Fenomena paylater, flash sale, dan tren self-reward yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda menjadi pembahasan dalam kajian akidah Ngaji Dunia Akhirat yang diselenggarakan Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (18/6). Kajian yang berlangsung ba’da Magrib hingga Isya tersebut menghadirkan Mudir Pondok Pesantren Putri UII, Tajul Muluk, S.Ud., M.Ag., sebagai pemateri.

Mengawali kajian, Tajul Muluk mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat dan rahmat Allah Swt. yang telah diberikan. Ia juga mendoakan agar seluruh peserta selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya mahasiswa dan generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi digital. Berbagai layanan keuangan dan promosi belanja menawarkan kemudahan yang belum pernah ditemui pada masa sebelumnya, namun di balik itu terdapat tantangan yang memerlukan pemahaman agama sebagai landasan dalam mengambil keputusan.

Tajul Muluk menjelaskan bahwa dalam perspektif fikih klasik, mahasiswa atau anak kos yang merantau untuk menuntut ilmu dapat dikategorikan sebagai ibnu sabil. Bahkan dalam kondisi tertentu, mereka dapat termasuk golongan fakir atau miskin apabila mengalami keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, secara finansial mereka lebih dekat pada posisi sebagai penerima manfaat (mustahik) dibandingkan pembayar zakat (muzakki).

“Realitas yang dihadapi mahasiswa hari ini tidak hanya persoalan keterbatasan finansial, tetapi juga godaan berbagai fasilitas konsumsi yang tersedia secara instan. Di sinilah fikih muamalah perlu hadir sebagai panduan agar seseorang tidak terjebak dalam praktik yang merugikan dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia menilai layanan paylater dan berbagai bentuk pinjaman digital sering kali menawarkan kemudahan yang dapat mendorong seseorang berbelanja melebihi kemampuan finansialnya. Kondisi tersebut diperparah oleh strategi pemasaran seperti flash sale yang mendorong konsumen mengambil keputusan secara cepat tanpa pertimbangan yang matang.

Dalam kesempatan itu, Tajul Muluk juga mengingatkan pentingnya sikap rendah hati dalam memahami ajaran agama. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling memahami syariat tanpa didasari ilmu yang memadai.

Mengutip hadis Nabi Muhammad saw, ia menjelaskan bahwa obat dari kebodohan adalah bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan. Prinsip tersebut juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah An-Nahl ayat 43 yang memerintahkan umat untuk bertanya kepada ahlinya apabila tidak mengetahui suatu perkara.

“Di era media sosial, banyak orang mencari pembenaran atas apa yang ingin dilakukan, bukan mencari kebenaran berdasarkan ilmu. Padahal, dalam urusan agama, otoritas keilmuan harus tetap menjadi rujukan,” katanya.

Selain membahas aspek finansial, kajian ini turut mengangkat keterkaitan antara pengelolaan keuangan dan kesehatan mental. Tajul Muluk menjelaskan bahwa tekanan ekonomi akibat utang atau perilaku konsumtif dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. (AHR/RS)

Kajian rutin Kitab Bulughul Maram kembali digelar di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (16/6). Pada kesempatan tersebut, Ammi Nur Baits membahas hadis-hadis terkait hukum memandikan jenazah, khususnya mengenai kebolehan suami memandikan istri yang meninggal dunia.

Kajian yang diikuti oleh jamaah dari sivitas akademika UII dan masyarakat umum itu mengupas hadis ke-552 dalam Kitab Bulughul Maram. Hadis tersebut meriwayatkan dialog antara Nabi Muhammad saw dengan Aisyah RA, ketika Rasulullah saw menyampaikan bahwa apabila Aisyah wafat terlebih dahulu, beliau sendiri yang akan memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkannya.

Dalam pemaparannya, Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi salah satu landasan utama yang digunakan para ulama untuk membahas hukum suami dan istri saling memandikan setelah salah satu meninggal dunia. Ia juga mengutip riwayat tentang Fatimah RA yang berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib RA.

