Ramadhan Dermawan - UII

Bulan Ramadhan memang memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya yakni terbukanya pintu taubat dari perbuatan maksiat di masa lampau. Seperti kajian yang disampaikan Ustadz Sulaiman Rasyid, S.T. di SAFARI Iman Ramadhan UII pada Kamis (7/5).

Read more

Pentingnya Menjaga Sport Performance

Bertahan sambil bertumbuh, ungkapan ini menggambarkan apa yang dilakukan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di tengah kondisi ekonomi yang menurun akibat pandemi Covid-19. Bagaimana mempertahankan jalannya bisnis, sembari berupaya untuk dapat tetap tumbuh dengan fleksibelitas dan kreativitas yang dimiliki.

Read more

Pentingnya Menjaga Sport Performance

Kesehatan tidak dipungkiri merupakan hal penting yang harus disyukuri oleh setiap orang. Dalam situasi apapun, terlebih ketika pandemi Covid-19 mewabah, kesehatan menjadi hal yang utama. Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama Universitas Islam Indonesia (IBISMA UII) terpantik menyelenggarakan kelas inspirasi untuk menjaga produktivitas. Acara bertemakan Healty Food for Your Body and Soul, Kamis (7/5). Acara mengundang CEO Gudfrich, Satyaguna Rakhmatullah yang diadakan secara daring.

Read more

imam al ghazali - berita uii

Krisis multidimensional tidak hanya terjadi di masa kini namun juga di masa lampau. Imam Al-Ghazali merupakan ulama besar yang menjadi saksi di saat krisis masa akhir Abbasiyah. Selain pertentangan antar mazhab, serbuan kerajaan Kristen Eropa masa itu juga mewarnai krisis. Hal ini membuat rakyat khawatir dan takut beraktivitas. Zaman itu memberikan gambaran yang memiliki kemiripan dengan masa pandemi Covid-19 saat ini.

Hal ini kemudian mendorong Program Studi Pendidikan Agama Islam UII menggelar kajian dengan pemateri Kurniawan Dwi Saputra, Lc., M.A pada Kamis (7/10). Dalam kajiannya, ia membahas siasat Imam Al-Ghazali dalam menghadapi krisis multidimensi pada zaman ia hidup. Kajian ini diharapkan dapat memberi pelajaran bagaimana mengambil sikap pada krisis modern.

Read more

PTS menunggu respon | pojok rektor UII

Tak seorang pun tahu pasti kapan pandemi Covid-19 berakhir. Beragam prediksi muncul dengan pendekatan aneka rupa. Hasilnya pun bervariasi. Ada yang menyebut Juni, September, Desember, dan bahkan selepas pengujung 2020.

Tapi, semua nampaknya sepakat kalau pandemi sudah meninggalkan dampak yang luar biasa di banyak sektor, tak terkecuali di perguruan tinggi swasta (PTS). Tentu, semua PTS berharap yang terbaik, tetapi harus bersiap untuk yang terburuk.

 

Peran dan pesan dari PTS

Selama ini, PTS telah membantu negara dengan sangat luar biasa, meski kadang dipandang sebelah mata. PTS telah meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. Data termutakhir Bada Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menunjuk angka 30,28%. Artinya, hanya 30,28% warga negara Indonesia berusia 19-23 tahun yang mengenyam bangku kuliah.

Data di pengujung 2019 merekam bahwa dari 7.339.164 mahasiswa, sebanyak 60% dilayani oleh PTS. Bayangkan jika semua PTS tutup. APK akan anjlok menjadi 12,08%.

Lebih penting dari angka itu, PTS yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, telah berandil dalam pemerataan akses pendidikan tinggi, ketika tangan negara belum mampu hadir. Pendidikan tinggi untuk negara sebesar Indonesia, bukan hanya soal kualitas, tetapi juga pemerataan akses.

Banyak orang yang tidak sadar, ketika PTS hidup sehat, dampaknya sangat luar biasa bagi publik. Anggaran mahasiswa yang dikelola PTS proporsinya jauh lebih kecil, dibandingkan dengan yang beredar di publik untuk menggerakkan roda perekonomian. Sebut saja, mulai dari bisnis indekos, sandang, transportasi, komunikasi, sampai dengan kuliner. PTS di banyak tempat telah terbukti menjadi penggerak ekonomi.

Nah, pada saat pandemi seperti ini, PTS termasuk yang sangat terdampak. Berbeda dengan PT negeri yang masih mendapatkan kucuran dana dari pemerintah, termasuk untuk menutup belanja pagawai. Harus jujur diakui bahwa porsi terbesar anggaran PTS masih berasal dari mahasiswa. Ketika sumber penghasilan penanggung biasa pendidikan terdampak, tidak sulit untuk percaya bahwa hal ini memengaruhi kelancaran pemasukan PTS. Penulis percaya, PTS sudah cukup terbiasa mengelola hal seperti ini. Tetapi, pandemi kali ini berbeda.

