Lesgood.com, Aplikasi Jasa Les Privat Unik Karya Mahasiswa UII

Tingginya kebutuhan masyarakat untuk mengakses jasa pendidikan privat seakan tidak pernah surut. Tidak hanya les privat mata pelajaran yang diajarkan di jenjang sekolah, les privat bidang-bidang lain, seperti bidang olahraga, seni, keagamaan, bahasa dan hobi juga tidak kalah diminati oleh masyarakat. Sayangnya untuk mencari jasa les privat yang diinginkan, seringkali masyarakat masih kesulitan karena minimnya informasi. Jasa les privat biasanya masih terpaku pada jasa yang dikelola oleh lembaga bimbingan belajar. Sedangkan jasa les privat bersifat individu yang dapat diakses lewat media internet belum banyak dikenal.

Adalah Muhammad Imam Baihaqi Aba atau yang akrab disapa Aba melihat hal itu sebagai peluang untuk menciptakan aplikasi jasa les berbasis marketplace. Mahasiswa aktif semester VIII prodi Ekonomi Islam UII itu kemudian berinisiatif mendirikan Lesgood.com.

Lesgood merupakan aplikasi berbasis marketplace yang mempertemukan murid dengan mentor les privat di berbagai bidang. Melalui aplikasi Lesgood, pengguna dapat mencari dan memesan beraneka ragam jasa les privat yang diinginkannya. Legood juga memberi kesempatan bagi masyarakat yang ingin menjadi guru les privat untuk bergabung sesuai dengan kompetensi dan keahlian yang mereka miliki.

Aba menuturkan bahwa Lesgood ini terinspirasi saat dirinya menjadi guru di sebuah TPA. “Banyak orang yang bisa ngaji tapi di sisi lain banyak anak-anak yang tidak bisa ngaji. Nah jangan sampai ada anak muda yang muslim tapi tidak bisa mengaji. Itu kan gara gara waktu masa kecilnya tidak ada yang mengajari. Saya berpikir, bagaimana menjembatani hal itu.” Ujar Aba kepada Humas UII di kampus terpadu UII belum lama ini. Dari hal tersebut muncul-lah ide bagaimana caranya orang yang punya keahlian tertentu seperti mengaji bisa diajarkan ke orang yang membutuhkan. Ia pun kemudian memberanikan diri mendirikan Lesgood.

Lesgood lauching sejak 1 Agustus 2016. Pada awalnya lesgood ini diperkenalkan secara offline melalui word of mouth atau mulut ke mulut. Seiring dengan bertambahnya modal, ia pun mulai serius melakukan marketing online di antaranya melalui media sosial seperti facebook dan Google AdWords.

Saat ditanya kenapa menggunakan nama lesgood Aba menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan perpaduan antara nama Inggris dan Indonesia yakni les dan good. “Sebelumnya ingin dinamakan lesgo, pengen les tinggal go tapi waktu itu saya searching penelitian di pasar, ternyata nama itu sudah ada. Akhirnya kita pakai nama lesgood”, ujar mahasiswa yang penuh optimisme itu.

Ajak Para Atlit dan Profesional Bergabung

Setelah cukup mapan, Aba juga membuka cabang les di bidang-bidang lain, khususnya bidang olahraga dan skill profesional, seperti berenang, vocal, bermain musik, mengemudi, bahasa asing, dll. Ia ingin masyarakat mendapat akses terbaik untuk menimba ilmu dari para profesional. “Kita kan juga prihatin banyak atlit Indonesia yang berbakat dan pernah berjasa besar. Namun ketika pensiun skillnya kurang tersalurkan. Ini bisa jadi peluang baru”, tambah Aba.

Lesgood hadir di tengah masyarakat dengan fasilitas unik yaitu murid bisa memilih pengajar sendiri, memilih jumlah siswa dalam satu kelas, memilih kapan waktu les, serta memilih biaya les sesuai keinginan.

Lesgood juga menyediakan profil pengajar dengan sangat lengkap mulai dari tingkat pendidikan pengajar, riwayat prestasi pengajar, hingga kemampuan mengajar pengajar sehingga murid benar-benar mengetahui kualitas pengajar yang dipilihnya.

Hadir di 7 Kota di Indonesia dengan Ratusan Pengajar

Saat ini Lesgood telah memiliki 166 jenis les privat dengan jumlah pengajar mencapai 390 orang. Berawal di kota Yogya, kini Lesgood juga dapat dinikmati di 6 kabupaten/kota di Indonesia; Sleman, Bantul, Malang, Bandung, Semarang dan Solo. ”Untuk pengajarnya sendiri rata-rata mahasiswa, hampir 80%, sementara banyak juga yang berprofesi sebagai guru, supir, ada koki, singer, artis ftv juga ada juga yang masuk”, tambah Aba.

Ada cerita menarik yang disampaikan Aba, “Suatu saat ada ibu-ibu yang usianya sekitar 60-an mau daftar les renang. Kita kira kan buat anak beliau, lalu kita kirim lah pengajarnya ke kolam renang yang sudah dijanjikan ketemu. Pada waktu jam les, pengajarnya menelpon kita, kebingungan karena anak didiknya ga ada?. Setelah dikonfirmasi ternyata si ibu lah yang mau belajar renang bukan anaknya. Jadi memang usia tidak menutup kesempatan untuk belajar”.

Saat ditanya bagaimana rencana pengembangan ke depan, Aba mengungkapkan ingin memberi manfaat ekonomi lebih melalui Lesgood. Selain itu, ia juga ingin Lesgood bisa go nasional sehingga tiap kota ada pengajar lesgood.

”Yang jelas kita pengen gimana caranya education elevate the economy bahwa pendidikan itu akan mengangkat perekonomian. Dengan lesgood kita bisa meningkatkan taraf pendidikan dan ekonomi seseorang tidak harus dengan kuliah atau sekolah”, jelasnya.