,

Isra Miraj Momentum Konkretisasi Membangun Peradaban Islam Kontemporer

Menyambut Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Tabligh Akbar dengan tema “Isra Miraj sebagai Momentum Konkretisasi dalam Membangun Peradaban Islam Kontemporer” pada Senin (28/02). Ustadz Drs. H. Wijayanto, M.A. hadir sebagai penceramah dalam acara yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan melalui YouTube ini.

Dalam ceramahnya Ustadz Wijayanto menyampaikan Isra Miraj berawal dari subhanalladzi yang artinya Maha Suci Allah, kemudian dilanjutkan oleh biabdihi yaitu bukan sekedar ruh atau jasad. Hal tersebut dapat ditemui dalam Quran Surah Al Isra ayat 1 mengenai peristiwa Isra Miraj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Ustadz Wijayanto menerangkan QS. Al-Araf 96, yaitu tentang berkah yang berkaitan dengan iman dan takwa. Maka Isra Miraj berkaitan dengan keberkahan dalam perjalanan malam atau miraj akan membawa berkah yaitu Salat yang merupakan berkah dalam hidup.

Sebelum Isra Miraj Rasulullah diterpa berbagai cobaan yaitu meninggalnya Sang Paman Abu Thalib, siksaan dan boikot oleh kaumnya sendiri serta banyak kesedihan lainnya. Oleh karena itu Isra Miraj adalah cara Allah menghibur Rasulullah dengan perintah sholat yang dapat melepas beban dan menenangkan hati. Salat juga membawa banyak keberkahan di dunia, alam kubur, hingga akhirat.

Dari Isra Miraj juga membangun peradaban yang berhubungan dengan hijrah makaniyah dan ma’nawiyah. Isra ialah perjalanan mendatar dan Mi’raj adalah perjalanan ke atas. Dengan kata lain Isra mengenai habluminannas atau hubungan antar umat dan Mi’raj yaitu hubungan dengan Allah. Keduanya berkaitan satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan karena maknanya akan berbeda.

Pentingnya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat juga ditekankan oleh Ustadz Wijayanto. Contohnya yaitu meskipun sholat tepat waktu, berdzikir dan melaksanakan ibadah lainnya namun menyakiti saudara nya maka surga akan menolaknya. Oleh karena itu pentingnya menyeimbangkan habluminannas dan habluminallah dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut juga telah Allah sampaikan pada ayat berikut

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. (QS. An Nisa : 36)”

Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Wijayanto juga membahas pertanyaan mengenai sunnah-sunnah khusus dalam Isra Miraj. Ia mengatakan bahwa yang terpenting dalam Isra Mi’raj, adalah ketika membuat syariat sunnah-sunnah tertentu dalam Isra Miraj itu yang dikatakan bidah.

“Jadi penting memahami bahwa Isra Miraj itu adalah salat. Bagaimana memahami salat sebagai kewajiban kita, sebagai tiang agama, sebagaimana membedakan antara muslim dan kafir adalah salat, pentingnya salat khusyu’,” terang Ustadz Wijayanto. Intinya menambah-nambah amalan ibadah seperti sunnah tertentu yang dikhususkan serta dikaitkan dengan Isra Miraj itu termasuk bidah yang tidak diajarkan Rasulullah.

Di Akhir sesi, Ustadz Wijayanto memberikan closing statement bahwa Isra Miraj berbicara betapa pentingnya kita menegakkan salat lima waktu, karena salat adalah tiang agama. Ia juga megemukakan bahwa seluruh ulama sepakat mengenai hasil dari Mi’raj adalah salat lima waktu karena salat sendiri berperan membuka lima pintu khazanah yaitu keberkahan hidup di dunia, dibebaskan dari siksa kubur, menerima catatan amal dari tangan kanan, melewati siraat dengan mudah bahkan masuk surga tanpa merasakan pedihnya api neraka.

Semoga Isra Miraj dapat menguatkan kita betapa pentingnya Salat dalam hidup. Hal ini juga merupakan wasiat Rasulullah menjelang akhir hayatnya yaitu yang pertama ummatii, ummatii, ummatii (umatku, umatku, umatku), kedua An-nisa, An-nisa, An-nisa (menjalin hubungan baik dengan ibu maupun wanita) dan ketiga Asholah, Asholah, Asholah (Salat,Salat,Salat). (LY/RS)