Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi gempa yang tinggi. Upaya untuk meminimalisir jatuhnya banyak korban pada saat terjadi gempa merupakan salah satu perhatian yang sedang dilakukan. Seperti dibahas melalui forum diskusi nasional yang diadakan pada Rabu (12/9) di Gedung Muh. Natsir UII. Diskusi yang mengangkat tema “Pelajaran Gempa Jogja dan Lombok untuk Keselamatan Indonesia” itu diadakan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional, LPJK Daerah Yogyakarta, dan LPJK Daerah NTB.

Sebanyak 7 pemateri didatangkan yang berasal dari latar keprofesian yang berbeda. Ketujuh pemateri tersebut adalah Prof.Dr.Krishna S. Pribadi (LPJK Nasional), Rahmat Triyono, ST, Dipl. Seis, M.Sc.(BMKG), Prof. Dr. Arief Sabaruddin, CES (Kemen PUPR), Prof. Ir. Sarwidi, MSCE, Ph.D.,AU (BNPB), Ir. H. Rosiady Sayuti, M.Sc., Ph.D. (Pemprov NTB) yang diwakilkan oleh sekretaris dinas PUPR NTB, Ir.Bayudono, M,Sc. (Pemprov DIY) dan Prof. Ir. Widodo, MSCE, PhD (Relawan Tanggap Bencana UII).

Pasca terjadinya gempa yang menimpa Daerah Lombok, pembangunan merupakan salah satu hal pokok yang harus dicanangkan. Melalui forum diskusi tersebut berbagai strategi ditawarkan agar waktu pembangunan dapat dilakukan dengan singkat.

Bercermin dari pengalaman Yogyakarta yang pernah dilanda gempa, Ir Bayudono, M. Sc menyampaikan bahwa strategi pembangunan yang dilakukan pasca gempa Jogja dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan semua keputusan ada ditangan masyarakat. Beliau menambahkan strategi lain yang dilakukan pada saat itu adalah pengalihan dana dari dana-dana daerah seperti dana pembenihan ikan dan lain sebagainya yang tidak digunakan untuk pembangunan.

“Kita saat ini memiliki semacam kesalahan pengertian mengatakan rumah tahan gempa”, tambahnya. Menurutnya tidak ada rumah tahan gempa tetapi rumah aman gempa yaitu rumah yang memberikan kesempatan bagi penghuninya untuk menyelamatkan diri.

Menurut Prof. Dr. Arief Sabaruddin, CES, umumnya kesalahan masyarakat yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pada rumah hunian adalah persoalan aspek teknis yang tidak memenuhi standar nasional Indonesia. Terdapat dua aspek yang harus diperhatikan dalam konstruksi yaitu aspek kualitas material dan aspek teknis.

Rencana pembangunan pasca terjadi gempa harus memenuhi rencana peta risiko gempa nasional yang kekuatannya sudah dipredikasi. “Jadi kalau gempanya terjadi lebih dari yang ada di peta gempa, ya sudah. Yang terpenting kita sudah ikhtiar,” ungkapnya.

Teknologi yang akan diaplikasikan adalah teknologi RISHA (Rumah Instan Sederhana dan Sehat). Strategi yang akan diterapkan adalah dengan melibatkan masyarakat dalam perakitan komponen-komponen bangunan yang sudah disiapkan oleh karya-karya yang telah dilibatkan. Untuk menghemat waktu dalam proses pembangunan, maka dilakukan secara paralel dan dapat memanfaatkan limbah bangunan yang sudah rubuh seperti kusen dan lainnya.

“Minimal masyarakat sudah memiliki rumah inti yang tahan gempa, sehingga ketika terjadi gempa rumah tersebut dapat dijadikan sebagai ruang evakuasi” jelasnya. (NR/ESP)