., IAI, turut menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun antara institusi pendidikan dan asosiasi profesi. Menurutnya, program ini menjadi contoh konkret penguatan ekosistem BIM nasional melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Achmad Irsan selaku Koordinator Pengampu Kelas Kredensial Mikro BIM, yang memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan aplikatif sesuai kebutuhan praktik profesional. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya kepada Ketua IAI DIY Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA, atas kehadiran dan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan ini.

Melalui kegiatan yudisium Microcredential BIM ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antara perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan lembaga pelatihan untuk terus mendorong transformasi digital dan meningkatkan daya saing arsitek Indonesia di tingkat nasional maupun global.(VA/AHR/RS)

Di momen berbahagia ini, izinkan saya mengajak Saudara memaknai wisuda bukan sebagai garis akhir perjalanan, melainkan gerbang awal petualangan kehidupan yang lebih luas terbentang.

Dunia yang terus berlari

Dunia di luar sana bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Teknologi berubah dalam hitungan bulan, pekerjaan yang hari ini ada, lima tahun mendatang bisa saja tinggal cerita.

Karena itu, keberhasilan sejati kini bukan semata tentang keahlian tunggal, melainkan tentang keluwesan beradaptasi di tengah perubahan yang dinamis. Adapasi adalah keberanian menjelajah wilayah baru tanpa gentar, dan keterbukaan untuk terus belajar, menyerap makna, memperbarui diri, seraya melangkah dengan rendah hati dan sekaligus percaya diri.

Kita hidup di zaman yang sangat bising, bukan hanya oleh suara, tetapi oleh banjir informasi, opini, dan tuntutan untuk selalu bereaksi cepat. Setiap hari kita digoda untuk segera merespons, menyimpulkan, dan mengambil posisi, seolah kecepatan adalah tanda kecerdasan. Padahal, seperti diingatkan Daniel Kahneman, manusia kerap keliru justru ketika merasa paling yakin. Kebijaksanaan tidak lahir dari reaksi spontan, melainkan dari kejernihan berpikir dan keberanian untuk melambat.

 

Jebakan berpikir cepat

Kahneman (2011), peraih Nobel Ekonomi, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa pikiran manusia bekerja melalui dua sistem. Sistem pertama bekerja cepat, otomatis, dan emosional; ia membantu kita bereaksi instan, tetapi juga rawan bias dan kesalahan. Sistem kedua bekerja lebih lambat, penuh usaha, dan analitis; ia memang melelahkan, tetapi di sanalah penilaian yang lebih jernih terbentuk. Masalahnya, dunia hari ini hampir selalu memaksa kita hidup dalam sistem pertama—cepat membaca judul, cepat menyimpulkan isi, cepat membagikan tanpa sempat memeriksa.

Bayangkan seseorang yang melihat tali di lantai dan seketika meloncat karena mengira itu ular. Reaksi cepat itu wajar dan bahkan berguna. Namun, bayangkan jika semua keputusan hidup diambil dengan logika yang sama: memilih pekerjaan hanya karena terlihat bergengsi, mengikuti arus opini karena takut tertinggal, atau mengambil keputusan besar hanya karena semua orang melakukannya. Di sinilah berpikir cepat menjadi jebakan.

Menjaga akal sehat berarti memberi ruang bagi sistem kedua untuk bekerja. Artinya, berani berhenti sejenak sebelum bereaksi, berani bertanya sebelum percaya, dan berani menimbang sebelum memutuskan. Kahneman menyebut salah satu jebakan terbesar manusia sebagai overconfidence—bias, atau kesalahan sistematis, karena rasa percaya diri berlebihan pada penilaian sendiri. Di sini ada ilusi pemahaman. Banyak kesalahan besar dalam hidup bukan lahir dari kurangnya informasi, tetapi dari keyakinan yang terlalu cepat dan tidak diuji.

Sebagai ilustrasi, kita bisa melihat bagaimana pilihan publik dalam demokrasi sering kali ditentukan oleh apa yang disebut sebagai demokrasi perasaan (democracy of feelings) (Davies, 2018). Dalam situasi ini, keputusan tidak lahir dari penimbangan yang jernih atas gagasan, rekam jejak, dan dampak jangka panjang, melainkan dari emosi sesaat: rasa takut, marah, bangga, atau harapan yang dibangkitkan lewat slogan dan simbol.

