Harapan keberlangsungan sebuah bangsa bergantung pada regenerasi pemuda. Khususnya di kampus, kehadiran mahasiswa baru disambut hangat dengan kegiatan orientasi mahasiswa. Tidak hanya membentuk citra besar sebuah institusi dan membangkitkan harapan akan sebuah visi, orientasi mahasiswa juga menanamkan pengetahuan baru akan kapasitas yang dapat diasah melalui fasilitas yang tersedia di sebuah kampus.

Penutupan kegiatan orientasi mahasiswa UII ditandai dengan penutupan simbolis berupa pemukulan gong oleh Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni. Rangkaian kegiatan Pesona Ta’aruf (PESTA) 2019 pada Jum’at (16/08) secara formal resmi berakhir. Resmi sudah 5.700 mahasiswa menjadi bagian dari keluarga UII.

Acara penutupan PESTA UII 2019 selain menghadirkan mahasiswa baru 2019, juga menghadirkan Fauzian Bayu selaku ketua Organizing Committee (OC) PESTA UII 2019, Bhima Rizky Ananda selaku ketua Steering Committee (SC) PESTA UII 2019, Ikhwan Ardiyanto Putra selaku ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII, Saudara Nizar Suryanto Isadono selaku Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang diwakilkan Dimas Nugraha Riyadi, dan Fathul Wahid S.T, M.Sc, Ph.D, Rektor Universitas Islam Indonesia yang diwakilkan Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni.

Dalam kata sambutan, Fauzian dan Bhima menyampaikan rasa terima kasih yang terutama pada pihak panitia selaku pionir utama yang telah bertahan hingga hari kedua untuk menjalankan serta mensukseskan rangkaian acara PESTA UII 2019.

Berbeda dengan Fauzian dan Bhima, Ikhwan dan Dimas memotivasi mahasiswa lewat kata sambutannya untuk mengoptimalkan “wadah” yang ada. “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk,” ujar Ikhwan lantang.

Mengutip dari Tan Malaka, Ikhwan menerangkan maksud konteks di balik ungkapan tersebut bahwa mahasiswa 2019 cepat atau lambat akan bertemu apalagi bergesekan dengan dinamika yang ada di dalam kampus perjuangan ini. UII memang terkenal dengan kekentalan student government-nya yang selain mendorong mahasiswa untuk saling transparan dan kritis, tetapi juga membentuk mahasiswa menjadi independen di dalam dunia politik mahasiswa itu sendiri.

Sedangkan Dr. Rohidin, menyampaikan visi besar progresif UII untuk kontribusi dunia. “Ada dua tujuan utama yang ingin dicapai UII. Pertama menciptakan lulusan cendikiawan muslim, tidak hanya intelektual. Kedua, mencetak pemimpin bangsa”, ungkap Rohidin.

Beliau melanjutkan bahwa “cetak biru”nya berasal dari kurikulum Ulil Albab yang telah didesain sebaik mungkin oleh pemangku kebijakan UII. Kurikulum bertujuan membentuk mahasiswa islami yang berkemimpinan profetik, berketerampilan transformatif, dan berpengetahuan integratif.

Terakhir, Rohidin menyampaikan 3 bahaya “zaman now”. “Pertama bahaya korupsi, bahaya narkoba, dan bahaya hoax. Hati-hati dalam bergaul, walaupun Yogyakarta terlihat kecil, tetapi memiliki fasilitas yang lengkap. Tetap jaga konsistensi dan harmonisasi”, pungkasnya. Melalui kata sambutan dan suara gong yang dibunyikan sebanyak tiga kali, setidaknya nilai dan semangat PESTA terpatri di jiwa-jiwa calon pemimpin bangsa yang tengah duduk di kerumunan 5.700 mahasiswa baru UII. (IG/ESP)