Tema yang diangkat dalam The 2nd National Sustainability University Leaders Meeting ini adalah Kepemimpinan dalam Transformasi Kampus Berkelanjutan Pascapandemi. Acara ini merupakan kerja bareng antara Universitas Indonesia dan Universitas Islam Indonesia.

 

Optimis menghadapi pandemi

Tema ini menyiratkan optimisme (semoga yang terukur), karena akan memperbincangkan masa depan: pascapandemi, meski sampai hari ini kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir, meski sudah 1,5 tahun berjalan. Optimisme tersebut harus terus dirawat.

agi pemimpin perguruan tinggi, siapapun dia, tidak sulit untuk memahami adanya tantangan berat yang dihadapi untuk menjamin keberlanjutan operasi dan akademik di masa pandemi ini. Pandemi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi masalah multidimensi. Termasuk di dalamnya adalah masalah ekonomi dan pendidikan.

Saya yakin, derajat tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi berbeda-beda. Setiapnya mempunyai basis terinstal (installed base) yang beragam. Termasuk di antaranya, diindikasikan oleh kematangan infrastuktur teknologi informasi, kesiapan sumber daya manusia, dan keterjaminan sumber pendanaan.

Di masa pandemi Covid-19, pemimpin perguruan tinggi diharuskan memahami masalah dan meresponsnya dengan cepat dan (diikhtiarkan juga) tepat. Kecepatan dan ketepatan respons ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan operasi dan akademik. Namun, setelah 1,5 tahun berjalan, alasan kedaruratan telah berkurang validitasnya.

Perspektif baru perlu digunakan. Pandemi sudah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai musibah yang harus dimitigasi, namun juga mengandung berkah tersamar (a blessing in disguise) yang perlu dimanfaatkan. Sikap yang terkesan subtil ini, menurut saya sangat penting, bisa menjadi titik balik: dari mengutuk kegelapan ke menyalakan lilin penerang; dari ratapan menuju harapan; dari hujatan menuju lompatan.

Pespektif ini juga akan menumbuhkan sikap menerima keadaan secara objektif dan memikirkan inovasi untuk meresponsnya, termasuk meningkatkan kualitas akademik. Termasuk di dalamnya adalah inisiatif penguatan ekosistem pembelajaran daring dan peningkatan pengalaman pembelajaran mahasiswa.

Kami di Universitas Islam Indonesia membingkai respons pandemi Covid-19 dengan tiga pendekatan yang saling terkait: cermat bertahan, sehat berbenah, dan pesat bertumbuh. Bingkai tersebut bisa kita kaitkan dengan keberlanjutan perguruan tinggi, dalam artian yang sangat luas.

 

Berorientasi ke dalam dan ke luar

Pola pikir di atas, jika tidak diletakkan pada perspektf yang luas dan horison yang jauh dapat menjebak kita dalam egoisme, karena cenderung berorientasi ke dalam (inward looking). Keberlanjutan perguruan tinggi juga harus berorientasi ke luar (outward looking) dan dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan untuk kebermanfaatan yang lebih luas.

Ada banyak pendekatan dalam melihat pembangunan. Di antaranya adalah pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi (development as economic growth), pembangunan sebagai kehidupan yang lestari (development as sustainable livelihood), dan juga pembangunan sebagai kemerdekaan (development as freedom).

Setiap bingkai mempunyai asumsi dan juga konsekuensi, baik yang dikehendaki (intended consequences) maupun yang tidak dikehendaki (unintended consequences). Tentu, tulisan ini terlalu singkat untuk mendiskusikan beragam pendekatan tersebut.

 

Dimensi keberlanjutan

Dengan ilustrasi ringkas di atas, pesan yang ingin saya bagi adalah bahwa pemahaman terhadap konsep keberlanjutan sangat beragam. Sebagai ikhtiar membuat koridor bersama, saya mengusulkan, perbincangan terkait keberlanjutan perguruan tinggi, minimal mempunyai tiga dimensi yang saling terkait.

Pertama adalah dimensi temporal. Kita seharusnya tidak hanya berfokus pada kekinian atau horison waktu yang pendek, tetapi juga masa depan yang jauh. Kata keberlanjutan sendiri mengindikasikan hal itu.

Kedua adalah dimensi spasial, perguruan tinggi seharusnya tidak hanya terpaku pada area di dalam pagar kampus, tetapi juga menyentuh khalayak dan kawasan yang lebih luas. Tujuan pembangunan keberlanjutan (sustainable development goals/DSGs) bisa menjadi salah satu bingkai bergerak untuk melebatkan manfaat dari kehadiran perguruan tinggi di tengah bangsa. Hal ini diperlukan, salah satunya, untuk menjamin keberlanjutan negara di rel yang benar, yang kehadirannya ditujukan untuk menjamin kesejahteraan warganya. Saya sangat berharap, dengan konsistensi sikap dan programnya, perguruan tinggi bisa ikut berandil di dalamnya.

Ketiga adalah dimensi kontekstual. Di sini, konsep tiga p dalam the triple bottom line, bisa kita jadikan bingkai: planet, people, profit. Keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga terkait dengan manusia, dan juga manfaat. Dalam konteks perguruan tinggi, tiga p ini perlu dikontesktualisasi dengan baik. Kombinasi optimal ketiganya pun perlu diikhtiarkan bersama.

Sambutan pada pembukaan The 2nd National Sustainability University Leaders Meeting 2021 “Kepemimpinan dalam Transformasi Kampus Berkelanjutan Pascapandemi” di Universitas Islam Indonesia pada 21 Juli 2021.