,

Memaknai Peran Penting Perempuan dalam Pembangunan

Bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (PSHI UII) melaksanakan webinar “Perempuan Dalam Pembangunan” pada Selasa (8/3). Acara ini menghadirkan tiga orang narasumber yakni Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Penghageng Kawedanan Hagang Punakawan Parwabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, H.E. Penny Williams PSM, Duta Besar Australia untuk Indonesia, dan Karina Utami Dewi, dosen PSHI UII.

Dalam penyampaiannya, GKR Mangkubumi menyatakan bahwa di Karaton Yogyakarta, pada awalnya anak-anak perempuan tidak diperkenankan untuk mengikuti kegiatan di ranah publik seperti berpartisipasi dalam latihan tari. Namun, seiring berjalannya waktu aturan ini mulai berubah dengan memberikan izin bagi para perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam beberapa event menari.

Selain itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga mengizinkan anak-anak perempuannya untuk memiliki kebebasan dalam menempuh pendidikan di luar negeri. “Pada awalnya, pesan yang disampaikan kepada kami adalah untuk memiliki wawasan yang lebih luas dan berpikiran maju pada saat kembali ke Indonesia” ujarnya.

Ketika belajar di luar negeri, ia dan saudara-saudaranya mendapat tugas untuk membawa perubahan ke Indonesia tanpa meninggalkan identitas sebagai orang timur setelah menyelesaikan studi masing-masing.

Keinginan untuk memberdayakan perempuan mendorong GKR Mangkubumi untuk membentuk program ekonomi ketahanan keluarga. Tujuannya agar perempuan dapat turut meningkatkan perekonomian keluarga dari rumah tanpa meninggalkan tugas utamanya menjaga dan merawat anak. “Perempuan bisa berusaha bersama-sama dengan berkelompok yang bertujuan untuk belajar bersama dalam memberdayakan kehidupan perempuan.” Ucap GKR Mangkubumi.

GKR Mangkubumi juga menyoroti terkait banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terkait isu perempuan. Seperti perkawinan dini, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga kasus perdagangan manusia dengan korban utama perempuan.

Dalam penutupnya GKR Mangkubumi menegaskan bahwa masih banyak perempuan yang belum terdengar dan tersentuh. Sehingga ia mengajak perempuan untuk bersama-sama berperan aktif dalam pembangunan bangsa. “Ayolah kita hargai partisipasi perempuan ini melalui apresiasi karena begitu banyak perempuan yang berkontribusi dalam pembangunan.” Tutupnya.

Isu mengenai keterlibatan perempuan di ranah ekonomi juga disorot oleh H.E. Penny Williams PSM yang menyatakan bahwa keterlibatan perempuan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga namun juga kesejahteraan negara secara luas. Penny menambahkan bahwa perempuan harus didorong untuk berkontribusi lebih di dunia politik sehingga bisa merumuskan kebijakan yang mendukung pemberdayaan perempuan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Karina Utami Dewi. Ia menilai peningkatan kemampuan politik dan sosial bagi perempuan akan memberi dampak positif bagi negara. Kesempatan ekonomi yang setara bagi perempuan perlu semakin ditingkatkan. Menurutnya, masih ada negara yang belum memiliki undang-undang untuk mendorong kesetaraan ekonomi bagi kaum perempuan.

Ia menambahkan bahwa perempuan dituntut untuk bisa menjadi individu berdaya. Salah satunya melalui program pemberdayaan perempuan yang bisa memberikan pengaruh terhadap perubahan sosial baik untuk diri sendiri maupun orang lain. (AP/ESP)