• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menata Ulang Tujuan di Era New Normal
Berita Kegiatan

Menata Ulang Tujuan di Era New Normal

Pernyataan Sikap UII

Penerapan new normal di kala pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi para akademisi. Pengembangan dan optimalisasi potensi menjadi fokus utama. Pertanyaan kerap muncul, apakah kegiatan selama waktu pandemi ini merupakan hal yang kita butuhkan, atau hanya sekedar produktif ikut-ikutan. Topik ini mendasari Central Language Improvement (CLI) UII, menyelenggarakan diskusi dalam webinar bertajuk Seeing Yourself Growth and Become Potential Youth In The New Normal Era, pada  Minggu (26/7).

Clinical Psychologist & personality development trainer, Iswan Saputra menjelaskan perasaan cemas dan stres yang muncul ketika memikirkan akhir dari wabah Covid-19 merupakan hal yang wajar. Ia menandaskan bahwa reaksi tersebut merupakan hal yang biasa tatkala terjadi krisis. “Jadi terkait kesehatan mental ini, tidak hanya dalam ruang lingkup individu, namun juga dalam skala global. Jadi jika teman-teman cemas, kita tidak sendirian. Tapi seluruh dunia juga merasakan,” terangnya.

Efek dari pandemi yang berlangsung secara dinamis, dibutuhkan pula penyesuaian yang dinamis. Maka tekanan dan stress menjadi hal yang wajar dalam beradaptasi. Kendati demikian, Iswan menggaris bawahi bahwa hal tersebut perlu dikendalikan. “Stress dalam beradaptasi itu wajar, namun kita harus bisa mengontrol agar tidak menjadi destruktif,” terangnya.

Dalam melakukan manajemen stres pada individu, hanya terdapat satu pilihan, yaitu mengurangi stres (less stress). “Kita tidak bisa benar-benar free stress, dan yang bisa kita lakukan hanya less stress. Karena jika free stress, itu tandanya kita mati. Dalam artian tidak ada tuntutan. Sedangkan kita sendiri harus menjalankan peran, tanggung jawab, dan sebagainya,” ungkap Iswan.

Lebih lanjut mengenai manajemen stres, Iswan mengatakan setidaknya terdapat dua macam stres, yaitu Eustress dan Distress. “Stres positif (Eustress) itu seperti apa yang kita rasakan ketika belajar, mengerjakan skripsi, ataupun mengikuti webinar seperti ini. Sedangkan stres negatif (distres) itu sendiri biasanya menjadi hal yang menyebabkan sakit atau gangguan mental,” terangnya.

Ia menambahkan berkenaan tipe-tipe respon dalam menghadapi stres. “Ada Fight, Flight, dan Freeze. Fight sendiri artinya kalo kita ada tugas, atau menghadapi masalah kita akan langsung hadapi. Kalau Flight, itu maknanya mencari pengalihan (terbang) untuk mengurangi stres terhadap tugas, walau sebenarnya tidak menyelesaikan. Freeze, artinya diam, menerima apa saja yang tengah terjadi,” ungkapnya.

Mengenai memaksimalkan potensi dan menata ulang tujuan di era new normal, Growth for Teacher and Parent, Angga Fauzan menjelaskan bahwa terdapat faktor internal dan eksternal, dimana membuat seseorang dapat merasakan perkembangan dirinya. “Dalam faktor internal ini yang harus kita pikirkan dan kita sadari adalah bahwa seringkali hati dan pikiran kita kontra satu sama lain. Seperti hati kita ingin melakukan suatu hal, namun secara logika kita menjelaskan bahwa itu tidak mampu dilakukan atau tidak sesuai,” jelasnya.

Angga menambahkan perlunya awareness, terkait kemampuan serta kekurangan diri. “Pengembangan diri memang diperlukan, untuk menjadi lebih baik lagi. namun jika kita tidak aware, terhadap hal yang menjadi kelemahan kita sendiri, pada akhirnya akan menimbulkan stres. Karena pada dasarnya semua orang hadir dengan bakat, kondisi, dan passion-nya masing-masing,” sambungnya.

Di lain sisi, selain faktor internal, dalam faktor eksternal sendiri terdapat hal yang perlu diseimbangkan, antara threat (ancaman) dan opportunity (kesempatan). “Dua hal ini harus diseimbangkan, kita tidak bisa fokus hanya pada salah satunya. Jika hanya fokus pada ancaman, kita cenderung hanya akan mengeluh. Sedangkan jika kita terfokus pada kesempatan, justru menimbulkan optimisme yang membabi buta, tanpa tahu kondisi kita seperti apa,” tuturnya.

Selain kedua faktor tersebut, Angga menyinggung terkait perbedaan kondisi yang harus disadari saat berada di jenjang kuliah atau pendidikan, dengan jenjang profesi (bekerja). “Kondisi saat kita kuliah atau sekolah itu lengkap. Semua diajarkan, baik dari struktur, materi, kurikulum, ada guru, nilai, dan lain-lain. Sedangkan dunia pasca kamus itu sangat mix, tidak ada yang memberitahu kita terkait struktur, pressure (tekanan) banyak, demands (tuntutan) banyak, kompetisinya juga banyak, dimana kita akan bersaing dengan orang yang baru lulus, dari kampus lain, dari kantor lain, atau dari luar negeri, untuk berebut posisi,” katanya.

Melengkapi faktor eksternal yang telah dijelaskan, Angga menekankan bahwa setiap orang memiliki medan atau ruang perjuangannya sendiri. “Akan sangat tidak relevan jika kita mencampuri atau justru memiliki medan perjuangan (battlefield) orang lain yang tentu saja belum sama dengan diri kita. Karena itu cukup fokus dengan apa yang kita miliki sendiri, supaya bisa berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri kita,” ucapnya. (FSP/RS)

28 Juli 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/Kampus-UII-1.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-07-28 22:37:072020-07-29 05:28:43Menata Ulang Tujuan di Era New Normal

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Strategi Pembelajaran Daring Selama Pandemi Link to: Strategi Pembelajaran Daring Selama Pandemi Strategi Pembelajaran Daring Selama Pandemi Link to: Sejarah Pers dan Performance Research dalam Ilmu Komunikasi Link to: Sejarah Pers dan Performance Research dalam Ilmu Komunikasi Sejarah Pers dan Performance Research dalam Ilmu Komunikasi Scroll to top Scroll to top Scroll to top