Ketika emosi diberi panggung utama, sistem berpikir cepat mengambil alih—kita merasa yakin telah “memahami”, padahal yang bekerja sering kali hanyalah ilusi pemahaman. Pilihan pun dijatuhkan dengan penuh percaya diri, meski tanpa pengujian yang memadai. Di sinilah kita belajar bahwa hak memilih saja tidak cukup; yang lebih penting adalah kualitas cara memilih. Tanpa keberanian untuk berhenti sejenak, bertanya, dan menimbang secara rasional, demokrasi—baik dalam politik maupun dalam kehidupan sehari-hari—mudah tergelincir menjadi sekadar ekspresi perasaan, bukan keputusan yang benar-benar disadari.

Ilustrasi lain yang lebih sederhana: ketika kita menyetir di jalan yang macet, klakson bisa membuat kita merasa bergerak lebih cepat, padahal kenyataannya tidak. Atau, bisa jadi kita  menggunakan bahu jalan sebagai jalur baru ketika kemacetan sedang terjadi. Kita merasa akan menyelesaikan masalah, tetapi tak jarang, keputusan cepat justru memperburuk kemacetan.

Demikian pula dalam hidup—bereaksi cepat sering memberi rasa puas sesaat, tetapi tidak selalu membawa kita lebih jauh. Justru mereka yang mampu menahan diri, menjaga kejernihan pikiran, dan memilih dengan sadar, biasanya melangkah lebih tepat.

 

Keberanian untuk melambat

Ilmu yang Saudara peroleh di bangku kuliah telah melatih logika dan nalar. Namun, kehidupan akan menguji sesuatu yang lebih dalam: kemampuan untuk tetap jernih ketika dunia menjadi gaduh, tetap tenang ketika tekanan datang bertubi-tubi, dan tetap berpegang pada nilai ketika pilihan terasa mudah tetapi menyesatkan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan semakin gaduh, kejernihan akal menjadi kompas yang menuntun langkah. Ilmu pengetahuan melatih nalar, tetapi kebijaksanaan tumbuh dari kemampuan memilah, menimbang, dan menentukan arah dengan tenang. Masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat bereaksi, melainkan milik mereka yang mampu berpikir jernih, bertindak bijak, dan tetap waras di tengah hiruk-pikuk zaman.

Pilihan-pilihan yang mempunyai implikasi penting dan jangka panjang, sudah seharusnya didasarkan pada sistem kedua: berpikir lambat.

 

Referensi

Davies, W. (2018). Nervous states: How feeling took over the world. Random House.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Sambutan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia, 27 dan 28 Desember 2025.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Barus bukanlah daerah biasa, wilayah pesisir Tapanuli Tengah ini mendapat julukan “Kota Para Aulia” karena sejarahnya. Barus adalah pusat perdagangan internasional sejak abad ke-7 yang memperkenalkan kapur barus dan rempah ke dunia, sekaligus menjadi gerbang fajar Islam di Nusantara. Namun, di penghujung tahun 2025, narasi kejayaan itu tertutup lumpur pekat.

Data menunjukkan bahwa bencana ini bukan sekadar luapan air, tercatat delapan orang meninggal dunia, 58 luka-luka, dan 2.851 jiwa terpaksa mengungsi. Kerusakan infrastruktur mencakup 8 rumah hanyut dan 29 rusak berat. Dampak pada fasilitas publik juga dirasakan sangat signifikan. Di Desa Ujung Batu, sarana pendidikan seperti SDN 155704 Ujung Batu dan Pesantren Tahfidz Darussalam lumpuh akibat timbunan lumpur dan kerusakan sarana pendidikan dan struktur bangunan. Sementara itu, fungsi sosial keagamaan terganggu dengan tidak beroperasinya Masjid Al-Hidayah, yang kini beralih fungsi menjadi posko darurat pengungsi.

Merespons kondisi ini, UII merancang program pengabdian masyarakat yang tidak hanya bersifat charity (bantuan darurat), tetapi juga menyentuh aspek pemulihan jangka menengah dan panjang melalui kegiatan kolaboratif. Misi kemanusiaan di Barus, Tapanuli Tengah merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikdisaintek), UII Peduli, Fakultas Kedokteran UII dan MAPALA UII, yang diketuai oleh Dr. dr. Yaltafit Abror Jeem, MPH.

Misi kemanusiaan ini diawali dengan pergerakan Tim MAPALA UNISI yang melakukan pioneer work dengan membuka akses jalan yang terputus, melakukan evakuasi, dan mengidentifikasi masalah lapangan. Estafet perjuangan kemudian dilanjutkan oleh Tim Medis UII yang tiba pada Jumat (19/12).  Berdasarkan rencana strategis, intervensi dibagi dalam dua gelombang. Minggu pertama difokuskan pada observasi dan layanan kesehatan dasar di Desa Ujung Batu oleh Tim 1, yang kemudian diperluas ke Desa Kinali dan Pasar Terandam dan layanan kesehatan lanjut oleh Tim 2 pada minggu berikutnya.

