Kebutuhan mahasiswa akan buku-buku dan referensi bacaan berkualitas terus meningkat. Di sisi lain, buku dan referensi bacaan berkualitas tersebut tidak selalu mudah diperoleh. Guna mendorong mahasiswa memperoleh buku-buku berkualitas, Perpustakaan Fakultas Ekonomi(FE) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar pameran buku yang berlangsung di kampus FE UII Condongcatur dari Senin (8/4) hingga Jum’at (12/4).

Pameran buku diharapkan tidak hanya menunjang dan mendekatkan para pembaca dengan varian buku yang tersedia namun juga memberi kemudahan akses menuju fasilitas yang telah disediakan. Kegiatan pameran buku merupakan salah satu “jembatan” yang dapat memfasilitasi dan memberikan akses yang mudah bagi para pembaca.

Read more

Dalam rangka mendorong penguatan penanganan risiko bencana, Universitas Islam Indonesia (UII) menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Di antaranya dengan SMPN 4 Pakem yang dibingkai melalui perjanjian kerjasama terkait keadaan darurat ketika terjadinya bencana. Hal ini maksudkan agar UII dapat menyediakan tempat evakuasi jika terjadi bencana. Perjanjian ditandai dengan penandatangan perjanjian kerjasama oleh Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. dan Kepala Sekolah SMPN 4 Pakem, Ponidi, S.Pd pada Jum’at (12/4), di SMPN 4 Pakem Sleman.

Read more

Batu bara selain menjadi sumber energi, juga telah menjadi sumber kerusakan lingkungan yang cukup masif. Bahkan penambangan batu bara juga diklaim membawa kerugian signifikan bagi masyarakat adat. Tercatat sebanyak 32 orang meninggal di Kalimantan Timur, dalam kurun waktu antara 2011-2018, atau 115 jiwa antara 2014-2018 dalam skala nasional. Terdapat sekitar 3500 bekas tambang yang harus direklamasi. Bekas-bekas galian tambang sering menelan korban karena tidak kunjung dibenahi.

Sebagaimana tergambar dalam kajian film dokumenter berjudul Sexy Killer karya rumah produksi WatchDoc. Acara kajian diadakan oleh HIMAKOM UII. Film yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono itu merupakan bagian dari Ekspedisi Indonesia Biru, oleh beberapa jurnalis, dan videografer yang keliling Indonesia sejak 2015 silam. Mereka berkeliling Indonesia dengan motor mulai dari Jakarta, Bali, Sumba, Papua, Sulawesi, Kalimantan, hingga Jawa. Kajian film berlangsung di GKU Prof. Sardjito UII pada Jum’at (12/4).

Read more

Untuk terus berandil dalam pembangunan bangsa, Program Studi (Prodi) Profesi Arsitektur kembali menyelenggarakan pengambilan sumpah Profesi Arsitektur, yang diselenggarakan pada Kamis (11/4) bertempat di ruang Auditorium Fakultas Teknik Sipil dan Perencenaan Universitas Islam Indonesia (FTSP UII).

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V DIY, Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA., Rektor UII, Fathul Wahid S.T., M.Sc., Ph.D., dan Deputi Ketua VI (Region Jawa) Ikatan Arsitek Indonesia Nasional, Sri Hartuti Wahyuningrum, IAI, AA. Adapun jumlah arsitek yang diambil sumpahnya pada periode ini sebanyak 23 orang.

Read more

Entrepreneur menjadi salah satu pejuang dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Peningkatan jumlah penduduk menjadi tantangan dalam penyediaan lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran.

Badan Pengelola Aset Keluarga Mahasiswa UII (BPAKM UII) mengadakan seminar kewirausahaan sebagai wadah untuk membuka wawasan para mahasiswa agar berani berwiraswasta. Kali ini BPAKM UII juga melakukan peluncuran bisnis baru yang bernama Student Asset Center (SAC).

Read more

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menorehkan prestasi sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan jumlah proposal terbanyak yang didanai DIKTI melalui kompetisi hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) V Bidang tahun pendanaan 2019. PKM merupakan program yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan RISTEKDIKTI yang ditujukan sebagai kompetisi nasional bagi mahasiswa.