Menurut Ammi Nur Baits, mayoritas ulama atau jumhur berpendapat bahwa suami dan istri diperbolehkan saling memandikan ketika salah satu wafat. Pendapat tersebut dianut oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur, serta sejumlah ulama salaf. Dasarnya adalah hubungan pernikahan yang membuat keduanya tidak memiliki batas aurat satu sama lain, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia.

“Hadis ini merupakan dalil bolehnya suami istri saling memandikan. Suami boleh memandikan istrinya sebagaimana istri juga boleh memandikan suaminya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menjelaskan adanya pendapat lain yang dikemukakan sebagian ulama, di antaranya Imam Abu Hanifah dan Ats-Tsauri. Kelompok ini berpendapat bahwa suami tidak diperbolehkan memandikan istrinya yang telah meninggal karena kematian dianggap mengakhiri ikatan pernikahan. Dengan berakhirnya akad nikah, maka hubungan yang sebelumnya membolehkan melihat dan menyentuh aurat dianggap tidak lagi berlaku.

Ammi Nur Baits menegaskan bahwa perbedaan pendapat tersebut menunjukkan keluasan khazanah fikih Islam dalam memahami dalil-dalil syariat. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami dasar argumentasi masing-masing pandangan agar dapat menyikapi perbedaan secara bijak dan proporsional.

Selain membahas hukum memandikan jenazah, kajian juga menyinggung hadis mengenai seorang perempuan dari Bani Ghamid yang mengakui perbuatan zina kepada Rasulullah saw dan meminta agar dirinya disucikan melalui penegakan hukuman rajam. Melalui kisah tersebut, Ammi Nur Baits menjelaskan sejumlah pelajaran fikih terkait penegakan hukum dalam Islam, termasuk prinsip kehati-hatian, perlindungan hak anak, serta mekanisme pembuktian dalam perkara pidana syariat.

Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw tidak serta-merta menjatuhkan hukuman, melainkan memberikan kesempatan kepada perempuan tersebut hingga melahirkan dan menyapih anaknya. Sikap tersebut menunjukkan perhatian Islam terhadap hak-hak anak yang tidak boleh terabaikan meskipun orang tuanya melakukan kesalahan.

Melalui kajian Kitab Bulughul Maram ini, Masjid Ulil Albab UII terus menghadirkan ruang pembelajaran Islam yang mendalam dan berbasis dalil. Pembahasan yang disampaikan tidak hanya memperkaya pemahaman fikih ibadah dan muamalah, tetapi juga membantu jamaah memahami bagaimana para ulama menggali hukum dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan. (AAK/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat kompetensi digital tenaga kependidikan melalui Workshop Belajar IT (BIT) yang disusun secara berjenjang, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (19/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII merupakan inisiatif dari Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) dan Badan Sistem Informasi (BSI) UII. Program tersebut menjadi bagian dari upaya UII mendukung transformasi digital sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Dalam sambutannya, Direktur Sumber Daya Manusia, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psikolog pimpinan UII menyampaikan bahwa pembelajaran AI telah mulai diperkenalkan sejak 2024 dan kini dikembangkan melalui kurikulum yang lebih terstruktur. “Dengan semakin masifnya pemanfaatan kecerdasan imitasi, kami melihat tampaknya di UII perlu dilakukan penyusunan kurikulum yang lebih baik,” ujar Ike.

Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membantu menyederhanakan berbagai pekerjaan administratif sehingga tenaga kependidikan dapat bekerja lebih efektif dan memiliki lebih banyak waktu untuk berinovasi. “Hari ini ada cukup banyak pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu sangat lama, tetapi sekarang bisa menjadi lebih simpel dan lebih cepat dikerjakan,” katanya.

