Menempuh pendidikan tinggi tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk mencukupi kebutuhan biaya akademik, sebagian mahasiswa bergantung pada berbagai skema beasiswa yang ada di kampus. Dengan adanya beasiswa, tidak hanya membantu untuk melanjutkan studi namun juga meringankan beban finansial keluarga. Oleh karena itu, UII juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam penyediaan dana beasiswa bagi mahasiswanya.

Seperti tergambar dalam kunjungan Yayasan Van Deventer-Maas Indonesia ke kampus terpadu UII pada Kamis (31/1). Perwakilan Yayasan Van Deventer-Maas Indonesia terdiri dari Prof. Jan Pascchier, Berit van Hulst, Pariasih Manoto, serta dua orang staf. Kunjungan yang banyak diisi dengan diskusi ini berlangsung di GBPH Prabuningrat dan diterima oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional dan Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan.

Mengawali diskusi, Kepala Divisi Kemitraan Luar Negeri, Herman Felani, S.S., M.A menceritakan tentang latar belakang UII sebagai kampus nasional pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia. Latar belakang sejarah tersebut turut membentuk karakter dan keunikan UII yang kemudian bertransformasi menjadi universitas Islam berjiwa kebangsaan.

“Di UII saat ini setidaknya memiliki student body sebanyak 25.000 mahasiswa yang beraneka ragam latar belakang budayanya”, ungkap Herman Felani.

Menanggapi hal itu, Prof. Jan Pascchier selaku VDMS Board at Netherland menanyakan dari jumlah tersebut, bagaimana kampus dapat menyeleksi mahasiswa yang layak menerima beasiswa atau tidak. Selama ini yayasannya cukup intens mencari mahasiswa-mahasiswa yang layak menerima beasiswa pendidikan.

Sementara itu, Kepala Divisi Pembinaan Kepribadian & Kesejahteraan, Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A. menambahkan dari 25.000 student body, kurang lebih 1% di antaranya merupakan penerima beasiswa. Adapun skema beasiswa di UII ada yang berasal dari pendanaan internal maupun eksternal.

Hazhira Qudsyi menceritakan beasiswa yang ada sebagian besar merupakan beasiswa biaya pendidikan dan ada pula beasiswa yang juga mewajibkan penerimanya tinggal dalam satu wadah asrama atau pondok pesantren. Sedangkan beasiswa yang juga mencakup living cost keberadaannya relatif terbatas.

Di sisi lain, Berit van Hulst mendiskusikan beragam permasalahan dan stres yang dialami oleh mahasiswa. Menurutnya, di Belanda pun para mahasiswa gelisah terkait ketersediaan lapangan kerja dan masa depan pasca kelulusan. Sedangkan di UII, berdasarkan data konseling kemahasiswaan, mahasiswa gelisah mengenai padatnya tugas perkuliahan dan tingginya ekspektasi orang tua atas studi mereka.

Pasca berdiskusi, para tamu kemudian menutup kunjungan dengan melihat Museum UII dan Candi Kimpulan di kompleks perpustakaan UII.