Pandemi Coronavirus 2019 (Covid-19) telah meluas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini mendorong ilmuwan untuk meneliti berbagai obat yang dapat menyembuhkannya. Tiongkok sebagai negara yang pertama kali terdampak wabah mengklaim bahwa terapi obat Avigan dan Klorokuin dapat berpengaruh positif bagi kesembuhan pasien Covid-19. Pemerintah pun mengumumkan akan mendatangkan kedua obat tersebut dalam jumlah besar untuk mengobati pasien Covid-19 di dalam negeri. Lalu bagaimanakah tinjauan farmakologi dari kedua obat itu?.

Dr. Yandi Syukri, S.Si, M.Si, Apt., pakar Teknologi Sediaan Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) berpendapat, bahwa perlu memahami karakteristik virus itu sendiri untuk menentukan pengobatan yang sesuai.

Seperti virus lainnya, Covid-19 hanya dapat mengembangkan diri saat berada dalam sel makhluk hidup. Menurutnya, ada tujuh tahapan perkembangan virus yakni (1) pelekatan virus dengan molekul reseptor pada permukaan sel inang, (2) penetrasi, (3) pelepasan mantel, di mana kapsid (lapisan protein) virus baik seluruhnya, maupun sebagian dipindahkan ke dalam sitoplasma sel inang, (4) replikasi genom dan ekspresi gen, (5) pembentukan komponen-komponen virion, (6) pematangan merupakan tahap dari siklus hidup virus dan bersifat infeksius, dan (7) melepaskan diri dari sel inang.

“Dengan demikian, obat-obatan yang efektif sebagai antivirus adalah yang mampu menghambat proses tahapan replikasi untuk pembentukan virus ini.” jelas dosen senior prodi Farmasi UII itu.

Selain itu, dari segi karakteristiknya Covid-19 terdiri dari tiga protein struktural yang dibagi pada membran. Di antaranya yaitu spike (S), protein membran (M) dan protein membran kecil (E). Covid-19 juga memiliki empat protein fungsional yang ditemukan di hampir semua coronavirus, yakni 3-chymotrypsin-like protease (3CLpro), protease-like papain (PLpro), RNA-dependent RNA polymerase (RdRp), dan helicase.

“Hal ini menunjukkan bahwa strategi untuk melawan infeksi COVID-19 adalah dengan menargetkan pada protein atau enzim ini.” imbuh Yandi.

Avigan nama lain Favipiravir adalah obat antivirus yang dikembangkan oleh Toyama Chemical (anak perusahaan Fujifilm). Obat ini memiliki aktivitas spektrum luas terhadap virus RNA, termasuk virus influenza, rhino-virus, dan virus pada pernapasan, tetapi bukan virus DNA.

“Sebelumnya, favipiravir telah dikembangkan sebagai obat anti-influenza yang dilisensikan di Jepang. Saat ini favipiravir juga sedang dikembangkan untuk pengobatan terhadap strain influenza baru. Keunggulan dari antivirus ini adalah tidak satupun generasi virus yang dapat bertahan dengan antivirus jenis ini”, ujarnya.

Baru-baru ini menurut Yandi, telah dilakukan evaluasi yang komprehensif tentang kemanjuran klinis pengobatan untuk pasien COVID-19 di The Third People’s Hospital of Shenzhen di China. Pengkajian dilakukan dengan membandingkan antara efek klinis favipiravir dengan lopinavir/ritonavir pada pasien COVID-19.

Temuan ini menunjukkan bahwa favipiravir memiliki efek pengobatan yang lebih baik pada COVID-19 dibandingkan dengan lopinavir/ritonavir. Selain itu, antivirus ini juga terbukti efektif dalam pengobatan influenza dan virus ebola, termasuk dalam mengurangi infeksi SARS-CoV-2 secara in vitro (pengujian di dalam laboratorium).

Lantas Bagaimana dengan Klorokuin

Selain Avigan, obat lain yang juga efektif dalam menghambat replikasi COVID-19 adalah obat antimalaria yang selama ini telah banyak digunakan, yakni Klorokuin. Obat ini pertama kali disintesis di Jerman oleh Bayer Pada tahun 1934.

Publikasi terbaru yang dikutip Yandi, menunjukkan bahwa klorokuin yang awalnya sebagai obat sekaligus profilaksis (pemeliharaan dan pencegahan) malaria, juga dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terinfeksi novel coronavirus (SARS-CoV-2). Dari catatan yang ada, klorokuin dan hidroksi klorokuin dianggap aman, serta memiliki efek samping yang umumnya ringan dan sementara.

“Namun, klorokuin memiliki indeks terapi yang sempit, sehingga penggunaan dengan dosis yang tidak tepat, sangat rentan menimbulkan keracunan klorokuin, hingga gangguan kardiovaskular yang dapat mengancam jiwa”, pesannya.

“Oleh karena itu, penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin harus menggunakan resep dokter.” Antisipasi Yandi.

Aktivitas antivirus in vitro klorokuin telah diidentifikasi sejak akhir 1960-an dengan kemampuannya menghambat pertumbuhan berbagai virus dalam kultur sel, termasuk coronavirus SARS. Baru-baru ini, Wang dan rekannya telah mengevaluasi secara in vitro lima obat yang disetujui FDA dan dua antivirus spektrum luas terhadap isolat klinis SARS-CoV-2.

“Salah satu kesimpulan mereka adalah bahwa klorokuin sangat efektif dalam pengendalian infeksi Covid-19 secara in vitro. Namun perlu dilanjutkan dengan uji klinik dengan menggunakan manusia yang menderita penyakit coronavirus.” Pungkas Yandi. (ESP/DD)