Posko Utama Tim Medis bertempat di SDN 155704 Desa Ujung Batu, personel tim medis pertama adalah dr. R Edi Fitriyanto, M.Gizi., dr. Fit Anastyo, dr. Mellody Yudhasinta Putri Cahyono, dan dr. Annisa Sofiana.

Kegiatan Layanan Kesehatan

Hasil asesmen kesehatan dari pemeriksaan terhadap 53 pasien ditemukan sepuluh penyakit terbanyak yaitu:

  1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
  2. Cefalgia (Sakit kepala akibat stres/kelelahan)
  3. Dispepsia (Gangguan lambung akibat pola makan tidak teratur)
  4. Vulnus (Luka terbuka akibat material banjir)
  5. Mialgia (Nyeri otot)
  6. Hipertensi (Peningkatan tekanan darah sistemik)
  7. Ginggivitis & Stomatitis (Masalah oral akibat higiene buruk)
  8. Rinitis & Bronkopneumonia (Gangguan pernapasan akibat kelembaban tinggi)

“Sebagian besar kasus berkaitan erat dengan paparan lingkungan yang lembap dan penurunan imunitas akibat masa pengungsian yang tidak ideal,” jelas dr. Fit Anastyo.

Sanitasi dan Perbaikan Lingkungan

Tim UII Peduli mengambil langkah strategis dengan melakukan revitalisasi terhadap 17 sumur warga yang terkontaminasi banjir. Proses ini meliputi pengurasan air terkontaminasi lumpur, pembersihan material sedimen, dan penjernihan air (klorinasi terkontrol). Sebelum masyarakat dapat menggunakan air sumur sebagai sumber air bersih, tim mendistribusikan air minum kemasan. Selain itu tim membagikan 200 paket higiene (sabun, sikat gigi, handuk) dan melakukan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Trauma Healing Mengobati Luka Tak Kasat Mata

Bencana banjir di Barus menyisakan memori traumatis, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan rumah dan sekolah mereka hancur. Pada 21 Desember 2025, program Trauma Healing dilaksanakan melalui pendekatan psikososial persuasif. Aktivitas kelompok dan permainan edukatif digunakan sebagai instrumen untuk menurunkan regulasi emosi yang negatif. Hasilnya terlihat pada antusiasme anak-anak yang mulai mampu mengekspresikan kegembiraan, sebuah indikator penting dalam pemulihan daya coping (mekanisme adaptasi) individu.

 

Dukungan Pangan Darurat

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bukan sekadar distribusi pangan, melainkan upaya mitigasi gangguan pertumbuhan. “PMT berfungsi sebagai komplemen asupan harian untuk menjamin kebutuhan mikronutrien tetap terpenuhi. Di tengah krisis, kekurangan gizi dapat menghambat kognisi anak dan menurunkan efektivitas sistem imun mereka,” pungkas dr. R Edi Fitriyanto, M Gizi.

Menjaga Peradaban Barus Tetap Berdiri

Program UII Peduli di Tapanuli Tengah adalah manifestasi “Islam yang memberi manfaat” sebuah misi medis yang berlandaskan nilai Rahmatan Lil ‘Alamin. Melalui kegiatan ini, diharapkan peradaban yang telah bertahan sejak abad ke-7 ini dapat segera pulih, seiring dengan mengalirnya kembali air bersih dan pulihnya tawa anak-anak di tanah sejarah tersebut. (REF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima bantuan lima pohon kelengkeng dari Telaga Nursery yang kemudian ditanam di lingkungan kampus UII pada Rabu (24/12). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguatan kolaborasi antara UII dan Telaga Nursery yang selama ini telah terjalin dalam kegiatan pembekalan purna tugas pegawai.

Pohon kelengkeng yang ditanam merupakan jenis kelengkeng Itoh Super, varietas unggulan kelengkeng dataran rendah yang dikenal memiliki kualitas buah premium. Kelengkeng Itoh Super memiliki daging buah tebal, biji relatif kecil, serta rasa manis legit dengan aroma khas. Varietas ini juga dikenal adaptif dan produktif, sehingga banyak dikembangkan di berbagai perkebunan kelengkeng di Indonesia sebagai tanaman bernilai edukatif, ekonomis, dan berkelanjutan.

