,

Meneladani Sosok dan Kepemimpinan Prof. Zaini Dahlan

Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam Universitas Islam Indonesia (DPPAI UII) menyelenggarakan Diskusi Tokoh bertajuk“In Memoriam Sosok dan Kepemimpinan Prof. H. Zaini Dahlan, M.A.”, pada Kamis (16/6). Diskusi ini merupakan titik tolak dalam meneladani nilai-nilai tokoh intelektual Islam.

Prof. Zaini Dahlan dikenang sebagai sosok cendekiawan dan ulama yang aktif menulis dan berdakwah, selain juga aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan. Kepemimpinan dakwah Prof. Zaini Dahlan terbukti sukses. Tercatat, ia pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Kalijaga selama dua periode yakni 1976–1980 dan 1980–1983, dan sebagai Rektor UII periode 1994 – 1998 dan 1998 – 2002. Prof. Zaini Dahlan berhasil dalam mentranformasikan nilai-nilai keIslaman ke dalam kebijakan saat memimpin.

Diskusi yang digelar secara daring ini mengundang pengasuh Pondok Pesantren UII Dr. Suyanto., S.Ag., M.S.I., M.Pd sebagai narasumber. Prof. Zaini Dahlan merupakan penggagas pondok Pesantren UII di saat ia menjabat sebagai Rektor UII. Narasumber berikutnya adalah Syaifulloh Yusuf, S.Pd.I., M.Pd.I., yang dalam tesisnya membahas kepemimpinan Prof. Zaini Dahlan dan kontibusinya dalam Pendidikan Islam.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagaaman, dan Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag. dalam sambutannya menyampaikan bahwa Prof. Zaini Dahlan adalah sosok yang sangat luar biasa. “Saya bersaksi atas sosok beliau yang humble, sederhana, bersahaja, murah senyum dan tidak pernah marah, tingkat keilmuwan yang sungguh luar biasa itu lah yang saya saksikan,” kenangnya. Disampaikan Rohidin, diskusi yang digelar sangatlah perlu dan harus terus dikembangkan untuk meneladani tokoh intelektual Islam.

Prof. Zaini Dahlan bukan hanya menjadi teladan di lingkungan eksternal, di lingkungan internal keluarganya sosok Prof. Zaini Dahlan juga menjadi teladan terutama bagi anak-anaknya. Seperti halnya pernyataan yang disampaikan oleh Zakky Sulistiawan, M.Sc.,MMR. selaku anggota keluarga dari Prof. Zaini Dahlan,

“Beliau selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk senantiasa menjunjung tinggi keilmuan, beliau mencotohkan untuk belajar sepanjang hayat bahkan di umur tuanya, beliau bahkan mengetik satu persatu di mesin ketik untuk menuliskan karyanya yaitu Al-Qur’an dan Terjemahan Artinya, mengajarkan anaknya untuk menjadi pribadi yang rendah hati, dan mampu bermanfaat bagi orang lain,” paparnya

“Bapak pernah memberi pesan kepada anak-anaknya, bekerjalah kamu pada posisimu karena sesungguhnya Allah juga bekerja juga dan engkau akan tahu hasilnya,” imbuh Zakky Sulistiawan.

Sementara putri Prof. Zaini Dahlan, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., Sp.OG. yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada dalam pengantar sambutannnya menuturkan bahwa diskusi tokoh ini merupakan apresiasi yang sangat luar biasa dalam meneladani tokoh intelektual keIslaman. Ia mengaku merasakan ajaran yang secara rutin diberikan oleh ayahnya, untuk senantiasa menuntut ilmu sesuai dengan pemikiran dan konteks keilmuan yang dimiliki anaknya.

“Bapak selalu mengajarkan kepada anaknya untuk mengalir saja, sesuai yang kita kehendaki jadi Bapak tidak pernah memaksakan kepada anak-anaknya. Satu yang saya pegang, Bapak selalu mengatakan menjadi guru itu berkawan dengan buku, buku adalah teman setia yang tidak mungkin menghianati dari belakang,” tuturnya.

