Usai Shalat Tarawih, Sivitas Akademika UII Diskusi Bersama Gubernur NTB

Malam ke 24 bulan Ramadhan dimanfaatkan oleh civitas akademika UII untuk berdiskusi bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB). Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari Safari Iman Ramadhan (SAFIR) 1438H yang dimotori oleh Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (TMUA UII).

Tema yang diangkat pada diskusi ini adalah “Peradaban Qur’ani Untuk Membangun Indonesia Madani dan Bermartabat”. Diskusi ini diselenggarakan setelah sahalat tarawih di Masjid Ulil Albab pada Minggu (18/06). Turut hadir Rektor UII, Nandang Sutrisno, S.H., M.Hum., LLM., Ph.D., Wakil Rektor III, Ir. Agus Taufik, M.Sc., serta Civitas Akademika UII lainnya.

Disampaikan oleh Nandang Sutrisno bahwa TGB merupakan seorang idola baru bagi masyarakat Indonesia. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan seperti TGB adalah salah satu contoh kepemimpinan yang ideal karena memiliki pemahaman keagamaan dan juga kompetisi yang baik.

“Sebab landasan adalah yang pertama kekuatan keagamaan, itu yang terutama dalam mencari pemimpin. Yang kedua adalah kompetensi, kemampuan dibidang ilmu pemerintahan, birokrasi dan lain sebagainya. Sehingga antara ilmu ukhrawi dan duniawi ada pada diri beliau. Mudah – mudahan kepemimpinan beliau ini merupakan suatu model yang perlu ditiru oleh kita semua.” Paparnya.

Nandang menambahkan, yang namanya peradaban adalah suatu sistem hidup yang kompleks, mulai dari sistem budaya, sistem pencarian ekonomi, sistem pertanian, sistem kesenian dan sebagainya yang merupakan satu kesatuan yang sangat kompleks. “Kalau kita bingkai, kita berhasil mencipatakan satu generasi saja, generasi Qur’ani insyaallah masa depan Indonesia merupakan masa depan yang sangat cerah” ujarnya.

Diawal pemaparannya TGB berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi – tingginya kepada UII sebagai satu perguruan tinggi yang usianya panjang, kontribusinya juga luar biasa, dan diantara kontribusi itu untuk bangsa dan untuk agama adalah mendidik putra – putri NTB sejak berpuluh – puluh tahun yang lalu.

TGB menjelaskaan bahwa Ramadhan merupakan bulan al – Qur’an, terdapat tiga hal yang mencolok di dalam rangkaian ayat tentang puasa, pertama tentu perintah puasa, yang kedua bulan diturunkannya al – Qur’an dan yang ketiga Ramadhan itu adalah waktu dimana tabir antara Al-Khaliq dan makhluk itu diangkat, disitulah pendekatan diri sedekat – sedekatnya, berdoa seakrab – akrabnya dengan Allah.

“Kata orang Indonesia tak kenal maka tak sayang. Bagaimana kita mengenali al – Qur’an, banyak pintu masuknya, bisa mulai dari definisinya, mulai dari fungsinya, bisa mulai dari rangkaian al – Qur’an didalam pewahyuan oleh Allah dari zaman dahulu sampai kemudian ditutup dan dipamungkasi oleh Allah dan dari perspektif yang lain” ungkapnya.

Lebih lanjut TGB menjelaskan tentang al-Quran yang merupakan sistem nilai yang lengkap untuk bisa hidup di dunia ini. “Untuk mengimplemantasikan al-Qur’an langkah pertamanya adalah meluruskan apa yang paling inti dari pesan – pesan al – Qur’an. Ada beberapa hadis rasul tentang kepemimpinan, tentang interaksi antara manusia yang disebut dengan Jawami’ul Karim, hadist yang pendek tetapi merangkum, misalnya kaidah La Dharara wa La Dhirara, penerapannya banyak sekali, artinya tidak boleh ada mudharat dan tidak boleh memudharatkan.” Paparnya lagi.