Gerbang pendidikan yang paling awal dalam kehidupan individu di dunia berawal dari keluarga. Dari mulai kemampuan motorik seperti berbicara dan berjalan hingga perilaku sosial akan dilatih mulai dari kelompok pendidikan terdekat yakni keluarga. Namun seiring perkembangan zaman khususnya teknologi informasi menimbulkan berbagai tantangan yang tidak mudah.

Menghadapi tantangan tersebut, Pusat Studi Gender Universitas Islam Indonesia (PSG UII) dan Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI UII) menggelar seminar regional bertajuk “Membangun Ketahanan Keluarga di Era Milenial: Tantangan dan Solusinya”, pada Kamis (16/5), di Ruang Audiovisual Gedung Muhammad Hatta, Perpustakaan Pusat UII.

Hadir sebagai pemateri Dr. RA. Arida Oetami, M.Kes. (BPPPM DIY), Dr. Phil. Emi Zulaifah, Dra. M.Sc (FPSB UII), Drs. Imam Mudjiono, M.Ag. (FIAI UII) dan Mahsunah Syakir, S.E., M.EK (Keluarga Sakinah Teladan Nasional 2016). Sementara keynote speech disampaikan oleh Direktur DPPAI UII, Dr. Aunur Rohim Faqih, S.H., M.Hum.

Aunur Rohim mengatakan Keluarga adalah institusi yang paling kecil dalam bermasyarakat, tetapi memiliki peran yang paling krusial terhadap pembangunan masyarakat. Karena dalam institusi ini dibentuk sumber daya manusia sebagai pelaku kehidupan di masyarakat. “Semakin baik keluarga, maka semakin baik pula masyarakatnya, tidak hanya pada sisi masyarakat, bahkan manfaatnya bisa pada kesejahteraan bangsa,” ungkapnya.

Maka dari itu kualitas masyarakat dapat dipengaruhi dari kualitas individu yang dibentuk dari keluarga. Mengingat di era milenial ini kemajaun ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan ini ternyata dapat mempengaruhi suatu budaya bangsa. Budaya yang memungkinkan menggerus dan melemahkan suatu ketahanan keluarga.

“Hal ini dilihat dari kacamata budaya orang tua, anak, dan pendidikan dimana terlihat dari tingginya angka perceraian, terbiasannya perilaku seks bebas, kejahatan anak dibawah umur,pemakaian narkoba bagi anak-anak, perdagangan manusia, terjangkitnya paham radikal kepada anak dan masyarakat, hingga berbagai pengaruh budaya seperti tidak adanya sikap hormat antar anak dan orang tua atau istri dan suami. Ini semua merupakan paham yang dapat mengkerdilkan ketahanan keluarga,” kata Aunur Rohim.

Aunur Rohim menambahkan pentingnya akan pemahaman mengenai ketahanan keluarga. Hal ini akan selaras dengan terciptanya generasi yang paham akan jati diri, agama serta teguh pada pedoman dan keyakinan. “Dengan pahamnya akan ketahanan keluarga dapat menciptakan generasi yang kokoh, solid, dan sejahtera sehingga tidak dapat dirusak dari pengaruh budaya yang dapat membawa kerusakan ketahanan keluarga.” pungkasnya.

Arida Oetami mengatakan hingga tahun 2018 tindak kekerasan rumah tangga di Yogyakarta tergolong tinggi. Aspek ekonomi hingga perubahan pola pikir dapat mempengaruhi ketahanan keluarga sehingga munculnya kekerasan tersebut. “Miris melihat angka kekerasan rumah tangga di Yogyakarta cukup tinggi, mengingat provinsi ini memiliki budaya yang baik,” ungkapnya.

Akibat tingginya kasus tindak kekerasan sosial berdampak pada perceraian dan terganggunya perkembangan anak. Arida Oetami mengatakan peran keluarga menjadi kunci pada perkembangan anak terlebih pada usia remaja. Pada fase remaja inilah anak akan sangat berbahaya jika pengawasan yang dilakukan keluarga kurang atau bahkan tidak ada. “Tidak adanya pengawasan dapat menyebabkan perilaku anak yang menyimpang di kehidupan sosial. Sehingga ditakutkan anak dapat melakukan perilaku yang menyimpang dengan norma sosial bahkan norma agama,” ungkapnya.

Terlebih perkembangan teknologi informasi khususnya media saat ini sudah sangat maju. Imam Mujiono mengatakan masalah keluarga menjadi konsumsi sehari-hari dan tak jarang dilihat oleh anak-anak. Maka dari itu penting bagi orang tua dalam menghadapi tantangan keluarga di era milenial saat ini. “Media di era sekarang ini sangat mudah dan cepat di akses. Jangan sampai masalah keluarga menjadi konsumsi sehari-hari terutama pada anak-anak yang akan mempengaruhi kondisinya,” ujarnya.

Imam Mujiono memaparkan beberapa solusi dalam menghadapi tantangan tersebut guna menciptakan kondisi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Solusi tersebut di antaranya optimis dalam menatap masa depan, sikap saling percaya kepada anggota keluarga yang membuat sinergi, berprasangka baik serta pembentukan karakter. “Keempat hal ini bila dilakukan dan diamalkan bisa menciptakan kondisi keluarga yang sehat harmonis dan memiliki ketahanan yang kokoh,” ungkapnya. (ENI/RS)