Yayasan Badan Wakaf (YBW) Universitas Islam Indonesia (UII) mempunyai komitmen mengembangkan seni dan budaya yang berjiwa Islami. Hal tersebut diwujudkan dengan mendirikan sebuah Lembaga Kebudayaan bernama Embun Kalimasada.

Embun dimaknai sebagai pelambang air yang suci dan mensucikan, sedangkan Kalimasada merupakan pelambang prinsip syahadat. Adapun landasan pendirian lembaga tersebut merupakan realisasi dari cita-cita awal pendirian UII yang sudah tertunda sekian lama.

Mengawali eksistensinya, Embun Kalimasada mengundang budayawan dan seniman di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dalam acara Sarasehan Budaya dengan tema Masjid, Pasar, dan Strategi, pada Kamis (1/11), di Ruang Sidang YBW UII, Jl. Cik Di Tiro No. 1, Yogyakarta. Acara ini menjadi forum perdana untuk ‘kulo numun’ dan meminta restu serta doa dari para budayawan dan seniman atas pembentukan lembaga tersebut.

Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Drs. Suwarsono Muhammad, MA., menyampaikan harapan agar Embun Kalimasada dapat menjadi media bertemunya prakarsa dan aksi dalam memajukan kebudayaan Indonesia.

“Kami berharap hadirnya Embun Kalimasada ini dapat menjadi wadah kesenian dan kebudayaan yang menyatukan tradisi dan modernitas dalam kesatuan yang harmoni, serta memberikan kontribusi dalam merawat peradaban madani,” tuturnya.

Lebih lanjut, Suwarsono Muhammad menyampaikan beberapa agenda dan rencana kegiatan yang akan di lakukan oleh Embun Kalimasada selama setahun kedepan.

“Kedepan kita berencana melakukan pameran seni yang disertai penerbitan monograf, lima kali dalam setahun. Adapun beberapa tema yang akan diangkat berupa fotografi masjid, sajadah, partai politik Islam dalam sejarah Indonesia, serta seni rupa tentang Zaman Perubahan,” tambahnya.

Sementara Budayawan Emha Ainun Najib menjelaskan bahwa kebudayaan tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai produk seni dan budaya, melainkan segala sesuatu merupakan sebuah kebudayaan.

“Saya lebih melihat embun sebagai estetika, karena semua yang ada disini merupakan lembaga kebudayaan, sehingga hadirnya embun lebih memberi ruang kepada estetika yang dapat menjadi penyempurna atau kaffahnya lembaga pendidikan ini,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua Departemen Pengembangan Kebudayaan Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) se-Indonesia, Dr. Nasir Tamara juga menambahkan bahwa kebudayaan memiliki arti yang sangat luas, yang saling terkait dalam kehidupan masyarakat yang beradab.

“Budaya jangan dipersempit, beri arti budaya pada sesuatu yang seluas-luasnya, sehingga lembaga ini tidak hanya menjadi embun, akan tetapi sumber mata air bagi masyarakat,” pungkasnya.