Selain meningkatkan produktivitas, pelatihan ini juga bertujuan memperkuat kompetensi teknologi informasi lintas generasi agar tercipta proses kerja yang lebih harmonis. “Kita tidak bisa lagi tidak melengkapi diri kita dengan kompetensi IT,” tegasnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai pengenalan AI dan pemanfaatannya untuk menunjang pekerjaan sehari-hari yang disampaikan oleh staff BSI UII, Reyhandri Muhammad Naufal, S.Kom. Dalam sesi tersebut, Reyhandri tidak hanya menjelaskan manfaat AI dalam meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga mengingatkan peserta mengenai risiko penyalahgunaan teknologi tersebut yang dapat menimbulkan dampak serius.

“Oleh sebab itu, AI memang sifatnya membantu pekerjaan, tetapi perlu diperiksa dan divalidasi kembali, jangan sampai kita langsung percaya, jangan langsung copy paste tanpa diperiksa. Kita tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan kita,” ungkap Reyhandri.

Setelah sesi pemaparan materi para peserta diwajibkan untuk melaksanakan praktik dengan contoh kasus yang sudah disiapkan oleh pemateri. Peserta juga mendapat penugasan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk mengukur pemahaman serta kemampuan dalam menerapkan AI pada pekerjaan sehari-hari.

Melalui program ini, UII berharap seluruh tenaga kependidikan mampu memanfaatkan AI secara optimal dan bijak untuk mendukung peningkatan kualitas kinerja, pelayanan, inovasi di lingkungan kampus. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Percepatan Penyelesaian Studi Tepat Waktu pada Rabu (17/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan yang diikuti oleh ketua jurusan, ketua program studi, dan kepala divisi akademik universitas dan fakultas yang ada di lingkungan UII ini, sebagai ruang dialog mengenai permasalahan mahasiswa mengenai masa studinya yang terjadi di program studi masing-masing.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyoroti sejumlah agenda prioritas yang berkaitan dengan penguatan atmosfer akademik di lingkungan universitas. Salah satunya adalah percepatan kenaikan jabatan fungsional dosen, khususnya guru besar.

Saat ini UII memiliki 48 guru besar aktif. Menurutnya, jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan sehingga diperlukan upaya bersama untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai kendala yang dihadapi dosen dalam proses pengusulan jabatan akademik.

Selain itu, Prof. Hari Purnomo menargetkan 80 persen program studi di UII meraih akreditasi unggul. Ia menilai terdapat sejumlah program studi yang memiliki potensi besar dan telah siap untuk mencapai capaian tersebut.

Rektor juga menyinggung target penguatan kinerja riset yang diberikan kepada Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan, yakni pendaftaran 100 paten dalam tahun ini. Menurutnya, target tersebut dapat dicapai apabila seluruh sivitas akademika memiliki keseriusan dalam mengembangkan inovasi dan luaran penelitian.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi UII, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D., memaparkan data terkait persentase kelulusan mahasiswa, batas masa studi program studi, pelaksanaan tugas akhir, serta berbagai persyaratan akademik yang harus dipenuhi mahasiswa.

Workshop ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh unit-unit terkait. Melalui sinergi antara program studi, fakultas, dan universitas, UII berharap dapat terus meningkatkan mutu layanan akademik sekaligus mendorong mahasiswa menyelesaikan studi secara tepat waktu. (AAK/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM)/Sekolah Kepemimpinan menyelenggarakan Sosialisasi Peraturan Rektor Universitas Islam Indonesia Nomor 10 Tahun 2026 tentang Pemilihan Tenaga Kependidikan Berprestasi, Kamis (18/6), secara daring melalui kanal Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh tenaga kependidikan bidang administrasi dan fungsional di lingkungan UII.

Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan UII, Prof. Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa peraturan tersebut merupakan bentuk penyempurnaan dari kebijakan sebelumnya terkait pemberian penghargaan bagi tenaga kependidikan. Menurutnya, regulasi baru ini disusun untuk menghadirkan sistem apresiasi yang lebih relevan sekaligus mendorong peningkatan kinerja tenaga kependidikan di lingkungan UII.

“Tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan layanan dan proses pendidikan di UII. Karena itu, apresiasi terhadap kinerja mereka menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas institusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, peningkatan kualitas layanan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Melalui pemilihan tenaga kependidikan berprestasi, UII berharap dapat mendorong lahirnya inovasi serta praktik-praktik terbaik yang dapat diterapkan dan dikembangkan di berbagai unit kerja.

Salah satu pembaruan dalam peraturan tersebut adalah penyesuaian bentuk penghargaan bagi pemenang. Selain penghargaan berupa uang tunai, tenaga kependidikan berprestasi juga akan memperoleh kesempatan mengikuti program magang atau benchmarking di dalam maupun luar negeri sebagai sarana pengembangan kompetensi dan wawasan.

Prof. Rifqi berharap program ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh tenaga kependidikan untuk terus menghadirkan inovasi layanan sekaligus memperkuat budaya kerja unggul di lingkungan UII. Melalui kebijakan ini, UII menegaskan komitmennya untuk memberikan apresiasi yang lebih bermakna sekaligus meningkatkan kualitas layanan institusi secara berkelanjutan. (FH/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan Yayasan Al-Irsyad Purwokerto dalam rangka silaturahmi sekaligus berbagi pengalaman mengenai pengelolaan dan pengembangan perguruan tinggi. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Kamis (18/06) tersebut menjadi forum diskusi untuk memperkuat tata kelola institusi dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Menurutnya, kolaborasi dan pertukaran praktik baik antarlembaga pendidikan merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. “Setiap institusi memiliki pengalaman dan keunggulan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bersama. Melalui forum seperti ini, kita dapat saling menguatkan dalam menghadapi tantangan pendidikan yang terus berkembang,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, UII juga memaparkan berbagai pengalaman dalam pengembangan tata kelola universitas, penguatan budaya mutu, pengembangan sumber daya manusia, serta strategi membangun reputasi dan kepercayaan publik. Berbagai pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi institusi yang tengah mengembangkan atau memperkuat penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Ketua Yayasan Yayasan Al-Irsyad Purwokerto, Sadikun, M.Pd.I menyampaikan bahwa kunjungan tersebut dilandasi keinginan untuk belajar dari pengalaman panjang UII dalam mengelola perguruan tinggi. Menurutnya, UII berhasil tumbuh dan berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia dengan tata kelola yang kuat dan hubungan yang harmonis antara universitas dan badan penyelenggara. “Kami ingin belajar dan memperoleh masukan mengenai bagaimana mengembangkan perguruan tinggi, membangun tata kelola yang baik, serta menjaga sinergi antara universitas dan yayasan sebagai penyelenggara,” ungkapnya.

Melalui kunjungan ini, kedua institusi berharap dapat membangun komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan. Selain menjadi sarana berbagi pengalaman, pertemuan tersebut juga diharapkan membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan, peningkatan mutu akademik, serta penguatan kapasitas kelembagaan pada masa mendatang. (AHR/RS)

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Magister Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) menjalani asesmen lapangan akreditasi yang dilaksanakan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) pada Kamis (18/06) di Auditorium Gedung Dr. Soekiman Wirjosandjojo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi serta memastikan kualitas penyelenggaraan program studi sesuai standar yang ditetapkan.

Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim asesor dan menegaskan bahwa asesmen lapangan merupakan momentum penting untuk memperkuat budaya mutu di lingkungan universitas. Menurutnya, komitmen UII terhadap kualitas pendidikan tercermin dari capaian akreditasi institusi yang telah meraih predikat Unggul serta sekitar 70 persen program studi yang telah memperoleh akreditasi Unggul atau A. “Bagi UII, visitasi merupakan bagian penting dari upaya menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Prof. Hari juga menjelaskan bahwa UII saat ini mengelola lebih dari 26.000 mahasiswa pada 65 program studi yang mencakup jenjang diploma hingga doktor. Selain itu, UII memiliki 564 kemitraan aktif dengan berbagai institusi, dengan 462 kemitraan di tingkat nasional serta jejaring internasional yang menjangkau 37 negara. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam mendukung pengembangan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan internasionalisasi universitas.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengembangan Pendidikan Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII menegaskan komitmen yayasan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di lingkungan universitas. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pengelolaan berbagai aset wakaf produktif dan unit usaha yang hasil pengembangannya diarahkan untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Core business yang kami kembangkan pada akhirnya ditujukan untuk mendukung pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya. Melalui dukungan tersebut, UII terus berupaya memperkuat kualitas akademik, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana pendidikan.

Sementara itu, tim asesor LAM-PTKes, Dr. Novrikasari, SKM., M.Kes mengapresiasi kesiapan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Magister FK UII dalam menjalani proses asesmen lapangan. “Saya melihat di sini komitmen dari yayasan, pimpinan tertinggi, sampai dosen-dosennya. Tentu ini bukan kerja sehari atau dua hari, melainkan proses yang dilakukan secara terus-menerus,” ujar salah satu asesor. Ia menjelaskan bahwa asesmen lapangan dilakukan untuk mengonfirmasi berbagai data dan informasi yang telah disampaikan program studi pada tahap sebelumnya melalui bukti dan implementasi nyata di lapangan.

Melalui asesmen lapangan ini, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Magister FK UII berharap dapat menunjukkan berbagai capaian dan praktik baik yang telah dilakukan sekaligus memperoleh masukan untuk pengembangan mutu pada masa mendatang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UII untuk terus menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, berintegritas, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan Universitas Ibnu Sina (UIS) Batam dalam rangka penandatanganan nota kesepahaman dan penguatan kerja sama antarperguruan tinggi. Kegiatan yang berlangsung di Kampus Terpadu UII pada Senin (15/06) tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kelembagaan.

Rektor Universitas Ibnu Sina, Dr. Ir. Larisang, M.T., IPU menyampaikan apresiasinya atas sambutan yang diberikan UII. Ia menilai UII sebagai salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan institusi dan tata kelola pendidikan tinggi. Menurutnya, kerja sama ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi UIS dalam memperkuat kapasitas akademik dan kelembagaan.

“Kami berharap UII dapat menjadi mitra sekaligus pembina bagi Universitas Ibnu Sina. Banyak hal yang ingin kami pelajari, mulai dari tata kelola, penjaminan mutu, penelitian, hingga pengembangan kemahasiswaan agar kami dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama tidak diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani, melainkan dari implementasi program yang dijalankan bersama. Oleh karena itu, Prof. Hari mendorong kedua institusi untuk segera merealisasikan berbagai bentuk kolaborasi yang memberikan manfaat nyata.

“Yang terpenting bukan sekadar MoU atau MoA, tetapi pelaksanaannya. Melalui kerja sama ini, kita dapat mengembangkan riset kolaboratif, pertukaran mahasiswa, pelatihan, seminar bersama, dan berbagai program lainnya yang mendukung kemajuan kedua institusi,” ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi hubungan yang lebih erat antara UII dan UIS. Melalui sinergi yang dibangun, kedua perguruan tinggi berkomitmen untuk saling mendukung dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi sekaligus memperluas kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. (AHR/RS)

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Prof. Dr. Drs. Unggul Priyadi M.Si., dosen sekaligus guru besar bidang Ekonomi Kelembagaan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam ajang Kejuaraan Nasional Tenis Antar Profesor (ATPI) 2026 yang berlangsung di Bali pada 12–14 Juni 2026. Berpasangan dengan Prof. Soetriono, dosen Universitas Jember (UNEJ), Prof. Unggul berhasil meraih Juara 2 setelah bersaing dengan para profesor pecinta tenis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Capaian ini melanjutkan konsistensi prestasi Prof. Unggul dalam kejuaraan tenis antar profesor tingkat nasional. Sebelumnya, pada Kejurnas ATPI 2024 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Unggul berhasil meraih Juara 3. Prestasi serupa juga diraih pada Kejurnas ATPI 2025 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan kembali menempati posisi Juara 3.

