Perencaan finansial menjadi hal yang penting dipelajari di era sekarang. Tidak hanya bagi ahli pengelola keuangan namun juga bagi kalangan pegawai termasuk sivitas akademika universitas, seperti tenaga kependidikan dan dosen. Hal ini karena perencanaan finansial sangat membantu dalam merencanakan masa depan, baik untuk dana pendidikan, kebutuhan primer seperti perumahan, maupun untuk ibadah haji.

Sebagaimana tergambar dalam acara Workshop Manajemen Keuangan Keluarga yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pegawai (IKP) UII. Workshop yang diikuti oleh segenap tenaga kependidikan dan dosen UII ini berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, kampus terpadu UII, Selasa (15/5). Hadir sebagai pembicara workshop, pakar perencanaan finansial, Mohammad B. Teguh, Lc., MA., AEPP., CFP.

Ketua Umum IKP UII, Moh. Hasyim, SH, M.Hum menyampaikan tujuan diadakannya workshop adalah agar para pegawai UII dapat mengetahui cara untuk merencanakan keuangan keluarga dengan lebih baik dan tepat. Selain itu, ia juga menekankan workshop dapat memberi pengetahuan mengenai cara memilih instrumen investasi yang aman dan tepat sasaran bagi keluarga.

“Pegawai di UII sangat beragam. Ada yang pandai mengelola keuangan sehingga cukup dan bisa menabung dengan gajinya tapi juga ada yang masih kekurangan. Inilah pentingnya workshop”, ujarnya.

Sementara, Wakil Rektor II UII, Dr. Drs. Nur Feriyanto, M.Si menyambut baik diadakannya workshop manajemen keuangan keluarga. “Allah Swt. menjanjikan kecukupan dan kekayaan selama kita hidup di dunia. Ini artinya kita harus berpikir positif dan produktif dalam menjalani hidup. Oleh karenanya, kekayaan yang dititipkan Allah haruslah dikelola sebaik-baiknya”, pesannya.

Sedangkan pembicara workshop, Mohammad B. Teguh menjelaskan perencanaan keuangan merupakan proses mencapai tujuan hidup seseorang melalui manajemen keuangan secara terencana. Menurutnya, di Indonesia pemahaman literasi keuangan belum merata sehingga kesadaran untuk berinvestasi, menabung, serta merencanakan keuangan masih rendah.

“Tingginya perilaku konsumtif, rendahnya rasio investasi saham atau reksadana, dan maraknya investasi bodong merupakan tanda belum meratanya literasi keuangan. Hal ini berpotensi pada terjadinya krisis ekonomi di suatu negara”, ungkapnya.

Untuk itu, ia berpesan pertama-tama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan check-up finansial guna mengetahui sehat atau tidaknya kondisi keuangan. Tahap selanjutnya adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam perencanaan keuangan keluarga.

“Aturlah aliran kas sesuai prinsip syariah, yakni dengan mendahulukan pelunasan hutang sebesar maksimal 30% dari pendapatan, membayar zakat, berinvestasi, baru sisanya untuk membayar pengeluaran rutin dan gaya hidup”, pungkasnya.