Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) turut memperkenalkan kopi Indonesia ke mancanegara melalui program Passage to ASEAN (P2A) “Summer Program Scholarship: Exploring The Diversity of Indonesian Coffee From Gayo-Aceh to Merapi-Yogyakarta”. Program P2A ini dijadwalkan berlangsung selama 11 hari, yakni 10-21 September 2018.

Setelah melalui serangkaian acara di Medan dan Aceh. Sebanyak 25 peserta program yang berasal dari Vietnam, Thailand, Malaysia, Kamboja, Laos dan Swedia melanjutkan rangkaian program ke Yogyakarta. Di kampus UII, pada Senin (17/9), peserta program P2A disambut secara langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D.

Fathul Wahid menuturkan, dalam program P2A ini Kopi menjadi sebuah media untuk menyampaikan sebuah pesan. Tujuan utama dari program ini menurutnya adalah untuk meningkatkan pemahaman akan budaya yang multikulturalisme. Mengingat saat ini dunia sudah menjadi tanpa batas dengan perbedaan yang nyata.

”Setelah selesainya program ini, diharapkan para peserta siap menjadi warga global yang sadar akan perbedaan, dan menjadi warga global yang lebih memahami satu sama lain,” ujar Fathul Wahid.

Fathul Wahid menambahkan kalau dalam program ini kopi tidak hanya membuat kita terjaga secara fisik, namun menjadi media untuk membuat kita terjaga secara mental dan sosial. Karena COFFEE berarti Cross Cultural Orientation For Fostering Empathy and Engagement, atau orientasi lintas budaya untuk membina hubungan dan empati,” paparnya.

Disampaikan Direktur Kantor Urusan Internasional UII, Hangga Fathana, S.Ip., B.Int.St., M.A., di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia menjadi salah satu produsen kopi terbesar di Dunia. “Indonesia menduduki peringkat ke 4 produsen kopi terbesar di dunia. Dan menduduki peringkat 2 di wilayah Asia Tenggara setelah Vietnam,” ujarnya.

Hangga Fathana melanjutkan, apabila jumlah yang dihasilkan oleh Indonesia dan Vietnam digabungkan maka jumlahnya akan menjadi contributor terbesar di dunia ke dua setelah Brazil. Dan fakta yang paling mengejutkan adalah mayoritas masyarakat dunia adalah penikmat kopi. Maka dari itu, progam P2A ini sudah menjadi perhatian negara-negara di Asia Tenggara.

”Bagi peserta program yang telah melakukan serangkaian acara di Medan dan Aceh, kini saatnya mengikuti serangkaian program yang akan dilakukan di Yogyakarta, yaitu mengunjungi lahan kopi Merapi, dan mengunjungi kedai kopi lokal di Indonesia khususnya di Yogyakarta,” paparnya.

Pada sesi materi pertama program yang disampaikan oleh owner kedai Havermeel koek, Chancard Basumerda, S.T., M.Sc., awal mula memilih untuk menjual kopi di kedainya, karena kopi menjadi suatu kesempatan yang besar. Kota Jogja menjadi kota yang setiap tahunnya banyak didatangi pelajar yang berasal dari daerah lain. Mayoritas dari para pelajar itu adalah mahasiswa.

”Jika dilihat, banyak mahasiswa pendatang yang mencoba mendatangi suatu tempat baru. Salah satunya adalah kedai kopi yang saat ini banyak digemari,” ujarnya.

Menurut Chancard Basumerda di kota Yogyakarta sendiri terdapat kurang lebih 1200 kedai kopi. Maka dari itu untuk bertahan dalam bisnis kopi adalah dengan cara mengetahui pasar yang akan di sasar. Untuk Havermeel Koek sendiri, yang notabene mempunyai kualitas tinggi dalam jenis kopi yang ditawarkan, maka pasar yang disasar adalah konsumen yang high level.

“Selain itu, juga sering membuat promo bagi konsumen khususnya bagi para mahasiswa untuk meningkatkan penjualan dan sebagai bahan promosi,” imbuhnya.

Sementara pada pemaparan materi ke 2 oleh Asri Meikawati, SE., MBA., selaku Pendiri Cokelat nDalem, dibahas bagaimana cara mendirikan sebuah usaha. Menurut Asri Meikawati alasan mengapa membuka bisnis mengenai cokelat adalah karena Indonesia berada di urutan ke 3 negara penghasil biji kokao di dunia. Namun Indonesia belum menjadi negara produsen Cokelat.

Selain itu disampaikan Asri Meikawati, menjalankan bisnis coklat juga turut membantu mensejahterakan para petani kokao yang saat ini usianya menginjak 45 tahun keatas. ”Dalam bisnis ini, Cokelat nDalem melakukan sebuah inovasi yang berbeda dari pada yang lain yaitu dengan memberikan rasa kedalam cokelat yang di produksi. Rasa yang diberikan antara lain kayu manis, wedang ronde, kopi merapi, green tea, dan lain sebagainya,” jelas Asri Meikawati.

Selain inovasi mengenai rasa, Cokelat nDalem menurut Asri Meikawati juga melakukan inovasi dari pengemasannya yang menggunakan berbagai hal terkait Indonesia seperti gambar batik, gambar tarian daerah, dan juga mascot kota Yogyakarta sendiri.

Asri Meikawati menuturkan selain untuk mempromosikan produk Cokelat nDalem kepada konsumen yang mayoritas wisatawan dari luar kota dan mancanegara, Cokelat nDalem juga membantu mempromosikan kebudayaan dan tarian Indonesia hingga mengenalkan cerita mengenai petani kakao Indonesia melalui pengemasan yang ada di bagian luar kemasan Cokelat. (RRA/RS)