Sebagai kota budaya, Yogyakarta menyimpan berbagai potensi bangunan cagar budaya (BCB) yang sangat menarik untuk dilestarikan dan dikembangkan. Sayangnya banyak di antara BCB yang belum dikenal publik, mendapat perhatian dari pemerintah, dan dikembangkan sebagai aset budaya dan wisata. Salah satunya yakni Kawasan Kampung Kauman yang berada di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta. Posisinya yang berada di pusat kota dengan berbagai destinasi wisata di sekitarnya menjadikan kampung ini sangat strategis. Di masa lalu Kauman dikenal sebagai kampung pedagang sekaligus pusat kegiatan agama Islam di wilayah Kraton.

Keunikan inilah yang mendorong jurusan Arsitektur UII untuk menggandeng Jurusan Arsitektur dari National University of Singapore (NUS) dan University Malaya Malaysia (UM) untuk menyelenggarakan Kauman UM–NUS–UII Architectural Conservation Field School. Sekolah konservasi yang diikuti oleh mahasiswa arsitektur ketiga kampus itu diadakan pada 9 Juli – 2 Agustus 2018. Pembukaan acara berlangsung di Pendopo Dalem Pengulon, Kompleks Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta.

Disampaikan Arif Budi Sholihah, ST, M.Sc, Ph.D selaku ketua panitia acara, program ini diharapkan mampu mengungkap aset-aset budaya yang ada di Kawasan Kauman yang selama ini cenderung tidak diketahui publik. “Kauman merupakan salah satu kawasan bernilai sejarah tinggi. Selain terdapat Masjid Gede Kauman yang merupakan salah satu dari 4 elemen pembentuk kota Yogyakarta (Catur Gatra Tunggal) dan sebagai tempat lahirnya organisasi Muhammadiyah. Di masa lalu Kauman juga dikenal sebagai sentra batik dengan Haji Bilal sebagai salah satu tokohnya”, ungkap dosen Arsitektur UII itu.

Walaupun kini banyak berubah, namun ia ingin agar masa lalu, kondisi masa kini, dan bagaimana masa depan Kauman nantinya menjadi pembahasan utama pada program ini. Ia juga menambahkan dari acara ini diharapkan ada Design Guidelines Kawasan dan Infill Design yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah untuk nantinya mampu mengembangkan Kauman di masa yang akan datang dengan berbasis potensi kawasan di dalamnya.

Sementara itu, dosen pendamping dari National University of Singapore (NUS), Prof. Johannes Widodo mengatakan mahasiswanya akan berkeliling ke kawasan Kauman, mendata, melakukan observasi, serta berbicara dengan masyarakat setempat sehingga muncul cerita-cerita unik yang sebelumnya tidak banyak digali. Mereka juga diharapkan mampu memetakan masalah yang dihadapi Kauman sekarang.

“Kita ingin agar program semacam ini memantik kesadaran masyarakat bahwa kampung mereka memiliki keunikan dan kekhasan yang harus dilestarikan agar generasi berikutnya dapat dengan bangga menikmatinya”, katanya.

Pada akhir acara, yaitu tanggal 1 Agustus 2018 hasil dari kegiatan ini akan dipamerkan untuk umum dan pada tanggal 9 Agustus 2018 pameran akan diboyong ke NUS Tun Tan Cheng Lock Research Centre di Malaka, Malaysia.