“Berkawan dengan buku itu tidak ada yang sifatnya merugikan pasti selalu menguntungkan, maka kita harus belajar sepanjang hayat, jangan merasa kita cukup, ilmu itu tidak ada batasnya. Namun ilmu yang diketahui manusia itu sangat sedikit, sesuai dalam Al-Qur’an suroh al-Isra’ ayat 85. Maka jangan menjadi manusia itu sudah mengetahui semuanya jangan sombong, sombong harus dikikis,” terang Prof. Ova Emilia mengenang pesan sang Ayah.

Pemaparan Narasumber

Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd. dalam materinya terkait mengangkat judul Jasa dan Bakti Prof. H. Zaini Dahlan, M.A. untuk Universitas Islam Indonesia. Ia mengemukakan bahwa Prof. Zaini Dahlan merupakan sosok yang sangat baik, adem, dan nasehat-nasehatnya sangat merasuk dalam kehidupan bahkan beliau senantiasa memikirkan kepentingan umat. Suyanto juga menjelaskan pengabdian yang dilakukan Prof. H. Zaini Dahlan antara lain yaitu 1). Mengawal UII dengan “Al-Qur’an dan Terjemahan Artinya 2). Memimpin penerbitan Tafsir Al-Qur’an UII 3) Mewariskan Tafsir Al-Fatihah, Ar-Rahman, Al-Mulk, Ar-Rum, dan juga juz 30.

Dr. Suyanto menambahkan, Prof. Zaini Dahlan juga merupakan sosok yang menginisiasi berdirinya pondok pesantren UII, LAZIS UII, Pusat Studi Islam, Orientasi Nilai Dasar Islam, dan juga penguatan identitas nilai keIslaman lainnya di UII. Selaku pengasuh Pondok Pesantren UII, ia mengaku mencoba untuk menghidupkan apa yang sudah diwariskan oleh Prof. Zaini Dahlan untuk mengkaji tafsir karya beliau saat dipondok.

“Salah satu nasehat yang melekat salah satunya yaitu “Kullun Muyassarun Lima Khuliqo Lahu” bahwa setiap sesuatu akan dimudahkan sesuai tujuan diciptakan-Nya. Prof. Zaini Dahlan sudah mengabdikan dirinya dengan sangat baik dan menebarkan banyak manfaat untuk kepentingan umat,” terang Dr. Suyanto.

Sementara Syaifulloh Yusuf dalam pemaparannya menjelaskan bahwa dalam kepemimpinannya Prof. Zaini Dahlan memiliki gaya kepemimpinan yang karismatik-demokratis. Ia memiliki gaya bicara dan nasehat-nasehat yang lembut dan sangat sejuk, tidak menggebu-gebu, pembawaannya kalem, tidak sombong, namun tidak minder, dan menjaga harmoni sosial.

Kontribusi Prof. Zaini Dahlan dalam Pendidikan Islam juga sangatlah luar biasa. Disampaikan Syaifulloh Yusuf, Prof. Zaini Dahlan adalah sosok yang berdedikasi tinggi dan berjasa bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi Islam. Beliau memberikan pesan bahwa semua saspek harus dibenahi dalam pendidikan terutama aspek pendidikannya. Menjadi pendidik itu harus menjadi contoh, menjadi pendidik itu harus memiliki hati yang bersih sehingga tidak akan muncul rasa pamrih.

“Begitulah sosok dan teladan dari tokoh intelektual Islam yaitu Prof. H. Zaini Dahlan, MA. Semoga dengan adanya diskusi tokoh ini kita semua mampu untuk mencontoh apa yang sudah beliau ajarkan, dan mampu menjadi manusia yang bermanfaat, dan sesuai dengan pesan beliau belajarlah sampai akhir hayat, karena Pendidikan itu sangat penting untuk membangun peradaban bangsa dan negara yang baik dan kaffah,” tandas Syaifulloh Yusuf.