Menurut Prof. Unggul, konsistensi prestasi tersebut tidak terlepas dari latihan rutin dan keterlibatan aktif dalam berbagai kompetisi tenis, baik di lingkungan universitas maupun di luar kampus. Ia menilai bahwa menjaga kemampuan olahraga memiliki prinsip yang sama dengan mengembangkan keilmuan akademik, yakni membutuhkan latihan, pembelajaran, dan evaluasi yang berkelanjutan.

“Sebagai atlet cabang olahraga apa pun, untuk menjaga prestasi harus berlatih secara rutin dan mengikuti kompetisi. Hal ini mirip dengan dunia akademik, di mana seseorang perlu terus belajar dan mempersiapkan diri secara maksimal untuk mencapai hasil terbaik,” ujarnya.

Selain aktif mengikuti latihan dan kompetisi internal maupun eksternal, Prof. Unggul juga terlibat dalam berbagai kejuaraan tenis tingkat lokal dan nasional. Ia menilai keikutsertaan dalam berbagai turnamen menjadi sarana penting untuk menjaga kemampuan bertanding sekaligus memperluas jejaring persahabatan antarakademisi.

Dalam membagi waktu antara tugas caturdharma perguruan tinggi dan olahraga, Prof. Unggul mengaku tetap mengutamakan tanggung jawab akademik. Latihan tenis dilakukan di luar jadwal mengajar dan kegiatan akademik lainnya dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan.

“Latihan dilakukan di luar waktu kuliah dan tugas akademik lainnya. Yang penting adalah menjaga disiplin waktu dan kondisi fisik, apalagi usia saya sudah lebih dari 60 tahun,” katanya.

Mengenai keberhasilannya meraih prestasi bersama pasangan dari berbagai perguruan tinggi, Prof. Unggul menilai komunikasi menjadi kunci utama. Selama tiga tahun terakhir, ia selalu berpasangan dengan dosen dari luar Yogyakarta dan mampu meraih prestasi nasional.

“Tantangan terbesar adalah membangun kekompakan dengan pasangan yang berasal dari institusi berbeda. Karena itu, komunikasi sebelum dan selama pertandingan menjadi sangat penting. Kami saling mendukung dan menjaga koordinasi selama bertanding,” jelasnya.

Prof. Unggul berharap ke depan semakin banyak dosen yang aktif menekuni olahraga, khususnya tenis lapangan, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan sekaligus mengharumkan nama institusi di tingkat nasional. Ia juga berharap kompetisi tenis di lingkungan perguruan tinggi dapat terus berkembang dan menjadi ajang silaturahmi antardosen maupun alumni.

Prestasi yang diraih Prof. Unggul menunjukkan bahwa semangat berkompetisi, disiplin berlatih, dan kolaborasi yang baik dapat menghasilkan capaian membanggakan, bahkan di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai akademisi. Keberhasilan meraih Juara 2 pada Kejurnas ATPI 2026 menjadi bukti bahwa usia dan kesibukan bukanlah penghalang untuk terus berprestasi di tingkat nasional. (AHR/RS)

Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Haflah Takharruj Santri Tahun 2026 di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir UII, Ahad (14/6). Sebanyak 29 santri resmi menyelesaikan pendidikan kepesantrenan, terdiri atas 16 santri putra dan 13 santri putri.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB tersebut menjadi momentum pelepasan santri sekaligus peneguhankomitmen Pondok Pesantren UII dalam mencetak lulusan yang unggul dalam bidang akademik, keislaman, dan kepemimpinan.

Pengasuh Pondok Pesantren Putra Direktorat Pondok Pesantren UII, Dr. Suyanto, S.Ag, MSI., menyampaikan bahwa hingga saat ini Pondok Pesantren UII telah meluluskan ratusan alumni yang tersebar di berbagai bidang profesi dan pengabdian.

