Budaya Yogya yang unik selalu menjadi magnet kuat bagi warga asing, khususnya pelajar dan mahasiswa. Selain keunikan budaya, ada juga Bahasa Indonesia yang membuat mereka semakin tertarik berkunjung ke Yogya. Kedua hal itulah yang mendasari siswa tingkat lanjutan dari Mornington Secondary College berkunjung di Yogyakarta selama satu minggu.

Selama berada di Yogya, mereka mendapat pendampingan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Islam Indonesia (UII). Mahasiswa PBI UII membantu mereka mengenalkan budaya dan pembelajaran-pembelajaran menarik yang ada di Yogya.

Kegiatan yang dipandu oleh mahasiswa PBI UII di antaranya berkunjung ke Pasar Kranggan untuk berbelanja bahan-bahan untuk memasak, lalu dilanjut perjalanan menuju restoran Pelem Golek untuk melakukan cooking class bersama sebelum makan siang, dan berbelanja di Malioboro.

Udin, salah satu pendamping siswa Australia mengaku bahwa berkunjung ke pasar merupakan salah satu gagasan efektif. “Jadi selain berwisata ke Candi Borobudur, berkunjung ke pasar juga membuat siswa mendapat pengetahuan bahasa lewat interaksi dengan warga lokal di pasar,” ungkap Udin.

Ditambah lagi dari pihak Mornington Secondary College juga menginginkan eksposur Bahasa Indonesia yang autentik melalui komunikasi langsung dengan warga sekitar. Namun tetap dibantu rekan-rekan dari PBI UII terutama saat siswa kesulitan menawar harga atau dalam proses pemilihan kosa kata Bahasa Indonesia.

Berbeda dengan Ari (PBI 2015), ia menikmati waktu bersama siswa dari Mornington. Karena selain memperkenalkan konteks dan kondisi Bahasa Indonesia dalam penggunaannya secara langsung, Ari dapat mendalami kemampuan komunikasi interpersonal melalui Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Saya lebih belajar komunikasi interpersonal yang disesuaikan dengan usia mereka. Karena lebih sering berkomunikasi dengan yang seumuran atau yang lebih tua. Mereka juga anaknya baik-baik dan sopan. Menemani mereka dalam satu hari terasa kurang,” ungkap Ari. Walaupun tinggal dan memiliki latar belakang budaya yang berbeda, bahasa dapat menjadi jembatan kesepahaman lintas negara. (IG/ESP)