Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau. Bertempat di Gedung GBPH Prabuningrat (Kantor Rektorat UII), Senin (12/2), delegasi Unilak yang berjumlah 20 orang ini disambut langsung oleh Rektor UII, Nandang Sutrisno, SH., LLM., M.Hum., Ph.D. didampingi Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA, IAI, serta beberapa Dekan dan Kepala Program Studi.

Nandang Sutrisno menyambut rombongan Unilak dengan sangat antusias. Dirinya memperkenalkan kepada rombongan Unilak sekilas tentang profil UII, mulai dari awal berdirinya UII hingga sederet prestasi mentereng yang telah dicapai sampai saat ini. Ia juga mempersilahkan kepada peserta kunjungan untuk bertanya kepada Tim UII yang hadir pada saat kunjungan berlangsung.

Sementara itu, disampaikan Rektor Unilak Dr. Hasnati, SH., MH, kunjungan kali ini bisa terealisasi karena dorongan untuk bisa belajar secara langsung dari UII. “Kami sangat merasakan Visi UII yang rahmatan lil ‘alamin, dimana beberapa orang (dosen) hukum kami berasal dari Fakultas Hukum UII dan terbukti mereka semua menunjukkan sikap tersebut,” tuturnya.

Menurut Hasnati, kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu. Menurutnya, universitas yang didirikan oleh Pemerintah Provinsi Riau pada 9 Juli 1982 tersebut sebesar 30% dari seluruh Program Studi yang ada belum mencapai target akreditasi A. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu universitas menurutnya ialah dengan membuka program internasional.

Senada, Wakil Rektor I Unilak Dr. Junaidi, M.Hum. menyampaikan hal yang sama terkait tujuan kunjungannya ke UII. “Kami ingin membuka Internasional Program di Unilak, yaitu di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Kami ingin melihat secara mendalam pengalaman UII dalam mengelola program internasionalnya,” pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA, IAI. mengungkapkan bahwa UII menerapkan sistem yang disebutnya Globalization at Home. Menurutnya konsep ini bertujuan untuk melakukan internasionalisasi, tidak hanya kepada mahasiswa tetapi juga dosen dan tenaga pengajar.

“Salah satu contohnya yaitu kita bergabung dengan eduroam untuk mendukung mobilitas mahasiswa dan dosen secara global. Saat ini sudah ada lebih dari 12.000 Pendidikan Tinggi di seluruh dunia yang menggunakannya, 3 diantaranya ada di Indonesia yaitu ITB, UGM dan UII” ungkapnya.

Ilya Fadjar Maharika menuturkan, eduroam hanya salah satu contoh untuk mewujudkan internasionalisasi di kampus. Contoh lainnya ialah dengan mendorong mahasiswa untuk melakukan exchange internasional, lecturer exchange, serta melakukan kerjasama dengan universitas luar negeri dalam bentuk Double Degree dan  Joint Degree.

Sementara disampaikan Direktur Kantor Urusan Internasional, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., dalam 3 tahun terakhir UII terus mendatangkan dosen asing untuk mengajar di UII. “Kita terus mengupayakan adanya dosen asing untuk mengajar secara reguler di UII. Ada yang 1 tahun, ada yang singkat 4 bulan,” tandasnya. (MHH/RS)