Disampaikan oleh Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan UII, Beni Suranto, ST. M.SoftEng pada Selasa (2/4) di ruang kerjanya bahwa PKM merupakan program yang memilki aspek kompetitif yang tinggi. Ini tercermin dari banyaknya proposal yang menyentuh angka tiga puluh ribu hingga lima puluh ribu se-Indonesia. Sedangkan yang terdanai sekitar sepuluh persen dari proposal yang masuk. Ditambah lagi yang lolos ke tahap Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), hanya mencapai dua ratus hingga empat ratus proposal.

Read more

Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) meraih juara pada ajang Riau Law Fair 2019 di tingkat nasional yang diadakan oleh Universitas Riau pada Rabu (20/03). Dalam even tersebut, Fakultas Hukum (FH) UII mengirim 2 tim Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Kajian Penulisan Hukum (UKM FKPH). Tim yang berlaga terdiri dari 2 tim. Tim 1 yang beranggotakan Taufiqurrahman, Hasna Khaerunnisa, dan Elfian Fauzy menyabet juara 1 Karya Tulis Ilmiah dan Berkas Terbaik.

Sedangkan Tim 2 yang digawangi Aprilia Wahyuningsih, Daffa Prangsi, dan Zippo Surya Anggara memperoleh juara 2 kategori Karya Tulis Ilmiah. Tidak hanya meraih juara 1 dan 2, tim dari UII pun mendapatkan juara umum dan Best Paper.

Read more

Apa yang didesain arsitek? Sebagai orang awam, yang saya pahami, arsitek adalah profesi yang erat dengan desain. Pertanyaannya: apakah yang didesain? Bagi saya, yang didesain bukahlah bangunan.

Yang didesain oleh arsitek, bagi saya, adalah afordans (affordance), yang merupakan produk dari interaksi antara pengguna dengan artefak. Afordans adalah kemungkinan-kemungkinan aksi yang dimampukan oleh artefak tersebut. Dalam desain, setiap artefak mengandung nilai yang diyakini oleh desainernya.

Sebagaimana mana pintu dalam sebuah bangunan yang memampukan kita berpindah ruang atau kursi yang memampukan kita untuk rehat sejenak dengan duduk. Afordans yang dimampukan oleh artefak tergantung konteks. Afordans berpindah ruang yang diberikan oleh pintu hilang ketika pintu berada di tengah lapangan sepak bola. Atau, afordans kursi menghilang ketika ukurannya terlalu kecil.

Nilai yang disuntikkan ke dalam artefak oleh desainer, tidak selamanya dita’ai oleh penggunaannya. Kursi tidak hanya menjadi tempat duduk, tetapi bisa memberi afordans lain: pijakan untuk “ancik-ancik”.

Begitu juga karya arsitektur sebagai artefak sosial.

Bagaimana orang awam seperti saya melihat arsitektur? Pembacaan saya terhadap beberapa sumber memberikan beberapa tilikan baru. Paling tidak bagi saya. Perspektif ini tidak selalu lepas satu dengan lainnya (mutually exclusive), tetapi mungkin berpilin. Saya ingin membaginya dengan tulisan ini.

Pertama, asitektur adalah heterotopia, kata sebuah sumber yang saya baca. Sumber ini menyebut Michel Foucault. Arsitektur mendeskripsikan ruang dengan kandungan lapisan-lapisan makna atau hubungan dengan tempat lain. Apa yang tertangkap mata tidak bisa mewakili semuanya. Ini merupakan dimensi ruang arsitektur.

Arsitektur adalah seni mengatur ruang dan artefak yang dihasilkan oleh arsitek adalah representasi ruang. Yang direpresentasikan oleh ruang bukan hanya dirinya dari lebih dari itu: struktur sosial, kuasa seorang penguasa, ide-ide tentang kebaikan, dan sebagainya. Karya seorang arsitek tidak pernah kalis dari nilai, kepentingan, dan harapan; yang baik dan yang buruk.

Kedua, karya arsitektur adalah adalah jendela melihat histori manusia. Ini merupakan dimensi temporal arsitektur. Sebagai contoh, bangunan mengajarkan kita bagaimana budaya yang melingkupinya berkembang. Saya juga baca, bagaimana evolusi sebuah situs (lokasi) mengajarkan kepada kita tentang perubahan kota.

Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah menegaskan bahwa kualitas arsitektur tergantung kepada dinasi yang sedang memerintah dan besar kuasanya. Dari artefak peninggalan karya arsitektur, kita bisa mempelajari sejarah yang melingkupinya. Sejarah bukan hanya soal urutan peristiwa, tetapi juga bagaimana peradaban berkembang dan berubah, lengkap dengan argumen yang menyertainya.

Misal, Mengapa pula selain di Istanbul, di Tessaloniki, Yunani, kota kelahiran Atatürk, juga terdapat Hagia Shopia? Atau, mengapa bentuk menara Masjid Al-Aqsha Kudus serupa dengan pura? Selalu ada cerita di baliknya, yang memantik kita menelusur balik, menembus batasan waktu.

Ketiga, arsitektur dapat menjadi alat hegemoni. Ini merupakan dimensi nilai (negatif) arsitektur. Alquran merekam bagaimana bangunan-bangunan megah dikaitkan dengan kesombongan bangsa saat ini. Ada kaum Ad yang tidak acuh dengan Sang Khalik yang dibinasakan dengan hembusan angin yang sangat dingin selama tujuh malam delapan hari (Al-Haqqah 69: 6-8). Begitu juga Firaun dengan kesenangan membuat bangunan besar dan yang berbuat sewenang-wenang (QS Al-Fajr 98:6-11).

Karya aristektur yang dibimbing keserakahan dan pengabaian kepentingan publik, dapat dimasukkan ke dalam dimensi ini. Arsitektur digunakan untuk menghegemoni alam dan kalangan terpinggirkan.

Bagaimana “legenda urban” yang sulit dibuktikan terkait dengan terbakarnya banyak pasar di Indonesia, juga tidak lepas dari sifat hegemonik yang bisa ditawarkan oleh arsitektur, dengan segala macam bungkusnya. Biasanya pasar yang terbakar tersebut (direncanakan) akan digantikan dengan pasar baru.

Contoh lain. Yang terjadi di daerah pendudukan Israel nampaknya tidak bisa dilepaskan dari kecurigaan bagaimana kepentingan politik dimanifestasikan dalam bentuk pemukiman ekslusif dan pagar tinggi. Banyak literatur yang merekam isu ini dengan segala diskusi hangat yang menyertainya.

Keempat, di sisi seberang, arsitektur dapat menjadi pembangun harmoni. Ini merupakan dimensi nilai (positif) arsitektur. Tata ruang di dalam rumah hunian dimaksudkan untuk menjaga harmoni keluarga. Masjid, gereja, pura, candi, atau ruang hijau koa yang ditata dengan sepenuh hati, adalah beberapa contoh lain bagaimana arsitektur bisa mempromosikan harmoni.

Sampai hari ini saya masih mengagumi bagaimana seorang Kristen Protestan dapat manawarkan konsep masjid yang erat kaitannya dengan kemerdekaan negeri ini, Masjid Istiqlal. Arsitek tersebut adalah Frederich Silaban. Masjid pun diposisikan di dekat Gereja Katedral Jakarta yang aslinya sudah berdiri di awal 1800an, sebelum dibangun ulang karena pernah terbakar dan roboh. Itu hanya salah satu contoh simbol harmoni. Hari ini, komplek Masjid Istiqlal sedang direvitalisasi, dan nampaknya harmoni itu tetap dirawat.

Ketika Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, memerintahkan pembangunan Masjid Al-Aqsha di Yerusalem (pada 701) dan perluasan Masjid Nabawi di Madinah (pada 707), Sang Khalifah mengirim permohonan kepada Penguasa Byzantium di Konstantinopel untuk mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk membantu. Permohonan bersambut, Penguasa Byzantium mengirimkan bala bantuan untuk membangun kedua masjid tersebut. Masjid sendiri adalah pusat harmoni, tetapi sejarah pembangunannya juga ternyata penuh harmoni. Kisah ini terekam di Mukaddimahnya Ibnu Khaldun, yang ditulis pada 1377.

