Menjadi entrepreneur merupakan pekerjaan yang kurang dilirik bagi mahasiswa teknik terutama Teknik Lingkungan. Lulusan teknik lebih berorientasi kepada pekerjaan yang memiliki penghasilan besar ataupun masuk di perusahaan ternama dan dapat menaikkan gengsi. Hal inilah yang menjadikan entrepreneur bukanlah sebagai pilihan utama lulusan Teknik Lingkungan. Dalam merespon hal tersebut, Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (FTSP UII) mengadakan ENVIROTALK yang mengangkat pembahasan tentang “Strategi Pengembangan Bisnis Bidang Sanitasi Lingkungan” dan berlangsung di Auditorium FTSP UII pada Rabu (6/3) pukul 10.00 WIB.

Kegiatan ini dibuka oleh ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D, serta narasumber Achmad Supi’i, S.T. Narasumber merupakan owner dan CEO dari Achmad & Associates Group yang memiliki karyawan sebanyak 78 karyawan, angka yang terbilang banyak sebagai perusahaan konsultan.

Sebelum membangun perusahaan sendiri, narasumber pernah bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan dan sampai pada bagian Staff Engineer. Keadaan lah yang memaksa narasumber untuk keluar dan meniti perusahaan sendiri. “Bekerja di perusahaan memiliki penghasilan yang linier atau stabil sedangkan dunia entrepreneur memiliki penghasilan yang tidak linier”, ungkapnya.

“Keadaan awal bagi pemula yang masuk dunia entrepreneur adalah keraguan untuk memulai, keraguan akan pendapatan, dan keraguan akan gagal serta tidak ada modal dan terakhir bingung memilih bidang entrepreneur”, terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa dasar-dasar tersebut sudah pernah didapatkan ketika kuliah. Bagi pebisnis, keberanian merupakan hal yang wajib sebab biasanya pebisnis merupakan orang-orang yang berani dan aneh (dalam arti baik).

Keadaan awal haruslah direspon baik bagi entrepreneur muda. Achmad meyakinkan bahwa sebagai entrepreneur, harus berani menghilangkan rasa ragu dan meninggalkan pekerjaan yang lain agar lebih fokus. Masalah selanjutnya yakni tentang permodalan. Modal dapat dicari dengan persiapan yang matang. Achmad bercerita bahwa sebelum membuka perusahaan sendiri, ia bekerja sebagai freelance dalam proyek-proyek teman kampusnya. Membangun relasi adalah penopang utamanya. Sehingga dalam waktu satu tahun ia mampu mengumpulkan modal.

Achmad menambahkan bahwa mimpi dan kemampuan adalah dasar wirausaha. Mimpi merupakan impian dan pemicu usaha, sedangkan kemampuan adalah pendorong dan nilai tambah calon entrepreneur muda. Dalam sebuah ungkapan, “pinter boleh, cerdas juga penting” maka carilah peluang-peluang usaha di bidang Teknik Lingkungan yang tidak disentuh orang dan jarang bagi lulusan teknik terutama Teknik Lingkungan. Secara umum, wirausaha di bidang Teknik Lingkungan berupa Training Centre, Social Preneur, Kontraktor/Vendor, Suplier, Laboratorium, dan Konsultan. Maka, cerdaslah membaca peluang.

“Sebagai calon entrepereneur haruslah memiliki tekat, berani menentukan pilihan, dan terus belajar. Pendidikan itu penting sebagai bekal, namun pengalaman di lapangan juga penting, maka carilah pengalaman selain hanya belajar teori”, pungkasnya. (ANR/APB)