Perkebunan kelengkeng Itoh Super yang dikelola Telaga Nursery memiliki rekam jejak sebagai lokasi pembelajaran dan pembekalan, termasuk dimanfaatkan oleh Universitas Islam Indonesia dalam kegiatan pembekalan purna tugas. Melalui pemanfaatan tersebut, peserta pembekalan tidak hanya memperoleh wawasan praktis, tetapi juga nilai reflektif tentang keberlanjutan, produktivitas, dan keseimbangan pasca purna tugas.

Dalam kegiatan ini, pihak UII diwakili oleh staf Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan, sedangkan dari Telaga Nursery hadir Isto Suwarno selaku Owner Telaga Nursery dan Faizal Wahyu selaku Pengelola Umum Telaga Nursery. Bantuan pohon kelengkeng ini diberikan sebagai ungkapan terima kasih sekaligus bentuk apresiasi atas kerja sama dan hubungan baik yang telah terjalin.

Penanaman pohon dilakukan di area kampus UII, tepatnya di sisi utara sebelah barat Rusun Putri UII. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis dan dilanjutkan dengan penanaman bersama sebagai wujud komitmen kebersamaan, silaturahmi, dan kolaborasi yang berkelanjutan antara kedua belah pihak.

Melalui kegiatan ini, Universitas Islam Indonesia menyambut baik inisiatif Telaga Nursery dan berharap pohon kelengkeng yang ditanam dapat tumbuh subur serta memberikan manfaat jangka panjang, baik sebagai bagian dari ruang hijau kampus maupun sebagai simbol sinergi dan kolaborasi yang terus terjaga. Inisiatif ini juga selaras dengan tema Milad ke-82 UII, “UII Mengerti Bumi”, sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan komitmen universitas dalam mendukung keberlanjutan. (NSS/AHR/RS)

Kehadiran para doktor baru ini akan memperkuat posisi UII dalam ekosistem pendidikan tinggi—baik di tingkat nasional maupun global—melalui kontribusi akademik yang lebih bermakna, relevan, dan berguna bagi masyarakat luas.

Hingga akhir tahun 2025, UII tercatat memiliki 254 dosen bergelar doktor, atau 32,60% dari total 779 dosen yang mengabdi di universitas ini. Angka ini bukan hanya sebuah statistik, tetapi bukti konsistensi UII dalam membangun fondasi akademik yang kuat.

Selain itu, saat ini terdapat 202 dosen UII yang sedang menempuh studi doktoral di berbagai perguruan tinggi bergengsi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan proyeksi yang realistis, jumlah dosen berpendidikan doktor di UII ke depan berpotensi mencapai 456 orang, atau sekitar 58,54% dari total dosen.

Pertumbuhan ini menunjukkan dua hal penting: pertama, komitmen institusi untuk terus berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia akademik; dan kedua, kesungguhan para dosen untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai ilmuwan dan pendidik.

Dengan bertambahnya jumlah doktor, UII semakin memiliki modal intelektual yang kuat untuk mendorong riset bermutu, memperluas jejaring akademik, dan menghasilkan inovasi yang relevan bagi masyarakat.

 

Keragaman tradisi

UII dengan penuh rasa syukur menyambut 33 doktor baru yang telah berhasil menuntaskan studi S3 di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain dari beragam perguruan tinggi di Indonesia, sebagian doktor lulusan tahun 2025 ini juga menempuh pendidikan di beragam kawasan dunia—mulai dari Australia, Brunei Darussalam, Estonia, Jepang, Korea, Malaysia, Swedia, Turki, hingga Inggris—yang semuanya memberikan pengayaan perspektif dan pengalaman akademik yang sangat berharga.

Dari 33 doktor baru tersebut, 16 dosen menyelesaikan studi di universitas dalam negeri, sementara 17 lainnya meraih gelar doktor dari perguruan tinggi luar negeri.

Keberagaman lintasan akademik para doktor baru ini sungguh mencerminkan keluasan orientasi intelektual UII serta keterbukaan kita terhadap kolaborasi dan pertumbuhan nasional dan global. Para doktor baru kembali dengan pengalaman belajar yang beragam, dengan perspektif yang dibentuk oleh dialog lintas negara, lintas budaya, dan lintas tradisi keilmuan.

Dalam banyak hal, keberagaman ini dapat kita ibaratkan seperti hutan multikultur—sebuah ekosistem yang terdiri atas pepohonan dari berbagai jenis, yang tumbuh berdampingan, saling menguatkan, dan menciptakan ketahanan yang jauh lebih kokoh dibandingkan hutan monokultur.

