,

Premarchtur Architectural Exhibition Ajak Mahasiswa Rancang Hunian Unik

Acara PAX (Premarchtur Architectural Exhibition) diselenggarakan pada tanggal 5 Maret 2018 malam, tepatnya pada pukul 19.00 WIB di Mezzanine. Ajang kompetisi PAX mengusung tema “Sense of Space” untuk merancang sebuah hunian pada titik yang tidak biasa. Hal tersebut dilakukan untuk mematahkan anggapan bahwa kaum milenial tidak bisa memiliki rumah. Melalui tema tersebut diharapkan para arsitek dapat memberikan rasa berdaya guna pada ruang, meskipun ruang tersebut berada pada lahan terbatas dan kecil.

Ir. Eko Agus Prawoto M.Arch, IAI dalam sambutannya menyampaikan aspek teknis menjadi hal yang dominan, arsitektur memiliki sisi kebudayaan yang harus diisi. Melalui wadah penyelenggaraan PAX dapat mengambil celah untuk mempererat hubungan antara alumni arsitek dengan arsitek yang baru lulus dan masih muda.

Menurutnya, tidak mudah untuk membuat inovasi karena dibutuhkan sesuatu untuk melontarkan gagasan yang bersifat logis dan solutif. Mendesain sangat penting yang berasal dari buah pemikiran sendiri, akan tetapi juga dibutuhkan sumber dari hasil-hasil studi. Beliau menambahkan bahwa, “gagasan yang ekstrim belum banyak terlihat. Seorang arsitek muda harus lebih kuat, ekstrem, memiliki keberanian untuk masuk pada wacana yang membutuhkan artikulasi yang sangat jernih.”

Event PAX yang menghadirkan seorang arsitek asal Aaksen studio menerangkan bahwa ide-ide liar dalam mendesain hanya dapat terwujud 10 persennya. Hal itu dikarenakan oleh berbagai faktor salah satunya adalah anggaran. Ia menambahkan seorang arsitek harus berfikir luas. Baginya kemewahan adalah ketika dapat bereaksi dengan alam.

Dalam kompetisi yang diadakan oleh PAX, dimenangkan oleh 6 desain rumah. Juara satu hingga tiga dimenangkan oleh Danang Seta, Eksperimental Studio, Tim CDS, Tim Awam Dantri, Setia Agung Permana dan studio analogi. Judul desain dari masing-masing pemenang adalah The Pagupon, The Gate House: A Home for Kali Code’s Millenials, NYENDER : Menyandarkan Hidup pada Tembok Kesultanan, POHON, Homeless Co-Living, dan Rumah 77 jt: Awam dan realistis. (NR/ESP)