Jika berkepanjangan, dampaknya sangat dahsyat. Survei pekan lalu yang melibatkan 66 PTS di Yogyakarta menegaskan sinyalemen ini. Hanya sebesar 11% PTS yang masih bertahan tanpa masalah serius sampai Desember 2020. Survei ini tidak hanya melibatkan PTS yang sedang berkembang, tetapi juga PTS besar dengan lebih dari dua puluh ribu mahasiswa. Pandemi tidak pilih kasih.

Jangan salah mengira, meskipun dirinya menghadapi masalah, para PTS mempunyai kepedulian tinggi terhadap yang terdampak pandemi. Beragam ikhtiar telah dilakukan, baik kepada mahasiswa maupun kepada warga. Untuk memperpanjang umur, PTS juga telah menjalankan beragam jurus, termasuk membatalkan beragam program, realokasi anggaran, menurunkan besaran insentif, memotong besaran gaji, sampai menunda pembayaran gaji. Pilihan yang tidak mudah, tetapi harus ditunaikan.

Masalah semakin terasa, ketika saat ini, musim admisi mahasiswa baru juga sedang berjalan. Kegagalan dalam hal ini berdampak panjang. Tidak hanya untuk setahun, tetapi bisa mencapai empat tahun atau bahkan lebih.

 

Menanti respons negara

Jika negara sepakat bahwa pendidikan tinggi adalah salah satu penghasil para aktor peradaban Indonesia masa depan, maka tidak ada pilihan lain, kecuali menyelamat PTS. Kecuali, jika negara mempunyai pendangan lain terhadap PTS. Semoga saja tidak ada pemangku amanah publik yang mencibir: PTS manja atau PTS kok ingin seperti PTN. Penulis yakin, negara yang kita cintai ini tidak seperti itu. Karenanya, mari hadirkan husnuzan.

Seandainya negara mengulurkan tangan dengan beragam kebijakan yang tepat, PTS akan sangat bersukacita jika diminta pendapatnya. Meski pandemi menjadi momentum, tetapi kebijakan negara seharusnya dibuat untuk horizon waktu yang panjang. Banyak yang bisa dilakukan, bahkan jika pilihannya tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Negara dapat melonggarkan beragam kebijakan untuk meratakan lapangan permainan dan merespons akal sehat kolektif.

Seumpama pemangku amanah publik sepakat bahwa PTS dibangun di atas premis membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kebijakan perpajakan, misalnya, akan lebih bersahabat. Sampai hari ini, mimpi PTS mempunyai dana abadi masih menjadi kemewahan, karena kebijakan yang tidak berpihak. Alih-alih memberikan lahan subur untuk bertumbuhnya PTS, kebijakan ini justru sering memasang mata curiga kepada PTS. Energi para pemimpin PTS tidak jarang tersita banyak untuk isu ini.

Andaikata Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi menyadari bahwa tidak mudah bagi PTS untuk melaksanakan rekrutmen dosen di kala pandemi, maka pemenuhan syarat rasio dosen dan mahasiswa untuk perpanjangan akreditasi, tidak diberi tenggat yang singkat. Meski, jika rasio tidak ideal, yakinlah, PTS tidak mempunyai niat jahat dan menjalankan PTS dengan asal-asalan serta abai terhadap kualitas.

Jika saja jeritan para PTS di pelosok Indonesia yang tertatih-tatih dengan pembelajaran daring didengar, penulis yakin, negara akan mengajak diskusi dan hadir dengan beragam alternatif solusi, termasuk memberi bantuan koneksi Internet. Indonesia tidak hanya Pulau Jawa dan kota besar, apalagi sebatas Jakarta. Jangankan koneksi Internet yang andal, jaringan listrik stabil pun masih menjadi kemewahan di banyak daerah.

Daftar di atas, hanya merangkum beberapa pesan PTS yang sudah lantang bergaung. Masih banyak pesan serupa yang menyeruak dari kalangan PTS, termasuk dukungan pendanaan untuk mahasiswa yang tidak mampu dan terdampak sampai dengan program hibah peningkatkan kualitas.

Penulis yakin negara kita sensitif dan mendengar pesan PTS dari lapangan. Jika ini terjadi, maka harapan akan menjadi kenyataan. Jika tidak, daftar mimpi PTS akan semakin panjang: seandainya, seumpama, andaikata, dan jika saja. Ah, dunia akan lebih indah, seandainya PTS tidak hanya punya andaikata.

Tulisan ini telah dimuat di Koran Republika pada 8 Mei 2020.

Peran Pemuda

Dasar konstitusional pembentukan Perppu ada dalam Pasal 22 UUD NRI 1945. Menurut para ahli, presiden dalam mengeluarkan Perppu merupakan kewenangan yang luar biasa. Dikatakan luar biasa karena, seharusnya melibatkan DPR, mengingat Perppu memiliki derajad yang sama dengan UU. Pasal 22 UUD NRI 1945 berbunyi dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang.

