Negara Asia Tenggara Diminta Berperan Damaikan Konflik Timur Tengah

Konflik dan pertumpahan darah yang melanda negara-negara di Timur Tengah seakan menjadi lingkaran setan yang tak pernah usai. Meski telah melewati masa puluhan dekade, konflik tersebut belum menandakan titik akan berakhir. Berbagai negara dan badan dunia juga telah berupaya mengusulkan langkah damai guna meredam konflik namun belum menunjukkan titik terang. Untuk itulah diperlukan kontribusi dari negara di kawasan lain untuk mendorong tercapainya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Negara-negara Asia Tenggara dinilai memiliki potensi untuk menjadi juru damai yang positif dalam konflik Timur Tengah.

Sebagaimana tergambar dalam acara seminar internasional bertajuk “Role of Southeast Asia Countries in Conflict Resolution in the Middle East” yang dilangsungkan di Hotel Grand Inna Malioboro, Kamis (18/5). Seminar yang diprakarsai oleh Fakultas Hukum UII ini mengundang para pakar dan pemerhati Timur Tengah.

Rektor UII, Nandang Sutrisno, SH., M.Hum., LLM., Ph.D dalam sambutannya sepakat bahwa negara-negara Asia Tenggara tidak boleh diam melihat bara konflik di Timur Tengah yang terus membara. “Kita memiliki kewajiban mendorong tercapainya perdamaian di kawasan tersebut sesuai dengan kapabilitas yang kita miliki saat ini”, cetusnya.

Sedangkan Salman Al-Farisi selaku staf ahli bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Luar Negeri RI dalam keynote speechnya mengatakan adanya campur tangan asing dan negara yang saling memaksakan kekuasaan menjadi penyebab konflik sulit dipadamkan. “Sebagai negara berdaulat, jika ingin mendorong resolusi konflik caranya bukan dengan menggurui tapi dengan berbagi pengalaman”, ujarnya.

Ia juga menyebut tentang suburnya paham radikalisme di Timur Tengah disebabkan karena maraknya kemiskinan dan ketidakadilan di masyarakat. “Radikalisme bisa muncul karena banyak orang putus asa memperoleh rasa aman dan keadilan di negaranya sendiri. Pemerintah dinilai gagal dalam menyediakan kebutuhan dasar itu”, jelasnya.

Untuk itu ia menilai salah satu cara negara Asia Tenggara dapat berperan adalah dengan membantu memperkuat kapasitas negara Timur Tengah dalam mewujudkan pembangunan. Inilah upaya yang kini terus dilakukan pemerintah Indonesia.

Peran Aktif Indonesia

Salah satu pembicara seminar, Dr. Siti Mutiah Setiawati, MA menjelaskan salah satu faktor yang menjadikan Indonesia dan Timur Tengah menjadi begitu dekat dan erat adalah faktor agama (Islam). Kedekatan ini selanjutnya mendorong Indonesia ingin mengambil peran dalam penyelesaian konflik.

Ia memerinci empat peran yang dapat diambil dalam mendorong perdamaian, yakni mediator atau penengah konflik, kedua, fasilitator perundingan; ketiga, partisipan yaitu terlibat langsung untuk menyelesaikan konflik dengan cara mencegah supaya tidak muncul konflik baru; dan keempat, sebagai justifikator yaitu memberi justifikasi penyelesaian konflik.

“Berdasarkan pengalaman yang pernah ada, peran Indonesia sebagai partisipan merupakan peranan yang paling berhasil. Artinya, selama ini keterlibatan Indonesia secara langsung dalam upaya menyelesaikan konflik menjadi peranan paling dihargai dan dianggap berhasil tanpa mengesampingkan kepentingan maupun prinsip politik Indonesia”, pungkasnya.