Hutan multikultur mampu menahan badai lebih baik, memulihkan diri lebih cepat, memberikan manfaat ekologis yang lebih luas, dan menjadi sumber kehidupan bagi lebih banyak makhluk.

Demikian pula UII: keberagaman keilmuan, latar pendidikan, dan pengalaman nasional dan internasional para doktor baru menjadikan universitas ini lebih resilien, lebih subur secara intelektual, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Saya meyakini bahwa ragam latar belakang pendidikan tersebut tidak hanya memperkaya pandangan keilmuan di lingkungan UII, tetapi juga membuka jalan bagi jejaring kolaborasi yang semakin luas dan strategis.

Perjalanan untuk mencapai gelar doktor tidak hanya menuntut ketekunan, tetapi juga kedewasaan intelektual. Gelar ini menandai kesiapan para doktor baru untuk menjadi penjaga nalar publik dan penggerak transformasi di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.

 

Dampak riset

Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat kuatnya dorongan nasional untuk menilai dampak riset terutama melalui hilirisasi—komersialisasi, penciptaan produk, atau kontribusi ekonomi. Hilirisasi tentu penting, namun jangan sampai kita justru menyempitkan makna riset.

Terdapat empat alasan mendasar mengapa pendekatan tersebut tidak memadai.

Pertama, riset menghasilkan dampak yang jauh lebih luas daripada komersialisasi. Ada dampak ilmiah yang memperkuat teori dan pengetahuan; dampak sosial yang mengubah praktik dan perilaku; dampak kebijakan yang memperbaiki regulasi; hingga dampak budaya dan lingkungan yang menjaga keberlanjutan kehidupan. Jika hanya dilihat dari hilirisasinya, kita mengabaikan kontribusi riset lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat.

Kedua, pendekatan hilirisasi tidak adil bagi banyak disiplin ilmu. Humaniora, ilmu sosial, hukum, pendidikan, dan studi keagamaan tidak selalu berujung pada produk industri, tetapi memberikan kontribusi besar melalui pemikiran kritis, transformasi sosial, dan penguatan moral masyarakat. Jika kita memaksakan hilirisasi sebagai satu-satunya indikator, kita justru meminggirkan banyak disiplin.

Ketiga, hilirisasi lebih menekankan output jangka pendek—prototipe, paten, atau produk. Padahal banyak dampak riset yang bersifat outcome jangka panjang: perubahan sistem, peningkatan kualitas institusi, penguatan kapasitas masyarakat, dan perbaikan tata kelola. Dampak semacam ini tidak dapat direkam oleh indikator hilirisasi  tetapi tetap menjadi kontribusi penting.

Keempat, perguruan tinggi bukanlah pabrik inovasi komersial. Universitas adalah rumah pencarian kebenaran, ruang dialog intelektual, dan tempat menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Jika dampak riset direduksi hanya pada hilirisasi, universitas dapat kehilangan orientasi dasar sebagai institusi pengetahuan yang melayani kepentingan publik. Kita harus memastikan bahwa inovasi tidak menggeser integritas, dan bahwa perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai perenial, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Empat argumen tersebut bukan hanya kerangka pikir, tetapi penanda tanggung jawab. Para doktor baru telah memasuki fase baru pengabdian ilmiah. Saya berharap para doktor baru menjadi ilmuwan yang mampu melihat dampak riset secara utuh—yang tidak hanya mengejar produk, tetapi juga mengejar perubahan sosial, memperkuat nilai, dan membangun masa depan bangsa.

Keragaman perspektif ini, menurut saya, diperlukan untuk tetap menjaga akal sehat lembaga pendidikan tinggi. Tentu, perspektif yang baru saja saya sampaikan tidak lantas mengerdilkan arti penting hilirisasi.

Saya berharap, para doktor baru akan memajukan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan orientasi kemaslahatan; yang menghadirkan inovasi tanpa melupakan integritas; dan yang memadukan keunggulan akademik dengan kepedulian terhadap sesama.

UII berharap kehadiran para doktor baru akan memperkuat ekosistem riset yang inklusif, berakar pada nilai, dan berdampak luas bagi masyarakat. Selamat pulang kampus di Universitas Islam Indonesia.

Semoga Allah Swt. meridai setiap langkah kita dalam memajukan ilmu dan memuliakan kehidupan.

Sambutan pada acara penyambutan doktor baru Universitas Islam Indonesia, 11 Desember 2025

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026