Aktif dan berprestasi di berbagai kompetisi antar mahasiswa tingkat nasional saja nampaknya tidak cukup bagi mahasiswa UII. Tidak sedikit mahasiswa UII yang juga meraih prestasi bagi almamaternya dan mewakili Indonesia di tingkat ASEAN bahkan internasional. Seperti ditunjukkan 7 mahasiswa yang tergabung dalam satu tim, yakni M. Rakhmat Setiawan (IP-FTI 2014), Fiqki Rahmawati Fauziah (FK 2015), Triano Nurhikmat (FMIPA 2014), Fadiah Mukhsen (FIAI 2014), Diyah Dwi Lestari (IP-FE 2015), Eky Fasich Trialopa (IP-FTI 2015), Tri Inov Haripa (FPSB 2015). Mereka juga dibimbing oleh advisor, Herman Felani, SS, MA yang merupakan dosen Bridging Program UII.

Mereka berhasil meraih penghargaan sebagai “The Best Diplomatic Delegation Team representing Lao PDR” pada ajang ASEAN Foundation Model ASEAN Meeting (AFMAM) 2018 yang diadakan di National University of Singapore, Singapura pada 3-8 Juli 2018. Penghargaan tersebut diberikan kepada delegasi yang dinilai mampu menunjukkan performa terbaik dalam memerankan posisi diplomat dari negara ASEAN yang diwakilinya.

Pada tahun ke-empat ini, terdapat 20 tim yang berhasil lolos dari 1500 peserta. Salah satunya adalah tim UII yang mewakili Indonesia sebagai tim 2. Saat ajang berlangsung, masing-masing anggota tim menjadi delegasi dari Lao PDR. Mereka menjadi delegasi yang memainkan peran berbeda-beda.

Salah satu anggota tim, Tri Inov Haripa (FPSB 2015) mengatakan dirinya ditunjuk berperan sebagai senior official pada pilar ASEAN Politics and Security Community bersama Eky Fasich sebagai menteri. Pada pilar ASEAN Economic Community, Diyah Dwi sebagai senior official bersama Rakhmat Setiawan sebagai menteri. Sedang pada pilar ASEAN Socio-Cultural Community, Triano menjadi menteri, Fadiah menjadi Senior Official sedangkan Menteri luar negeri dimainkan oleh Fiqki Rahawati.

“Para anggota tim memainkan peran tersebut mewakili negara Laos dalam sebuah simulasi sidang ASEAN. Mereka juga merumuskan keputusan yang merepresentasikan negara Laos, belajar cara berdiplomasi yang baik dan tepat, serta mengenal cara kerja ASEAN Way”, imbuhnya.

Inov, sebagai mahasiswa Hubungan Internasional menggarisbawahi ajang ini sangat baik meningkatkan pemahaman mengenai cara kerja ASEAN dari pakarnya secara langsung, melihat persoalan ASEAN melalui berbagai perspektif, menambah pengetahuan mengenai keberagaman, dan memperluas networking.

Kompetisi yang diorganisasi oleh ASEAN Foundation ini sendiri mempertemukan para mahasiswa tingkat sarjana dari seluruh negara ASEAN. Tujuannya guna mempromosikan pemahaman diplomasi antar negara ASEAN serta memperkenalkan bagaimana negara-negara ASEAN menyelenggarakan pertemuan di tingkat kepala negara maupun menteri guna membahas isu-isu penting di kawasan.

Oleh karena itu, mahasiswa yang akan terjun dalam kompetisi ini tidak hanya dituntut mahir berbahasa Inggris namun juga peka akan isu-isu yang sedang hangat di level ASEAN. Pada tahun ke-4 ini AFMAM 2018 berfokus pada isu-isu yang sejalan dengan slogan kepemimpinan ASEAN yang tangguh dan inovatif. (RRA/ESP)