“Sejak angkatan pertama tahun 1996 hingga 2021, Pondok Pesantren Putra UII telah meluluskan 360 alumni. Sementara Pondok Pesantren Putri sejak angkatan pertama tahun 2011 hingga 2021 telah meluluskan 156 alumni,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Rektor UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., menyampaikan bahwa santri memiliki peran yang sangat penting kepada masyarakat.

“Di tengah perubahan yang cepat, santri berperan sangat penting untuk menjadi penjaga dan agent of change, maka itu jagalah akhlak. Tradisi pesantren juga mengajarkan bahwa belajar adalah sepanjang hayat, terus lah belajar, keberhasilan itu diukur dari kebermabfaatan yang diberikan kepada umat dan masyarakat.” ujarnya.

Sementara itu Prof. Dr. Tamyiz Mukharrom, M.A., selaku Direktur  Pondok Pesantren UII menjelaskan tujuan Pesantren UII untuk mencetak pemimpin unggulan.

“Pesantren UII ingin menjadikan mahasiswa-mahasiswi UII terutama dari kalangan yang tidak mampu juga yang punya kemampuan intelektual yang unggul, diberikan beasiswa untuk menjadi mahasiswa-mahasiswi yang unggulan.”

Pada Haflah Takharruj tahun ini, penghargaan wisudawan terbaik diberikan kepada santri yang memiliki akumulasi nilai tertinggi antara Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di pondok pesantren dan di fakultas.

Untuk kategori putra, penghargaan diraih oleh Jalaluddin Rizqi Mulia, S.Hub.Int., asal Sintete, Kalimantan Barat. Lulusan Program Studi Hubungan Internasional UII tersebut memperoleh IPK Pondok 3,95 dan IPK Kampus 3,96, dengan rata-rata akumulasi 3,95.

Jalaluddin menilai lingkungan Pondok Pesantren UII berperan penting dalam mendukung pengembangan kapasitas diri para santri secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. Menurutnya, kultur yang dibangun dipesantren mendorong para santri untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan serta mengembangkan minat dan potensi masing-masing.

Selain memperkuat kapasitas keilmuan, menurut Jalaluddin berbagai aktivitas kepesantrenan juga menjadi ruang pembelajaran untuk mengasah keterampilan non-teknis, seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Ia menilai ekosistem yang suportif tersebut turut memudahkan santri dalam mengakses berbagai peluang pengembangan diri.

Sementara itu, penghargaan wisudawan terbaik kategori putri diberikan kepada Amri Nadia M., S.Ak., asal Banyuwangi, Jawa Timur. Lulusan Program Studi Akuntansi UII tersebut meraih IPK Pondok 3,91 dan IPK Kampus 3,92, dengan rata-rata akumulasi 3,915.

Tradisi menghadirkan alumni sebagai narasumber inspiratif juga kembali dilaksanakan dalam Haflah Takharruj tahun ini. Orasi motivasi disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Toyib, M.Pd., Guru Besar bidang Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sekaligus alumni Pondok Pesantren UII angkatan 1998.

Menurut Suyanto, tradisi menghadirkan alumni dalam prosesi wisuda santri telah berjalan selama lima tahun terakhir. Sebelumnya, orasi motivasi disampaikan oleh alumni yang berkarier sebagai hakim agama dan alumni bidang teknologi informasi yang menjabat sebagai direktur pada salah satu anak perusahaan Pertamina.

“Melalui kehadiran para alumni, para santri mendapatkan gambaran nyata mengenai berbagai ruang pengabdian dan kontribusi yang dapat dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan,” katanya.

Pondok Pesantren UII Melalui Haflah Takharruj 2026 menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi intelektual muslim yang mampu mengintegrasikan keunggulan akademik, kedalaman spiritual, dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan umat. (MFPS/AHR/RS)