• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Muslim Rohingya Bertahan Hidup Disaat Covid-19 Mewabah
Berita Kegiatan, Covid19

Muslim Rohingya Bertahan Hidup Disaat Covid-19 Mewabah

Pernyataan Sikap UII

Sama halnya seperti warga di belahan dunia yang lain, muslim Rohingya juga tak lepas dari potensi terkena dampak pandemi Covid-19 di tengah kurangnya fasilitas yang tersedia di kamp pengungsian Cox’s Bazar, Bangladesh. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Abdullah Mamun Chowdhury, Associate Professor. Chairman Department of International Relations Rajshahi University, Bangladesh, mengawali Webinar Talk Series bertajuk Refugee and Pandemic: Rohingya Refugess in Bangladesh as Case Study yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), pada Selasa (5/5) secara daring.

Abdullah menuturkan bahwa hingga saat ini, di tahun 2020, jumlah pengungsi yang tersebar di seluruh negara lebih dari dua puluh lima juta jiwa. “Rohingya berada di urutan keempat sebagai pengungsi terluas di dalam tabel demografi yang tinggal di kamp yang berbeda-beda di kota Cox’s Bazaar, Bangladesh,” jelasnya.

Lebih jauh, Abdullah menarik mundur kisah Muslim Rohingya bahwa mulanya mereka yang bertahan saat ini adalah mereka yang berhasil kabur dari pembantaian yang terjadi akibat konflik di Myanmar pada 2017 lalu. “Sebelum pembantaian terjadi, jumlah muslim Rohingya mencapai satu juta tiga ratus jiwa,” tuturnya sembari memperlihatkan beberapa foto dampak konflik.

Bangladesh adalah harapan bagi enam ratus ribu jiwa Muslim Rohingya yang saat itu berhasil kabur dari Konflik Myanmar Oktober 2017 lalu. “Tapi apakah Bangladesh mampu menampung pengungsi dengan jumlah jiwa yang banyak? Bagaimana cara mencukupi kebutuhan makanan, sanitasi, dan layanan kesehatan? Apa dampak ekonominya bagi Bangladesh?,” ungkap Abdullah.

Abdullah memaparkan, bersama dengan bantuan UNHCR, masyarakat, dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pemerintah Bangladesh mulai membangun kamp pengungsian. Seiring berjalannya perkembangan bantuan yang ditawarkan Bangladesh dan elemen masyarakat dunia kepada Muslim Rohingya, pada 2018 tercatat jumlah Muslim Rohingnya meningkat hingga satu juta seratus jiwa.

“Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, walaupun mereka sempat mengalami kekerasan seksual. Kurang lebih ada dua puluh persen dari mereka yang hamil,” jelasnya.

Lalu bagaimana Muslim Rohingya menghadapi pandemi Covid-19? “Semua kegiatan keagamaan apapun di seluruh negara di dunia dibatasi guna menghindari Covid-19. Saya sebut virus sekuler karena virus ini tidak memiliki belas kasihan pada agama apapun,” ungkapnya.

Mengejutkan bahwa di Kamp pengungsian Muslim Rohingya, tidak ada yang tercatat positif Covid-19. Abdullah mengatakan, selama Pandemi Covid-19 ini, semua kegiatan bantuan yang disalurkan untuk Muslim Rohingya dikelola oleh pemerintah dan masyarakat dan LSM. Dan terkhusus untuk menghadapi wabah ini, ada beberapa langkah yang diberlakukan pemerintah Bangladesh.

“Pertama adalah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di area kamp pengungsian, Pembatasan masuk dan keluar, memersiapkan rumah sakit, pelayanan kesehatan dan ruang isolasi, melatih relawan dan LSM, dan pembatasan gerakan di kamp pengungsian,” jelasnya.

“Bangladesh melakukan yang terbaik. Mereka menunjukan kemanusiaan dengan segenap kekurangannya,” puji Abdullah. (IG/RS)

6 Mei 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/Kampus-UII-1.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-05-06 08:51:092020-05-12 19:00:37Muslim Rohingya Bertahan Hidup Disaat Covid-19 Mewabah

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Pebisnis Harus Siap Hadapi Segala Kemungkinan Link to: Pebisnis Harus Siap Hadapi Segala Kemungkinan Pebisnis Harus Siap Hadapi Segala KemungkinanPentingnya Menjaga Sport Performance Link to: Memupus Sifat Iri dan Dengki dalam Diri Link to: Memupus Sifat Iri dan Dengki dalam Diri fiqih ibadah ramadhan - sifat iri - berita UIIMemupus Sifat Iri dan Dengki dalam Diri Scroll to top Scroll to top Scroll to top