,

Peringati Earth Hour: UII Matikan Lampu di Seluruh Gedung

Universitas Islam Indonesia (UII) turut berpartisipasi dalam aksi Earth Hour dengan mematikan lampu yang ada diseluruh lingkungan kampus pada Sabtu (24/3). Diawali sebagai sebuah gerakan simbolis mematikan lampu di Sydney (Australia) tahun 2007, Earth Hour kini diselenggarakan di lebih dari 180 negara dan wilayah, sebagai momen solidaritas global untuk planet bumi.

Dalam pelaksanaan kampanye peduli lingkungan ini, juga dinyalakan lilin membentuk angka enam puluh plus (60+) di depan gerbang masuk Kampus Terpadu UII. Tanda plus ini menggambarkan tujuan Earth Hour sendiri yang mendorong masyarakat dunia untuk melakukan aksi lanjutan setelah satu jam mematikan lampu.

Disampaikan Rektor UII, Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum., PhD., kesertaan UII dalam Earth Hour kali ini yakni dengan switch off (mematikan) lampu di seluruh gedung yang ada di UII pada pukul 20.30 – 21.30 Wib, Sabtu (24/3).

“Untuk mendukung kelancaran kegiatan swith off ini khususnya di area Kampus Terpadu UII, kami meminta seluruh bantuan unit untuk mematikan saklar lampu ruangan kerja dan area di sekitar gedung setelah jam kerja selesai sejak hari Jumat (23/3),” tuturnya.

Nandang Sutrisno menjelaskan, selanjutnya pada Sabtu malam (23/3), khusus pada pukul 20.30 -21.30 Wib lampu diseluruh area kampus baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan harus dimatikan. Kecuali yang memang betul-betul diperlukan misalnya untuk keperluan Badan Sistem Informasi (BSI) tentunya harus tetap hidup, seperti untuk keperluan server.

“Baik BSI UII yang berada di pusat maupun juga yang ada di fakultas-fakultas bisa tetap hidup, tetapi yang lainnya tetap harus dimatikan. Dengan mematikan lampu satu jam saja di lingkungan kampus UII tentunya ada penghematan,” ujarnya.

Ia menambahkan, bila setiap saat kita dapat mematikan lampu yang betul-betul tidak kita gunakan, maka penghematan akan bisa lebih besar lagi. Diharapkan dengan menghemat energi akan menjadi budaya, baik di lingkuangan akademis maupun di kalangan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian kita juga dapat turut berkontribusi untuk keberlangsungan lingkungan.

”Jadi ini dampak yang kita harapkan menghemat energi itu menjadi budaya baik di lingkungan UII maupun masyarakat pada umumnya. Sekali lagi dengan demikian kita turut serta menyelamatkan lingkungan, berkontribusi terhadap keberlangsungan lingkungan,” tandasnya.

Menurut Nandang Sutrisno, budaya menghemat energi harus terus menerus diupayakan, dan dapat dimulai dari kampus. Di kampus UII sendiri sudah melakukan inovasi teknologi dimana di dalam satu gedung menggunakan solar energi. Dari inovasi teknologi menghemat energi ini UII juga telah mendapatkan penghargaan Subroto 2017 Bidang Inovasi Energi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

”Nantinya seluruh kampus di UII juga secara perlahan-lahan akan menggunakan solar energi tersebut. Memang bila dilihat dari sisi finansial belum efisien, tetapi dari penyelamatan lingkungan/Sumber Daya Alam bisa dikatakan cukup kontributif,” ujarnya.