Ketidakpastian perekonomian global yang semakin meningkat telah berdampak terhadap Indonesia saat ini maupun di masa mendatang. Fenomena perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, Brexit di Eropa, maupun dinamika ekonomi Jepang dengan Korea adalah bagian dari penyebab ketidakpastian tersebut. Dalam menghadapi ketidakpastian ini, Indonesia membutuhkan pemikir yang konstruktif dan mampu membuat solusi yang baik.

Demikian disampaikan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla dalam pidato kunci pembukaan konferensi internasional bertema “The Challenges of Disruption Era in Economic Development and Public Policy” di Hotel Aryaduta Jakarta, Rabu (7/8).

Kegiatan konferensi yang diselenggarakan atas kerja sama Universitas Islam Indonesia, INDEF, dan Universitas Paramadina ini diselenggarakan dalam rangka hari jadi INDEF yang ke-24 tahun.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) merupakan lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 di Jakarta. Aktivitas INDEF diantaranya melakukan riset dan kajian kebijakan publik, utamanya dalam bidang ekonomi dan keuangan.

Dalam pidato kuncinya, Wapres Jusuf Kalla berharap INDEF terus berkontribusi mencari solusi terbaik dari permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia.

Sementata itu, Rektor Universitas Islam Indonesia Fathul Wahid, PhD. berharap agar INDEF senantiasa menjaga sikap kritis dan jujur.

“Menjaga konsistensi bukan hal yang ringan. INDEF telah membuktikan berhasil mengawal misi untuk tidak hanya kritis tapi juga memberikan solusi bagi pembuat kebijakan dan pelaku usaha,” ungkap Fathul saat menyampaikan testimoni dalam pembukaan konferensi.

Senada dengan Fathul, Rektor Universitas Paramadina Profesor Firmansyah juga mengharapkan agar INDEF terus konsisten menjadi pemikir yang solutif.

“INDEF adalah aset nasional. Sedikit dari lembaga riset di negeri ini menyampaikan alternatif pikiran dan gagasan kebijakan ekonomi,” ungkap Firmansyah.

Dalam kesempatan tersebut, Profesor Emil Salim turut memberikan testimoni dengan berpesan agar kaum intelektual di INDEF terus menjaga integritas.

“Saat kaum intelektual menggunakan otak hanya untuk uang, pada hakekatnya dia menjual dirinya. Pada saat kaum intelektual menjual dirinya, dia menghianati the principles of intellectual: sikap kritis dan kejujuran” ungkap Emil mengakhiri testimoninya.