• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menjadi Akademisi Yang Kritis dan Adil Berpikir
Berita Kegiatan

Menjadi Akademisi Yang Kritis dan Adil Berpikir

Critical thinking merupakan salah satu kemampuan penting yang akan membantu bekerja di masa depan. Kemampuan berpikir kritis tidak hanya membantu menyelesaikan permasalahan kompleks namun juga mengkritisi secara tajam sebuah gagasan. Pembahasan ekstensif mengenai critical thinking menjadi topik utama yang memayungi workshop yang diadakan Universitas Islam Indonesia (UII) Learning Center pada Sabtu, (18/05) di Ruang Audiovisual, Gedung Rektorat UII.

Workshop bertajuk ‘Being A Critical Thinker’ ini menghadirkan Riefki Fajar Ganda Wiguna, S.Pd., Astari Husna Masitha, B.Soc.Sc., Ginanjar Gailea, M.A., serta Anandayu Suri Ardini, S.S., M.A sebagai pembicara.

Di sesi pertama, Riefki mendefinisikan ulang kata ‘berpikir’. “Apa itu critical thinking?”, tanya Riefki. Ia kemudian lanjut bertanya pada peserta. “Apakah kalian waktu kecil pernah bertanya kepada orang tua kalian, kenapa warna langit itu biru?” tanya Riefki kepada peserta. Ia lalu menyampaikan bahwa critical thinking merupakan proses berpikir secara sistematis dalam rangka untuk memahami dunia.

Ginanjar pada sesi dua menyampaikan teknis bagaimana membuat sebuah argumen. Pada dasarnya argumen dibuat dalam rangka untuk membujuk, menggiring, ataupun mempertahankan suatu pernyataan. “Argumen memiliki dua komponen penting, yakni konklusi dan premis,” jelas Ginanjar. Pada penjelasan Ginanjar, konklusi adalah pernyataan klaim, sedangkan premis adalah pernyataan yang mendukung klaim tersebut.

Astari kemudian mengungkap bahwa selain mempertajam argumen, kemampuan berpikir kritis membantu membuat keputusan dengan sudut pandang yang lebih holistik. Ia lalu menjelaskan perbedaan mendasar mengenai fakta dan opini. Fakta adalah sesuatu yang bisa dibuktikan, sedangkan opini adalah pernyataan subjektif yang tidak dapat dibuktikan keabsahannya.

Sedangkan Anandayu menyapaikan materi terkait sesat pikir yang seringkali tidak disadari orang-orang dalam proses berpikir yang berujung pada kekeliruan baik dalam membuat keputusan ataupun dalam menyampaikan pernyataan. Ada sepuluh jenis sesat pikir yang disampaikan oleh Anandayu antara lain yang sering terjadi adalah false dilemma dan bandwagon fallacy.

“False dilemma merupakan sesat pikir dimana ada dua hal terkesan dikotomi dan membingungkan, contohnya seperti pernyataan ‘kalau tidak mendukung pasangan 01, pasti mendukung pasangan 02’, padahal kenyataannya mungkin seseorang bisa mendukung dua-duanya”, Pungkas Anandayu.

Sedangkan bandwagon fallacy sesat pikir dimana sesuatu hal menjadi benar hanya karena ada satu figur yang menganggap itu benar. Contohnya seperti, merk sepatu A bagus hanya karena dibeli dan dipakai oleh presiden, bukan karena bagus dari segi kualitas sepatunya. “Ini merupakan kecacatan dalam proses berpikir yang seringkali tidak kita sadari,” pungkas Anandayu. (IG/ESP)

20 Mei 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/05/IMG_9489.jpg 330 492 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2019-05-20 10:59:362019-05-20 10:59:36Menjadi Akademisi Yang Kritis dan Adil Berpikir

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Tiga Pendidikan Penting Ramadan Link to: Tiga Pendidikan Penting Ramadan Tiga Pendidikan Penting Ramadan Link to: Prodi PAI Gali Keteladanan Zaini Dahlan Link to: Prodi PAI Gali Keteladanan Zaini Dahlan Prodi PAI Gali Keteladanan Zaini Dahlan Scroll to top Scroll to top Scroll to top