Masjid Menara Kudus juga menyimpan cerita yang mirip. Masjid yang dibangun pada 1549 oleh Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan (Sunan Kudus) sangat kental nuansa Hindunya. Banyak cerita yang berkembang di belakangnya. Selain pendekatan dakwah saat ini yang memikirkan budaya setempat, cerita yang saya dengar saat kecil, menunjukkan bahwa saat pembangunan masjid, kawan-kawan Hindu membantu mengumpulkan batu yang diambil dari Kali Gelis yang berjarak sekitar 1,5 km dari masjid. Bahkan sampai hari ini, di daerah Kudus atau Jepara, Muslim pun masih sangat jarang menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan kepada kawan-kawan Hindu. Menurut sebuat cerita, hal ini diperintahkan oleh Sunan Kudus, untuk menjaga harmoni.

Ide arsitektur hijau dan lestari juga bagian tak terpisahkan dari bagaimana harmoni dibangun dengan bantuan arsitektur.

Tentu, masih banyak perspektif lain yang bisa digali. Untuk merangkum keempat perspektif tersebut (4h), saya kumpulkan kata-kata kunci (yang semuanya diawali dengan huruf h) yang bisa mawakilinya. Tentu ini harus dibaca dengan kritis:

  1. Perspektif heterotopia memandang arsitektur yang mengandung unsur hablun/hubungan, hamparan, halangan, hambatan, himpitan.
  2. Perspektif histori arsitektur dapat terkait dengan hunian, himpunan, habitat, haluan, dan hajat.
  3. Perspektif hegemoni mengandung beragam unsur, termasuk hierarki, horor, halusinasi, heboh.
  4. Perspektif harmoni memunculkan harapan, hormat, horizon, hening.

Akhirnya, kepada semua arsitek muda yang hari ini disumpah: perspektif di atas bisa dicatat. Intinya: disadari atau tidak, dinyatakan atau tidak, nilai yang Saudara yakini dan kepentingan yang Saudara punyai akan mempengaruhi setiap karya desain Saudara. Di sini, saya ingin menitipkan pesan: rawatlah nilai-nilai baik dan kepentingan abadi untuk orang banyak. Hindari nilai-nilai buruk dan kepentingan sesaat dan menguntungkan segelintir orang.

Insyaallah, desain yang Saudara hasilkan akan menjadi sumber amal kebajikan yang pahalanya akan terus mengalir kepada Saudara. Jika ini yang Saudara lakukan, saya tidak khawatir, muruah UII akan terjaga dengan sendirinya, karena Saudara telah menjaga maruah pribadi.

Disarikan dari Sambutan Rektor pada Sumpah Profesi Arsitek Program Studi Pendidikan Arsitek Universitas Islam Indonesia, 11 April 2019. Sangkalan, tulisan ini dibuat dari kacamata awam yang mengetahui arsitektur dari observasi, diskusi, dan bacaan yang masih terbatas.

 

 

Universitas Islam Indonesia (UII) terus mengembangkan berbagai bentuk kerjasama dengan berbagai institusi. Kali ini, UII melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Tidak hanya itu, pada kesempatan ini keduanya juga melakukan penandatangan perjanjian kerjasama antara Fakultas Hukum UII dengan Fakultas Hukum dan Syariah UIN Raden Fatah Palembang. Penandatangan MoU dilakukan di Ruang Sidang VIP Gedung GBPH Prabuningrat Rektorat Lt.3 UII, pada Selasa (9/4).

Read more

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mendapat kepercayaan universitas dari negara lain untuk menjalin kerjasama. Kali ini, UII menerima kunjungan delegasi dari Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), pada Rabu (10/4), di Gedung Rektorat UII. Pertemuan ini merupakan upaya kedua belah pihak dalam membentuk kerja sama baru.

Inisiasi kerjasama dilakukan oleh Fakulti Kejuruteraan Pembuatan dari UTeM dengan Faculty of Industrial Technology dari UII dengan kerjasama Panitia Journal of Advanced Manufacturing Technology (JAMT). Pusat Pengurusan Penyelidikan dan Inovasi (CRIM). Dalam pertemuan dilakukan penandatanganan MoU serta mendiskusikan tentang kelanjutan kerjasama dalam bidang penyelidikan dan penulisan jurnal kolaborasi.

Read more