Peradaban Islam turut mewarnai sejarah perkembangan peradaban dunia. Sempat mempengaruhi arus kemajuan sains dan teknologi, peradaban Islam perlahan semakin surut dominasinya hingga digantikan zaman Renaisans Barat. Pasang surutnya Islam sebagai peradaban dapat dilihat dari implementasi keimanan (akidah dan akhlak), politik (siyasah), ekonomi (iqtishadiyah), kehidupan sosial (al-hayah al-ijtimaiyyah), dan hubungan antar bangsa dan budaya. Hal ini masih menjadi bahan kajian menarik bagi masyarakat.

Pembahasan tersebut tergambar dalam Diskusi Publik dengan tema “Kemunduran dan Keruntuhan Peradaban Islam” yang diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Ekonomi Universias Islam Indonesia, pada Kamis (31/01) di Ruang P 1/2 Fakultas Ekonomi UII, Condongcatur, Yogyakarta.

Disampaikan salah seorang narasumber, Prof. Dr. Dudung Abdurrahman, M.Hum bahwa kemunduran umat Islam dikarenakan beberapa hal yaitu penyebaran pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup, pengaruh negatif tarekat, dan kurangnya perhatian terhadap ilmu pengetahuan.

“Saat ini umat Islam dihadapkan pada tantangan peradaban dunia yang terbentuk dalam nasionalisme, sosialisme, dan kapitalisme. Ketiganya terus bergumul dengan berbagai pola perubahannya, maka peradaban muslim perlu terus diperbaiki dengan pendekatan yang moderat terhadap Islam”, ujar Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Suka sekaligus Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Yogyakarta itu.

Menurutnya, pendekatan yang seimbang pada kehidupan dunia dan akhirat merupakan prasyarat bagi pembinaan masyarakat yang dinamis dan selalu berkembang. Karena itu, Islam musti dipahami untuk mampu dilaksanakan dalam konsep-konsepnya yang dinamis dan penuh semangat di tengah pergumulan dunia masa kini.

Hal ini agar Islam dapat disusun sebagaia landasan nilai dan norma sosial, ekonomi, dan politik bagi peradaban muslim di masa mendatang.

Lebih lanjut Ketua Pengurus Harian Yayasan Badan Wakaf UII, Suwarsono Muhammad, M.A., juga menyampaikan pandangannya mengenai Peradaban Islam Masa Depan. Menurutnya, tidaklah mudah dalam memperkirakan masa depan, apa lagi masa depan peradaban. Dunia semakin kompleks tetapi disaat yang sama mengalami perubahan radikal yang menjanjikan dua hal sekaligus : ketidakpastian dan peluang untuk melakukan pergeseran geopolitikekonomi secara signifikan.

“Lihat saja China, digabungkannya resep ekonomi pasar yang kapitalistik dengan tata politik otoriotarian melalui peran negara merupakan strategi pokoknya. Tidak berlebihan jika ada yang menyebutnya itulah kapitalisme masa depan”, pungkas penulis buku “Kapitalisme Perdagangan ke Kapitalisme Religius” itu. (MRA/ESP)