Read more

Sukses Berkarir Sesuai Syariat Islam

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menggelar kuliah umum dengan tema Making Language Assessment Meaningful: Incorporating Critical Thinking and Literacy, pada Rabu (6/5) secara daring. Tidak kurang 95 peserta dari berbagai intitusi turut ambil bagian dalam acara ini. Peserta berasal dari UII, UPI Bandung, Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan, IAIN Madura, Universitas Teuku Umar, Universitas Islam Malang dan juga dari Sorong Papua Barat.

Read more

Saat ini di tengah pandemi Covid-19, berbagai upaya terus digencarkan seperti melalui pembatasan segala bentuk aktivitas (physical distancing) yang berpotensi meningkatkan penyebaran virus. Kebijakan pembatasan ini pun termasuk pada kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal ini tentunya menjadi tantangan besar, baik bagi siswa maupun guru dalam beradaptasi agar pembelajaran dapat tetap berjalan efektif dan sesuai harapan.

Read more

Ramadhan Dermawan - UII

Kata Ramadan muncul hanya sekali dalam Al-Qur’an dan satun-satunya bulan yang disebut di dalam Al-Qur’an. Penyebutan Ramadan dikaitkan dengan turunnya panduan hidup umat manusia: Al-Qur’an (QS Al-Baqarah 2:185). Dalam ayat tersebut sangat jelas tertulis bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan pembeda antara yang benar (hak) dan salah (batil).

Karena keberkahan Ramadan, apa yang di luar bulan ini halal dilakukan (seperti makan dan minum), menjadi haram, sebagai tanda takzim kita kepadanya. Ketika bulan ini tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu (HR Al-Bukhari dan Muslim, Riyadl Ash-Shalihin 1220).

Bukti bahwa Ramadan diberkahi sangat banyak. Berikut beberapa di antaranya.

Ramadan merupakan penghapus dosa dalam satu tahun, selama dosa besar tidak dilakukan (HR Muslim, Riyadl Ash-Shalihin 1149). Tentu ini dengan menjalankan kewajiban muslim selama bulan Ramadan.

Hadis lain bahkan menyebut bahwa muslim yang berpuasa dengan penuh keimanan dan pengharapan penuh kepada rida Allah, maka semua dosa sebelumnya diampuni (HR Muslim, Riyadl Ash-Shalihin 1188).

Banyak amalan yang secara tegas disebut dalam hadis ketika dilakuka di bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Umrah yang dijalankan pada bulan Ramadan, misalnya, setara dengan haji. Bahkan dalam matan hadis lain, setara dengan menjalankan haji bersama Rasulullah (HR Al-Bukhari dan Muslim, Riyadlu Ash-Sholihin 1278).

Sedekah terbaik pun, kata Rasulullah, adalah yang dilaksanakan ketika Ramadan (Jami’ At-Tirmidzi 663). Tentu ini bukan terakhir kita mengumpulkan semua sedekah ketika berjumpa Ramadan. Apakah ada yang bisa menjamin bahwa umur kita sampai Ramadan mendatang? Prinsip beramal baik tetapi harus disegerakan dan diistikamahkan.

Belum lagi, satu malam istimewa dalam Ramadan, laulatu al-qadr dinyatakan oleh Allah lebih baik dibandingkan dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun (QS Al-Qadr 97:3). Sungguh beruntung para pemburu malam ini dan mengisinya dengan amalan terbaik.

Saking istimewanya, Allah mengatakan bahwa puasa di bulan Ramadan merepresentasikan hubungan yang sangat personal antara Allah dan hambaNya. “Puasa adalah untukKu dan Aku yang akan mengganjarnya”, kata Allah (HR Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari 7538).

Jika kita, sekali lagi, berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap penuh rida Allah, siap-siap dengan kejutan yang akan diberikan oleh Allah. Allah Maha Pemurah, karenanya selalu berbaik sangka kepadaNya.  Allah akan mengikuti persangkaan hambaNya (HR Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari 7505).

Semoga Allah memudahkan kita mengisi Ramadan yang diberkahi ini dengan amalan terbaik. Semoga Allah mempertemukan kita semua dengan Ramadan tahun depan.

Disampaikan dalam pembukaan Pesantren Ramadan Universitas Islam Indonesia pada 8 Mei 2020.

Informasi pandemi - berita UII

Tak terasa Ramadhan sudah memasuki hari ke-13. Walaupun masih dalam situasi keprihatinan pandemi Covid-19, alangkah baiknya kita harus tetap semangat dan berjuang dalam mempersembahkan amal terbaik. Kali ini Rabu (6/5), Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Agama Islam Universitas Islam Indonesia (DPPAI UII) memberikan kajian onlinenya di channel Youtube yang diisi Ustadz Subhan Afifi.

Read more